Posted by bramantya on November 8, 2009

Produk kedirgantaraan dalam negeri
Inilah tokoh kedua yang saya janjikan di artikel sebelumnya. Masih mengusung tema yang sama yaitu kedirgantaraan. Tokoh kita kedua ini sekarang (07 November 2009) masih hidup. Sengaja saya ambilkan dari sosok yang masih berkiprah sampai saat ini, nafasnya masih panjang, keringatnya belum kering, pemikirannya masih terus berkembang, sumbangsih sarannya masih terus mengalir dan penanya belum tergantung. Agar kita semua bisa melihat dan meraba dengan indera normal, inilah sosok teladan yang saya cuplik kali ini, Bacharuddin Jusuf Habibie.
Jika Pak Nurtanio penuh dengan kisah heroik bernuansa fisik dan perjuangan pra-kemerdekaan, tangan beliau “kotor” berlepotan minyak pesawat hingga beliau menemui sang-maut saat menjajal sendiri pesawat rancangannya, sebuah kisah inspirasi tanpa mengenal kata menyerah. Maka Pak Habibie ini melukiskan nuansa yang lain, penuh kisah cerdas bernuansa high-tech, pondasi perjuangan beliau lalui berurut lengkap di bangku sekolah formal sampai jenjang tertinggi Doktor Ingenieur serta seabrek penghargaan akademis bergensi lainnya. Hingga saya rasa klop sudah menghadirkan kedua sosok tersebut, ibarat yin dan yang melahirkan keseimbangan modal kesuksesan.
Tentu saja penokohan kita ini terjauh dari perilaku kultus individu. Tiada manusia yang sempurna, hanyasaja sungguh bodoh dan picik jika kemudian mengabaikan keberadaan suri-tauladan sekaliber beliau. Sungguh banyak mutiara berkilau yang memancar dari sosok kita yang satu ini, terlebih dalam hal semangat ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliaulah salah satu mercu suar yang dimiliki Bangsa Indonesia, semoga sinarnya makin terang dan mampu memandu generasi selanjutnya. Semoga beliau mendapatkan akhir penghidupan yang terbaik.
Seperti artikel yang lalu, saya cuplikkan sebuah tulisan karya orang lain dari sini:
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/02/biografi-bj-habibie-bapak-teknologi-dan-demokrasi-indonesia/
Saya tidak perlu merepotkan diri mengumpulkan data detail tentang B.J. Habibie, selain faktor malas juga agar kita bisa menghargai karya orang lain, terlebih jika bisa mengembangkannya (heheheh…ngeles mode ON). Ya sudah selamat menikmati kisah tokoh kita kali ini…siapkan mental baca anda! Read the rest of this entry »
Posted in intermezzo | Leave a Comment »
Posted by bramantya on November 7, 2009
Publikasi pertama artikel ini ada di belajarislam[dot]com

Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis
Written by Muhammad Agung Bramantya
Monday, 02 November 2009 21:58
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*)
Ikatlah ilmu dengan tulisan (**)
Sahabat belajarIslam,
Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui berurut dan utuh jika ingin menjadi manusia unggul, umat kebanggaan dan bangsa gemilang. Urutan yang linier dan utuh inilah yang hilang dari bangsa kita. Setelah sukses berbusa-busa bersitegang urat leher dengan budaya lisan (ngomong, ngobrol, debat, diskusi, ceramah, kuliah, ngrumpi) tiba-tiba langsung meloncat ke budaya audio-visual dan multimedia (teve, film, musik, dlsb) lalu kini termehek-mehek dengan budaya cyber. Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Posted by bramantya on November 7, 2009
Tempo hari pernah saya sampaikan “deret selebritis fluid mechanics” disini. Hari ini saya ingin mengulas dua tokoh nasional di bidang dirgantara Indonesia. Kenapa Tokoh Nasional dan kenapa bidang Dirgantara? Karena saya sangat menyukai bidang Kedirgantaraan, lebih khusus lagi tentang perancangan pesawat terbang dan aerodinamika, dan saya lebih memilih tokoh nasional yang secara budaya, geografis dan latar belakang relatif sama dengan saya, dibanding tokoh dunia semisal Wright bersaudara. Sehingga jikalau ingin meniru dan menjadikan sumber inspirasi tidaklah terlalu muluk-muluk, sebab beliau-beliau adalah putra-putra Indonesia, sama dengan saya dan anda. Dan jamannya tidaklah jauh berbeda, masih di sebutaran abad 20. Bahkan jika ingin didetailkan lagi, beliau juga makan nasi, minum dari sumber air di tanah air, juga menghadapi problematika yang sama sesama bangsa sendiri. Jadi ya…mirip-miriplah dengan keadaan kita-kita sekarang ini. Sehingga jika beliau-beliau bisa, kenapa kita tidak?
Tokoh pertama yang ingin saya hadirkan adalah seorang perancang pesawat andalan Indonesia. Kaidah merancang beliau tentu masih jauh dari sistem komputasi, simulasi, numerik dan hal-hal canggih lainnya di abad 21 ini. Tapi semangat, visi, misi, dedikasi dan karya beliau seakan melampaui jamannya. Hal itulah yang ingin kita bidik di era sekarang ini. Semangat kejuangan, profesionalisme dan dedikasi maha hebat bagi diri dan orang disekitarnya. Sebagai seorang manusia, tentu tidak ada yang sempurna, sehingga kita harus bijak didalam mensikapi pribadi, mental, akhlak dan perilaku seorang tokoh. Dan inilah dia sang maestro pesawat, Nurtanio Pringgoadisuryo.
Saya hanya mengutip artikel dari satu sumber saja, yang saya anggap mewakili sebagian besar sisi kehidupan dirgantara beliau. Silakan pembaca mengklik link berikut ini untuk membaca artikel aslinya:
http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9/blog-umum-mainmenu-82/57-nurtanio-perancang-pesawat-andalan-indonesia
Saya yakin penulis aslinya telah mengumpulkan rujukan dari berbagai sumber. Dan saya hanya menuliskan ulang saja. Artikel ini hanya bersifat review singkat, jauh dari kesan bertele-tele dan berkepanjangan dengan detail secukupnya. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan kompleks, silakan membaca buku dan artikel terkait sosok Nurtanio Pringgoadisuryo, cukup banyak beredar di internet terlebih di toko buku dan perpustakaan. Selamat membaca… Read the rest of this entry »
Posted in Kisah Fluida | 1 Comment »
Posted by bramantya on November 1, 2009
sebuah artikel dari belajarislam[dot]com, semoga bermanfaat.
TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan [1], terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele remeh-temeh tersebar di masyarakat yang sangat kuat budaya verbal-nya ini ternyata mengandung perkara yang berat dalam timbangan syariat. Berikut kami paparkan dua permasalahan:
Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Posted by bramantya on October 30, 2009

made in ibuuk...
Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status sebagai seorang ayah dari seorang anak, sebuah status yang biasa-biasa saja jauh dari kesan “wah” dan “prestisius”. Profesi seorang Bapak adalah profesi yang juga biasa-biasa saja, jauh dari rasa decak kagum dan tepukan penghargaan.
Read the rest of this entry »
Posted in Anak-anak | Leave a Comment »
Posted by bramantya on October 28, 2009
Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari majalah elfata edisi oktober 2008. Lumayan jadul sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin gimana gitu. Selamat membaca!
http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&task=view&id=265&Itemid=91
Masjid Turki di Negeri Sakura

Tokyo Camii Mosque (tampak luar)
Hari jum’at itu, alhamdulillah, tugas-tugas kampus telah selesai. Mumpung hari Jum’at, saya mau jalan-jalan ke Tokyo mengunjungi Baitullah yang sudah lama tidak saya kunjungi. Jepang berbeda dengan Indonesia, di sini susah cari masjid. Adanya masjid cuma di kota-kota besar saja seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, Kyoto, dan sebagainya. Read the rest of this entry »
Posted in my Diary | Leave a Comment »
Posted by bramantya on October 20, 2009
artikel ini adalah re-posting dari website belajarislam[dot]com

GEMES. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “kebelakang”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.
Berikut realitanya:
“Infotainment” memberitakan perceraian sang-idola. “Reality Show” mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. “Talk Show” lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. “Masihkah Kamu Mencintaiku” menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas layanan istri. “Take Me/Him Out Indonesia” menjadi ajang cari jodoh bikin heboh. Dalam setiap episode “Take Me Out“, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang mencari jodoh. Untuk “Take Him Out“, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. Public Relation dan Promotion Fremantle Media di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses Take Me/Him Out kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. Infotainment dan reality show model “Termehek- mehek” sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu. Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | 4 Comments »
Posted by bramantya on October 19, 2009

Entah kenapa, istilah “tak gendong kemana-mana” menjadi poluler. Mungkin terkait dengan momentum sang-empunya meninggal dunia disaat diri dan karyanya naik daun. Atau memang begitulah ”selera pasar” pada saat itu pas cocok dengan istilah itu. Yang pasti istilah itu menari-nari di kepalaku beberapa saat yang lalu. Lalu teringatlah diriku akan isi tas ransel yang selalu saya gendong bolak-balik apartemen – kampus. Apakah itu?
Selain pernak-pernik alat tulis standard, belakangan ini tas ransel saya berisi dua buku yang tebal, baik tebal dari sisi fisiknya maupun tebal dari sisi materinya. Begimane tidak tebal, lha wong isinya sesuatu yang fantastis bagi saya, yaitu: Read the rest of this entry »
Posted in Kisah Fluida | Leave a Comment »
Posted by bramantya on October 8, 2009

Hari ini, kami mengalami suatu pengalaman yang baru, yaitu diterjang angin topan. Jepang adalah salah satu Negara yang rutin disapa oleh gejala alam semisal gempa bumi, tsunami dan angin topan. Sehingga Negara dan rakyatnya harus siap sedia selalu dengan berbagai caranya. Mungkin hal inilah yang membuat mereka tahan banting dan survive di dunia yang keras, bahkan menjadi lecutan tersendiri untuk selalu maju dan terus layak dimata dunia.
Read the rest of this entry »
Posted in my Diary | Leave a Comment »
Posted by bramantya on October 7, 2009

Tahun ini grup riset kami (saya sebagai leader) merambah area baru, yaitu mempelajari shock-effect pada functional magnetic fluid (perkenalan kepada fluida ini saya urai di artikel sebelumnya). Ide nya berasal dari seberapa besar efek redam dari fluida pintar ini terhadap impact/shock force (beban kejut). Aplikasi futuristiknya di arena militer sebagai baju anti peluru yang nyaman, hehehe…kok bisa? Begini critanya.
Sudah diketahui bahwa functional magnetic fluid mempunyai efek peredam. Lha kalo efek peredalam ini diperbesar, bisa menahan proyektil peluru sekalipun (mungkinkah?, saya harap begitu). Bayangan mudahnya, coba anda bayangkan segelas air kemudian anda celupkan sebutir kelereng, maka perlahan (atau cepat ?) kelereng itu akan turun ke bawah. Lalu alihkan bayangan anda, kini ganti segelas air dengan segelas functional magnetic fluid (misal, magnetorheological fuid – fluida magnet-reologi –), lalu kelereng diganti dengan kelereng dari besi. Maka berdasarkan eksperimen, kelereng besi itu akan terhenti ditengah-tengah fluida magnet-reologi ketika dikenai medan magnet. Dan jika medan magnet diperbesar, fluida magnet-reologi berubah menjadi padatan (solid), yang dimungkinkan laju pesat pucuk oyektil peluru-pun mampu tertahan di dalamnya. Selipkan saja cairan pintar itu dibaju sembari menambah aksesoris pembangkit medan magnet, jadilah baju tahan peluru. Huebat bukan?
Itulah ide muluk-muluknya, lalu untuk mewujudkannya diperlukan serangkaian experimen sebagai kajian empirik, berhelai lembar penurunan rumus sampai rambut “keriting dan rontok” sebagai kajian analitis dan sekian deret coding yang kadang bikin “muntah” jika pengen melengkapi dengan kajian numerik. Ih…ngeri…! Ya iyalah, itulah harga teknologi dan pengetahuan yang terkadang harus dibayar oleh penemu dan penelitinya. Tapi yang melewati dengan tahap itu “baik-baik saja” juga banyak, bahkan lebih banyak
.
Read the rest of this entry »
Posted in Kisah Fluida | Leave a Comment »