<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BRAMANTYA's center</title>
	<atom:link href="http://bramantya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bramantya.wordpress.com</link>
	<description>research and personal web-pages</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 10:50:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bramantya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/726fe5c260dd9cfe3967e94a6d36b020?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BRAMANTYA's center</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 10:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi pertama artikel ini ada di belajarislam[dot]com


Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis
Written by Muhammad Agung Bramantya
Monday, 02 November 2009 21:58
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*)
Ikatlah ilmu dengan tulisan (**)
Sahabat belajarIslam,
Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=469&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Publikasi pertama artikel ini ada di <a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/726-jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis" target="_blank">belajarislam[dot]com</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/726-jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis" target="_blank"><br />
</a><img class="aligncenter size-medium wp-image-470" title="qq3mw" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/qq3mw.jpg?w=300&#038;h=240" alt="qq3mw" width="300" height="240" /></p>
<h1><span style="color:#0000ff;">Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis</span></h1>
<p>Written by Muhammad Agung Bramantya</p>
<p>Monday, 02 November 2009 21:58</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan </em>(*)</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ikatlah ilmu dengan tulisan</em> (**)</span></p></blockquote>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, <em>audio-visual</em>, <em>multimedia</em> dan <em>cyber</em>. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui <strong>berurut dan utuh</strong> jika ingin menjadi manusia unggul, umat kebanggaan dan bangsa gemilang. Urutan yang linier dan utuh inilah yang hilang dari bangsa kita. Setelah sukses <em>berbusa-busa bersitegang urat leher </em>dengan budaya lisan (ngomong, ngobrol, debat, diskusi, ceramah, kuliah, ngrumpi) tiba-tiba langsung meloncat ke budaya audio-visual dan multimedia (teve, film, musik, dlsb) lalu kini <em>termehek-mehek</em> dengan budaya <em>cyber</em>.<span id="more-469"></span></p>
<p>Cobalah tengok masyarakat/bangsa yang dikatakan maju dan sukses saat ini (secara materi/duniawi), mereka pasti sangat kental dengan budaya baca dan tulis. Contohnya Negara Jepang dan sebagian Negara maju di Eropa (Jerman, Perancis, dll), masyarakatnya selalu mengisi hari dan waktu luang mereka dengan membaca, baik saat antri di loket, di perjalanan KA, bus atau pesawat, menunggu di lobi, menunggu datangnya kendaraan umum, di loby, jeda kuliah, dan semua waktu mereka hampir terisi dengan kegiatan membaca. Lalu tulisan, sekian banyak karya ilmiah dan non-ilmiah mereka berjibun di media-media tulisan lokal maupun internasional.</p>
<p>Beda dengan kita, cobalah tengok ditempat-tempat seperti yang dicontohkan diatas. Apa yang mereka lakukan? <em>Ngobrol</em> (budaya lisan), nonton tv atau denger musik (budaya audio-visual, multimedia) bahkan asyik memainkan <em>gadget </em>berinternet (budaya cyber –yg paling-paling cuma chatting, FB, FS dan semisalnya-). Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada yang membaca apalagi menulis artikel.</p>
<p>Bahkan budaya <em>cyber </em>di bangsa kita dengan <em>seabrek gadget </em>canggih sebagai pelengkapnya cukup merisaukan. Bangsa yang “<em>dinilai hampir gagal</em>” ini cukup fantastis dalam membukukan penjualan <em>gadget</em> semisal <em>blackberry </em>dan mobile-phone lainnya, konon menempati rangking ke-empat dunia. Sehingga bangsa ini dengan penduduk berjibun menjadi bangsa “<em>tester</em>” bagi produk baru. Dan status sebagai bangsa “<em>pangsa pasar</em>“ inilah yang selalu ingin dipertahankan para produsen dan bisnis-man itu.</p>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>Itulah keprihatinan kita, jika kemudian mengaca pada umat Islamnya, lebih <em>ngenes</em> lagi. Tradisi belajar <em>tholabul-ilmi-syar’i </em>yang kental dengan membaca dan menulis seakan hilang ditelan jaman. Cukup sulit kita menemui tulisan berwawasan Islam as-shahih lahir dari pena-pena muslimin anak bangsa kita. Tebaran pandangan kita keseharian juga sulit terantuk pada sosok muslim yang gemar membaca bacaan Islami. Padahal Islam yang mulia sudah <em>mewanti-wanti</em> pentingnya membaca dan menulis dalam tradisi keilmuan dan keseharian. Kutipan Firman Allah dan Sabda Rasulullah diawal tulisan diatas sangat cukup sebagai alasan (dalil). Bahkan “<em>bacalah</em>” adalah wahyu pertama yang sampai ke junjungan Nabi <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em>. Silakan merujuk pada buku tafsir yang terkenal semisal Ibnu Katsir dalam mentafsirkannya.</p>
<p>Faktanya, Islam pernah gemilang dan bercahaya menaungi sepertiga bola dunia. Peradaban umat Islam kala itu sangat kental dengan bacaan, tulisan dan pembelajaran. Ulama sekelas Ibnu Jarir at Thabari menulis rata-rata 14 halaman per harinya jika ditinjau dari seluruh umur beliau. Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah segudang yang sampai ke tangan kita, belum yang hilang/tidak ketemu. Ulama terkenal dari keempat madzhab dikenal tidak “<em>omong doang</em>”, tapi dikenal dengan buku dan karya tulis mereka yang monumental. Bahkan Al Qur’an Kalamullah dan Hadits yang mulia sampai ke pelukan kita saat ini melalui media tulisan. Konon sebagian ulama besar Islam sampai hilang atau berkurang penglihatannya karena saking banyaknya membaca.</p>
<p>Begitulah peran strategis budaya membaca dan menulis. Ianya tidak akan terpisah dari kemajuan suatu zaman, keunggulan seorang insan. Membaca dan menulis adalah <em>sunnatullah </em>yang mengiringi keberhasilan umat. Artikel ringkas ini hanyalah mengingatkan kita…ya…saya dan anda untuk melecutkan semangat membaca dan menulis. Mungkin kita sudah membaca (<em>lha ini sedang membaca artikel ini</em>) dan menulis. Tapi level membaca dan menulis kita masih sangat sangat rendah. Mau bukti? <em>Hayo… berapa halaman bacaan yang sudah kita baca, berapa halaman tulisan karya/catatan kita, ditotal terus dibagi dengan jumlah hari kita hidup</em>. Saya masih ragu hasilnya lebih dari 1 halaman, terutama soal tulisan…terbukti?</p>
<p>Lalu apa guna sebuah ayat suci dan sebuah hadits mulia tersebut diatas? Berlalu tanpa bekas dan atsar di diri kita? Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Mulailah kecanduan membaca, insyaAllah bermanfaat. Mulailah gandrung menulis, insyaAllah tidak rugi. Semoga kecanduan baca dan kegandrungan menulis anda menular kepada orang di dekat anda, dan terus menjalar ke masyarakat bangsa kita hingga Allah turunkan berkah diatasnya.</p>
<p><em>Selamat membaca dan menulis&#8230;</em></p>
<blockquote><p>(*) Qur’an surat Al Alaq: 1</p>
<p>(**) Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216; Abdil Barr dalam al-Jaami&#8217; (1/306, no. 395), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallanhu&#8217;anhu. Lihat takhrij lengkapnya dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah (no. 2026) dan Shahiih al-Jaami&#8217;ish Shaghiir (no. 4434).</p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=469&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/qq3mw.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">qq3mw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh Dirgantara Nusantara: Nurtanio Pringgoadisuryo</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Fluida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Tempo hari pernah saya sampaikan &#8220;deret selebritis fluid mechanics&#8221; disini. Hari ini saya ingin mengulas dua tokoh nasional di bidang dirgantara Indonesia. Kenapa Tokoh Nasional dan kenapa bidang Dirgantara? Karena saya sangat menyukai bidang Kedirgantaraan, lebih khusus lagi tentang perancangan pesawat terbang dan aerodinamika, dan saya lebih memilih tokoh nasional yang secara budaya, geografis dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=459&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="merancang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg?w=300&#038;h=182" alt="merancang" width="300" height="182" /></a>Tempo hari pernah saya sampaikan &#8220;deret selebritis fluid mechanics&#8221; <a href="http://bramantya.wordpress.com/2009/05/27/deret-selebritis-fluid-mechanics/" target="_blank">disini</a>. Hari ini saya ingin mengulas dua tokoh nasional di bidang dirgantara Indonesia. Kenapa <strong>Tokoh Nasional </strong>dan kenapa bidang <strong>Dirgantara</strong>? Karena saya sangat menyukai bidang Kedirgantaraan, lebih khusus lagi tentang perancangan pesawat terbang dan aerodinamika, dan saya lebih memilih tokoh nasional yang secara budaya, geografis dan latar belakang relatif sama dengan saya, dibanding tokoh dunia semisal Wright bersaudara. Sehingga jikalau ingin meniru dan menjadikan sumber inspirasi tidaklah terlalu <em>muluk-muluk</em>, sebab beliau-beliau adalah putra-putra Indonesia, sama dengan saya dan anda. Dan jamannya tidaklah jauh berbeda, masih di sebutaran abad 20. Bahkan jika ingin didetailkan lagi, beliau juga makan nasi, minum dari sumber air di tanah air, juga menghadapi problematika yang sama sesama bangsa sendiri. <em>Jadi ya…mirip-miriplah dengan keadaan kita-kita sekarang ini. </em>Sehingga jika beliau-beliau bisa, kenapa kita tidak?</p>
<p>Tokoh pertama yang ingin saya hadirkan adalah seorang perancang pesawat andalan Indonesia. Kaidah merancang beliau tentu masih jauh dari sistem komputasi, simulasi, numerik dan hal-hal canggih lainnya di abad 21 ini. Tapi semangat, visi, misi, dedikasi dan karya beliau seakan melampaui jamannya. Hal itulah yang ingin kita bidik di era sekarang ini. Semangat kejuangan, profesionalisme dan dedikasi maha hebat bagi diri dan orang disekitarnya. Sebagai seorang manusia, tentu tidak ada yang sempurna, sehingga kita harus bijak didalam mensikapi pribadi, mental, akhlak dan perilaku seorang tokoh. Dan inilah dia sang maestro pesawat, Nurtanio Pringgoadisuryo.</p>
<p>Saya hanya mengutip artikel dari satu sumber saja, yang saya anggap mewakili sebagian besar sisi kehidupan dirgantara beliau. Silakan pembaca mengklik link berikut ini untuk membaca artikel aslinya:</p>
<p><a href="http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9/blog-umum-mainmenu-82/57-nurtanio-perancang-pesawat-andalan-indonesia" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9/blog-umum-mainmenu-82/57-nurtanio-perancang-pesawat-andalan-indonesia</span></a></p>
<p>Saya yakin penulis aslinya telah mengumpulkan rujukan dari berbagai sumber. Dan saya hanya menuliskan ulang saja. Artikel ini hanya bersifat review singkat, jauh dari kesan <em>bertele-tele</em> dan berkepanjangan dengan detail secukupnya. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan kompleks, silakan membaca buku dan artikel terkait sosok Nurtanio Pringgoadisuryo, cukup banyak beredar di internet terlebih di toko buku dan perpustakaan. Selamat membaca…<span id="more-459"></span></p>
<h2><span style="color:#0000ff;"><strong>Nurtanio perancang pesawat andalan Indonesia</strong></span></h2>
<blockquote><p>Ditulis oleh Edi Nurprasetya</p>
<p>Selasa, 18 Maret 2008 11:13</p>
<p>Ditengah kemunduran bangsa kita sekarang ini ada hal yang harus diingat oleh mereka yang mengaku warga negara Indonesia. Yaitu kebanggaan suatu bangsa, walaupun bagi mereka yang apatis dan pesimis akan berkata ,“<em>buat apaan sih?</em>” Karena kita pecinta kedirgantaraan maka yang patut kita kenang adalah seorang perintis industri penerbangan yang dikenal orang sebagai sosok pekerja keras, rendah hati dan mencintai pekerjaannya. Mudah-mudahan generasi dibawah penulis masih pernah mendengar nama Nurtanio Pringgoadisuryo. Nama ini wajib mendapat tempat yang layak pada sejarah Republik Indonesia. Sepantasnya beliau bersama Wiweko Supono mendapat Bintang Mahaputra tertinggi karena jasa rintisannya menjadi batu pijakan untuk industri kedirgantaraan Indonesia.</p>
<p>Nurtanio Pringgoadisuryo lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923. Masa hidup beliau terakhir tercatat 21 Maret 1966, usia yang relatuf singkat 43 th. Beliau adalah perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang <em>Zogling NWG</em> (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama <em>all metal</em> dan <em>fighter</em> Indonesia yang dinamai <strong>Sikumbang</strong>, disusul dengan <strong>Kunang-kunang </strong>(bermesin VW) dan <strong>Belalang</strong>, serta <strong>Gelatik</strong> (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.</p>
<p>Cita-citanya sederhana, namun belum ada yang mewujudkannya yaitu keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya. Untuk itu, disiapkanya pesawat <strong>Arev (Api Revolusi), </strong>dari bekas rongsokan Super Aero buatan Cekoslowakia yang tergeletak di Kemayoran. Karena dedikasinya yang tinggi ia mencoba sendiri pesawat rancangannya, saat itulah Nurtanio gugur dalam penerbangan uji coba Arev. Bersama beliau turut gugur Kolonel Soepadio yang kini diabadikan sebagai nama bandara di Pontianak. Namanya, pernah melekat pada industri yang dirintisnya saat pemerintahan Soeharto merubah nama Lapip menjadi Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio)</p>
<p>Hal yang menambah rasa hormat penulis pada beliau adalah pemilihan jenis pesawat yang tepat untuk kondisi topografis dan sosial ekonomi rakyat Indonesia, Nurtanio banyak merancang pesawat yang tepat guna untuk kemaslahatan rakyat mulai jenis angkut ringan (general aviation) sampai <em>cropduster</em> yang efektif untuk pertanian, fogging nyamuk dll. Penulis yakin jika beliau masih hidup akan merancang water bomb untuk kebakaran hutan yang bisa menyerok air dari empang. Just kidding, cuman empangnya aje udah jadi BTN terus nyerok air dimana ya? Pesawat angkut ringan penulis pikir adalah solusi paling tepat untuk Indonesia yang topografinya membentang seluas Amerika namun ¾ wilayahnya lautan. Jika Amerika bisa membentangkan highway keseluruh sudut negeri itu Indonesia tidak bakal bisa karena krisis keuangan yang parah. Ditambah dengan faktor alam yang akrab dengan bencana penulis mengkhawatirkan keamanan moda transport darat.</p>
<p>Eksperimen Nurtanio yang sebenarnya sangat berguna di Indonesia yang agraris adalah modifikasi PZL Wilga (Gelatik) untuk cropduster, karena terbukti pernah mendongkrak hasil pertanian yang terserang hama. Ingat Indonesia pernah menjadi pengekspor beras masa orde baru, hal yang tidak akan terulang saat ini. <em>Cropduster</em> juga pernah dan bisa diimprovisasi untuk penanggulangan wabah akibat nyamuk baik itu demam berdarah, malaria atau chikungunya, hanya di Indonesia&#8230;</p>
<p>Cropduster bisa menggunakan sayap tetap maupun sayap putar, penulis teringat ketika masih training Commercial License di daerah San Joaquin Valley betapa padatnya daerah pertanian disana dengan Grumman Agcat, Cessna Agtruck, Piper Pawnee sampai heli yang nggak hafal jenisnya bahkan sampai malam hari!</p></blockquote>
<div id="attachment_461" class="wp-caption aligncenter" style="width: 385px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg"><img class="size-full wp-image-461" title="belalang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg?w=375&#038;h=254" alt="belalang" width="375" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Belalang</p></div>
<div id="attachment_462" class="wp-caption aligncenter" style="width: 385px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg"><img class="size-full wp-image-462" title="kunang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg?w=375&#038;h=254" alt="kunang" width="375" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Kunang-kunang</p></div>
<div id="attachment_463" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg"><img class="size-full wp-image-463" title="Gelatik" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg?w=300&#038;h=155" alt="Gelatik" width="300" height="155" /></a><p class="wp-caption-text">Gelatik</p></div>
<blockquote><p>Satuan Udara Pertanian (Satud Tani) sebenarnya adalah jawaban pemerintah untuk hal-hal yang disebut diatas. Sebenarnya bisa saja dengan pesawat murah meriah mengubah pesawat ringan rongsokan menjadi armada pemburu hama andal dengan modal ramean sesuai dengan luasan sawahnya sehingga terasa murah untuk petani. Jika pemerintah lewat industri pesawat menyediakan pesawatnya maka koperasi petani menanggung bensin dan obat hamanya. Keuntungan cropdusting adalah melokalisir migrasi serangan hama sehingga tidak berpindah ke daerah / provinsi lain seperti yang terjadi selama ini. Disamping itu dosis / takaran semprotan bisa diatur sehingga mengurangi pencemaran lingkungan dan mencegah peningkatan resistensi hama dan penyakit terhadap obat. Penulis melihat inilah yang dicermati Nurtanio si perintis penggunaan pesawat untuk banyak hal di Indonesia.</p>
<p>Pada masa perintisannya, Mayor Udara Nurtanio bersama 15 stafnya tahun 1953 dalam perbengkelan kecil Seksi Percobaan Lapangan Udara Husein Sastranegara, berhasil membuat sejumlah pesawat terbang diantaranya, pesawat serba logam (all metal) COIN (Counter-insurgency-anti gerilya) yang diberi nama Si Kumbang 1 Agustus 1954. Pesawat rancangan beliau lainnya yang pernah dibuat, Belalang 85 (1958) yang kemudian pesawat latih ini disempurnakan dan diproduksi sebagai Belalang 90. Pesawat latih ini digunakan untuk mendidik para calon penerbang Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Pada tahun yang sama, Nurtanio dan para asistennya berhasil membuat pesawat olah raga Kunang 25 bermesin mobil Volkswagen. Ia juga merintis membuat prototipe helikopter Kepik dan Manyang serta girokopter Kolentang.</p>
<p>Seandainya saja industri pesawat kita menyediakan pesawat Counter Insurgency yang murah, efektif dan efesien maka negara kita tidak lagi didikte oleh kekuatan luar melalui separatisme. Ini hanya salah satu titik penting kemandirian suatu negara sehingga dihormati oleh kawan disegani oleh lawan. Tidak seperti TNI-AU yang kelabakan akibat embargo dan larangan menggunakan pesawat untuk pengamanan dalam negeri dari ancaman separatisme, TNI-AD sudah lebih dulu sadar hal ini dengan re-powering panser-panser tua lengkap dengan suplai onderdilnya karena Inggris juga mengembargo suku cadang tank-tanknya. Ternyata hasil modif Bengkel Pusat Peralatan Angkatan Darat ini justru enak untuk memasuki daerah yang sukar dijangkau oleh tank buatan Inggris. Selain lebih lincah dan ringan panser yang berpenggerak roda juga tepat untuk medan offroad lunak dan becek yang tidak bisa dilewati tank.</p>
<p>Agak nglantur sebentar, penulis bertanya-tanya apa sih susahnya merancang pesawat sederhana, murah, mudah pemeliharaanya, wong membuat yang njelimet sudah bisa? Gengsi? Ngapain gengsi dengan situasi ekonomi yang parah? Toh dunia luar sudah tahu onderdil Airbus dibuat di Indonesia, kita mampu membuat pesawat canggih, hanya saja untuk pemenuhan transport udara saat ini tidak tepat menggunakan barang mahal, karena tidak selamanya harga menentukan mutu. Dengan teknologi sederhana onderdil akan mudah didapatkan, seperti pengalaman penulis menerbangkan pesawat eksperimental fiberglass FASI Pordiga Swayasa membuktikan hal ini. Mengapa tidak dirancang pesawat yang mengandung onderdil otomotif dan menggunakan BBM mobil (mogas) yang memenuhi uji kelaikan sesuai standar yang berlaku. Jika dibuat produksi massal tentu akan menekan harga per unit sehingga dapat dijangkau masyarakat terutama didaerah yang terpencil.</p>
<p>Sesuai dengan wangsit hitungan penulis menunjukkan penerbangan pengumpanlah, bisnis yang menguntungkan asal menggunakan pesawat komuter ringan murah meriah sekelas Twin Otter sampai kelas F-27 bukannya pesawat berbadan sedang ala B737 keatas. Jika maskapai penerbangan dalam negeri bekerja sama dengan industri pesawat memakai pesawat murah yang dimaksud maka cukup pasar domestik tujuannya. Tidak usah berpikir untuk ekspor karena cukup sudah penghinaan negara maju yang ogah mensertifikasi pesawat Indonesia demi proteksi produk mereka. Kalau perlu malah kita yang harus memproteksi produk-produk dalam negeri. Masalah rasa nasionalisme mungkin berperan disini, toh bangsa Jepang dan India sudah melakukannya puluhan tahun lalu.</p>
<p>Pada perjalanannya Nurtanio bersama Wiweko Supono mantan boss Garuda adalah perancang terhebat di sejarah kedirgantaraan Indonesia. Sejak sekolah di Sekolah Teknik di Surabaya ia sudah merintis teknik rancang pesawat kecil-kecilan dengan mendirikan Junior Aero Club. Beliau juga jenis orang yang ngotot mencari ilmu kedirgantaraan yang saat itu “monopoli’ kulit putih, majalah Vliegwereld salah satu sumber ilmu yang dimilikinya adalah bukti kengototannya sebab saat itu agak sulit mendapatkannya karena harus impor dari Belanda. Junior Aero Club tambah berkibar dengan hadirnya pilot didikan Belanda, Iswahyudi. Jiwa perintis beliau nampak dalam Junior Aero Club selain sebagai pendirinya juga menularkan kecintaan terhadap dirgantara dikalangan pemuda saat itu</p>
<p>Down to earth alias membumi itulah yang begitu nyata pada setiap rancangannya, transportasi murah namun aman adalah ide dasar yang harus dijiwai oleh industri kedirgantaraan. Kenapa sih membuat pesawat yang mahal dan susah dioperasikan oleh Indonesia yang terus menerus krismon seperti sekarang? Karena menurunkan tarif penerbangan rasanya bukan solusi untuk transportasi dalam negeri seperti sekarang ini. Penurunan tarif hanya akan mengorbankan aspek keselamatan penerbangan, emang pesawat bisa minggir kala mogok mesinnya? Bagaimanapun penerbangan berbeda dengan moda darat seperti bus yang pemiliknya bisa masa bodoh menggunakan onderdil kelas dua untuk pemeliharaannya. Hanya dengan produksi dalam negeri yang menggunakan bahan dalam negeri juga yang menjadi solusi mahalnya tarif penerbangan.</p>
<p>Marsekal Muda (Purn) Salatun pada Majalah Angkasa mengatakan :</p>
<p><em>Bagi saya pribadi, keharusan bangsa kita untuk dapat membuat pesawat dan piranti lainnya didasarkan alasan filosofis: bukankah definisi bagi manusia adalah, &#8220;a tool-making animal?&#8221; Jadi selama kita baru merupakan &#8220;a tool-importing animal&#8221; kita belum menjadi manusia!</em></p>
<p>Kambing hitam mahalnya seluruh ongkos di Indonesia karena orang Indonesia yang masih bangga menjadi “Tool Importing Animal”. Penulis yakin jika terus menerus demikian negara kita akan berantakan. Penulis selalu berdebat dengan rekan baik sesama penerbang maupun non penerbang bahwa moda transportasi yang paling ideal di Indonesia adalah moda udara. Dalam tulisan penulis selalu mempromosikan betapa andalnya penerbangan komuter murah untuk mendongkrak roda perekonomian negeri Sedihnya justru dari kalangan pelaku kedirgantaraanlah tampak setumpuk hambatan baik yang nyata maupun penampakan. Jika saja spirit Nurtanio masuk ke jiwa penerbang dan pelaku industri penerbangan kita maka ide membuat transportasi udara menjadi moda yang efektif, efesien, murah dan paling aman menjadi kenyataan.</p>
<p>Jiwa industri Nurtanio-lah yang relevan pada situasi krisis multi dimensi Indonesia saat ini adalah kebersahajaannya dalam mencari bahan-bahan / material pesawat rancangannya. Beliau pernah membuktikan dengan bahan-bahan disekitar kita mampu membuat pesawat yang laik terbang sesuai dengan standar yang ada. Seperti pada glider uji bakat (aptitude test) NWG-1 kayu jejamu dipakai untuk mengganti spruce sedangkan kain linen pembalut sayap diganti dengan kain belacu yang murah dan mudah didapat. Bahkan ada selentingan yang entah benar atau tidak beliau pernah mengambil kawat jemuran di asrama prajurit untuk penahan sayap. Diatas segalanya penulis bertanya mengapa harus pake produksi luar negeri sih untuk melayani penerbangan kita?</p>
<p>Marsda Salatun menambahkan pada Majalah Angkasa sebagai berikut :</p>
<p><em>Merenungkan kembali jalan hidup Nurtanio yang kukenal mulai dari seorang aero-modeller hingga menjadi pejabat resmi yang memimpin Lapip, maka Nurtanio adalah tetap Nurtanio. Pekerja keras, tidak banyak omong (bombastis), rendah hati, sopan santun, serta bekerja dengan serba apa adanya dengan biaya rendah (low cost). Pesawat-pesawat yang diciptakannya memanfaatkan komponen dan suku cadang yang ditemukan di berbagai gudang yang tak terpakai. Gaya pendekatan yang serba rasional, tidak muluk-muluk dan down-to-earth, sesuai dengan kondisi negara yang sejak awal kemerdekaan praktis tidak pernah ideal hingga sulit menciptakan kontinuitas dan konsistenitas. Tetapi gaya Nurtanio yang realistis juga, yang menyebabkan dirinya kurang dihargai karena dianggap tidak bisa mengikuti arus megalomania.</em></p>
<p>Berdasarkan pengalaman masuk ke daerah terisolasi Aceh saat tanggap bencana tsunami penulis berpendapat untuk menjangkau daerah terisolasi pada tanggap bencana hanya mobilitas udara yang menjadi jawabannya. Hal ini yang mengusik pikiran penulis setiap menyimak berita sulitnya penanggulangan bencana ditanah air. Dropping bantuan akan dapat cepat dikerjakan dari udara ketimbang menembus hutan, gunung yang rawan bencana susulan seperti longsoran, pengaturan distribusi dapat dikerjakan oleh TNI yang berkualifikasi Pandu Udara (Pathfinder) atau Pengendali Pangkalan. Sedangkan untuk daerah yang benar-benar sulit dijangkau oleh sayap tetap bisa dilakukan oleh sayap putar. Semua mudah, murah dan cepat jika gotong royong kembali dihidupkan, mengapa harus menggunakan ongkos yang besar?</p>
<p>Penulis juga berpikir bagaimana jika ide para perintis penerbangan seperti Nurtanio ini ditanamkan pada calon penerbang di sekolah-sekolah terbang, supaya jangan sampai pikiran mereka yang cemerlang diambil oleh para jiran yang sudah mencuri sekian banyak gagasan dan ide para pemikir Indonesia seperti saat ini. Paling tidak potensi sumber daya manusia kita sekarang semestinya bisa merealisasikan suatu konsep industri pesawat komuter dan pertanian yang murah dengan kehandalan bersaing. Untuk melangkah ke arah itu mungkin diperlukan pemikiran yang bijak dari para pemimpin bangsa ini. Agar suatu saat pengembangan teknologi yang kita lakukan dapat lebih menyentuh seluruh kehidupan masyarakat kita. Jadi mengapa tidak, kalau potensinya ada dan menunjang, pesawat komuter dan pertanian kita kembangkan lagi dengan spirit Nurtanio. Saya memimpikan industri pesawat terbang yang sederhana dan murah tapi andal, tepat guna, berhasil guna, untuk Indonesia.</p></blockquote>
<div id="attachment_464" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg"><img class="size-medium wp-image-464" title="crop duster1" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg?w=300&#038;h=183" alt="crop duster1" width="300" height="183" /></a><p class="wp-caption-text">Cropduster</p></div>
<p>Sekali lagi saya ucapkan selamat, pertama ketika anda akan memulai membaca artikel ini, kemudian kini anda sudah membaca hingga akhir artikel. Itulah tokoh pertama dari dua tokoh nusantara yang saya janjikan di awal artikel. Tokoh kedua saya rencanakan dalam judul artikel terpisah agar anda tidak terlalu panjang dan lama dalam membaca. Saya sangat maklum kualitas membaca saya yang tidak tahan lama, dan saya berasumsi andapun tidak jauh beda dengan saya, hehehe……</p>
<p>Silakan diendapkan dulu semangat Nurtanio, semoga saya dan anda dimudahkan menerapkan dan mengembangkan hal-hal positif dari beliau untuk kemajuan bersama. Salam dirgantara dan aerodinamika…</p>
<div id="attachment_465" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg"><img class="size-medium wp-image-465" title="ReplikaRI-X" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg?w=300&#038;h=118" alt="ReplikaRI-X" width="300" height="118" /></a><p class="wp-caption-text">Replika RI-X</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=459&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">merancang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">belalang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kunang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gelatik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">crop duster1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ReplikaRI-X</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasar lidah tak bertulang</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 09:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[sebuah artikel dari belajarislam[dot]com, semoga bermanfaat.
TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan [1], terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele remeh-temeh tersebar di masyarakat yang sangat kuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=455&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sebuah artikel dari <a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tazkiyatun-nafs/725-dasar-lidah-tak-bertulang" target="_blank">belajarislam[dot]com</a>, semoga bermanfaat.</p>
<p>TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan <span style="color:#0000ff;">[1]</span>, terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele<em> remeh-temeh</em> tersebar di masyarakat yang sangat kuat budaya verbal-nya ini ternyata mengandung perkara yang berat dalam timbangan syariat. Berikut kami paparkan dua permasalahan:</p>
<p><span id="more-455"></span></p>
<h2>I. Bencana datang karena ucapan</h2>
<blockquote><p>“<em>Tidaklah timbul celaan pada saudaramu, kemudian Allah berikan rahmat padanya dan timpakan cobaan padamu</em>”<span style="color:#0000ff;"> [2]</span>. Yang dimaksud dengan celaan adalah seorang muslim yg menjelek-jelekkan saudaranya sesama muslim karena suatu dosa, padahal ia sudah bertaubat daripadanya, atau mengolok-olok fisik, gaya bicara, atau gerakannya. Ini adalah perkara yang berbahaya. Sedikit sekali orang yg waspada dari perkara ini. Dalam sebuah atsar: “<em>Barangsiapa mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya</em>” <span style="color:#0000ff;">[3]</span>.</p>
<p>Berkata Imam Ahmad: &#8220;Aku mendengar al-Hasan berkata: &#8220;<em>Kami memperbincangkan bahwa siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa yang ia sudah bertaubat pada Allah darinya maka Allah SWT akan memberi cobaan padanya</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[4]</span>. Berkata Ibnu Sirin: &#8220;<em>Aku pernah mencela seseorang karena kerugian, maka aku mengalami kerugian!</em>&#8220;. Berkata Ibnul Jauzi: Berkata seseorang: &#8220;<em>Aku mencela seseorang yang sebagian giginya sudah tidak ada, maka gigiku bertaburan !</em>” <span style="color:#0000ff;">[5]</span>.</p></blockquote>
<p>Nah, jika anda merasakan banyak masalah, ruwetnya problematika kehidupan, seringnya cobaan menyapa, seakan akan setiap tarikan nafas kita adalah masalah dan masalah. Maka perlu diteliti jangan-jangan kita telah salah dalam berucap. Jangan-jangan saking mudahnya lisan kita <em>ceplas-ceplos</em> hingga ada kata-kata tidak sedap yang <em>nyangkut </em>di hati saudara kita. Apalagi di era yang sangat mengagung-agungkan kebebasan berekspresi kini. Seakan kebebasan itu menjadi tameng mengumbar kata-kata kurang manfaat. Khususnya keadaan disekitar kita, bangsa kita, jangan-jangan bangsa yang bisanya “<em>cuma omong doang</em>&#8221; pintar berkoar dan suka ribut itu kian bertumpuk cobaan dan masalah dikarenakan mulut-mulut dan lidahnya kurang dijaga. <em>Wallahu musta’an</em>.</p>
<p>Bukankah para Nabi dan orang-orang shalih juga banyak cobaan dan masalah? Bahkan semakin tinggi tingkat keshalihan seseorang, maka semakin berat dan pelik permasalahan yang akan dihadapinya? Iya benar, tapi bedanya adalah <strong>sebab </strong>datangnya ujian dan cobaan tsb, juga<strong> “sikap hati” </strong>dalam menghadapi cobaan dan masalah tersebut. Lalu <strong>penerapan syariat </strong>dalam mengurai, mengunyah, dan menelan serta reaksi yang timbul sesudahnya. Paham?</p>
<blockquote><p>Diriwayatkan dari sebagian pendahulu yg shalih: &#8220;<em>Seandainya aku mengejek seekor anjing, tentu aku khawatir diriku menjadi anjing</em>&#8220;. Demi Allah, ini adalah hal yang nyata dan akibatnya nyata baik terhadap orang yang mencemooh atau pada keturunannya. Ini semua adalah akibat buruk dari maksiat dan berbagai kepahitan yang ditimbulkan olehnya. Tidak ada yang bisa menolak bala ini kecuali doa yang agung ini: &#8220;<em>Segala puji bagi Allah yang melepaskanku dari apa yang telah menimpamu dan melebihkanku dari kebanyakan makhluknya</em>&#8220;. Nabi bersabda: &#8220;<em>Barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan tertimpa bala tersebut</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[6]</span>.</p></blockquote>
<p>Beken dan popular, bahkan cenderung lumrah di kalangan kita, tidak saja mengejek binatang dan makhluk tak berakal lainnya, tetapi binatang dan makhluk tak berakal itu digunakan sebagai martir kosakata dalam bersilat lidah dan penyedap bumbu percakapan. Dan kini makin kreatif dalam variasinya, percaya atau tidak?</p>
<p>Kemudian marilah merenungkan doa diatas.</p>
<h2>II. Laknat dan akibat buruknya</h2>
<blockquote><p>Laknat sering dijumpai pada kebanyakan omongan manusia. Ini adalah salah satu bala yang meluas. Benarlah hadits nabi Muhammad SAW ketika di tanya tentang orang-orang yang suka melaknat, beliau menjawab : &#8220;<em>Manusia di akhir zaman, ucapan salam yang mereka ucapkan di saat bertemu adalah : saling melaknati</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[7]</span>.</p></blockquote>
<p>Laknat, umpatan, sumpah serapah dan sejenisnya makin nge-trend di masyakat kita. Coba anda lakukan pengamatan kecil-kecilan, gunakan seluruh panca indera <em>sampeyan</em>, ambil waktu rentang sehari, catatlah sekian banyak hujatan, laknat, umpatan dan semisalnya yang anda jumpai hari itu. Pasti akan berderet panjang daftarnya, dan akan bertambah panjang jika anda melengkapi dengan hasil dari media massa cetak dan elektronik serta cyber-internet. Pas sudah sinyalir statemen Rasulullah tersebut diatas.</p>
<blockquote><p>Perhatikan akibat buruk dari laknat dalam hadits ini, dari Abu Darda&#8217; bahwa Rasulullah SAW bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya bila ada seseorang yang mengutuk sesuatu maka kutukan itu naik ke langit, tetapi pintu-pintu langit itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu turun ke bumi tetapipintu-pintu bumi itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut. Lantas kutukan itu lari ke kanan dan ke kiri, apabila kutukan itu tidak mendapat tempat maka ia mencari orang yang dikutuknya, bila orang itu pantas mendapat kutukan, maka ia menimpa orang itu, tetapi bila orang itu tidak pantas mendapat kutukan maka ia kembali kepada orang yang mengucapkan kutukan tersebut</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[8]</span>.</p>
<p>Lebih dari itu, laknat menyebabkan pelakunya diharamkan dari mati syahid dan syafaat, sebagaimana dalam hadits Abu Darda : Aku mendengar Rasulullah bersabda: &#8220;<em>Orang-orang yang suka melaknat itu tidak bisa memberikan syafaat dan tidak pula meraih syahid</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[9]</span>.</p>
<p>Termasuk dalam hal ini bila yang dilaknat tidak berakal (hewan, benda dll–pent), sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas tentang seseorang yang melaknat angin, maka Nabi bersabda: &#8220;<em>Jangan engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah. Barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak semestinya, maka ia akan kembali pada orang yang mengucapkannya</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[10]</span>.</p></blockquote>
<p>Demikianlah kengerian akibat laknat dan kutukan, padahal ianya berasal dari sebongkah lidah tak bertulang. Ringan tanpa beban saat mengucapnya, tapi berat menggunung akibatnya, terlebih konsekuensi syariat dibelakangnya. Jangankan meraih syahid, malahan akan balik menjadi boomerang mengenai diri sendiri kutukan dan laknat itu sekecil apapun. Ayo dipikir-pikir sendiri…pernahkah kita terceplos kalimat atau kata terkategorikan laknat dan kutukan walau secuil?</p>
<blockquote><p>Termasuk dari dosa yang terbesar bila seorang anak melaknat kedua orang tuanya dengan cara tidak langsung, sebagaimana diberitakan oleh Nabi: &#8220;<em>Seseorang yang mencela ayah orang lain, lalu orang yang di cela itu mencela ayahnya, dan ia mencela ibu orang lain, lalu orang yang di cela tersebut membalas dengan mencela ibu (orang yang mencela)</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[11]</span>.</p>
<p>Dikiaskan dengan perbuatan laknat ini adalah memfasikan atau mengkafirkan seorang mukmin <span style="color:#0000ff;">[12]</span>.</p></blockquote>
<p>Nah, inilah jeratan halus bagi para pencela, benar ianya tidak langsung mencela kedua-orangtuanya sendiri (bahkan agama anutannya), tapi perbuatan mencela orang-tua orang lain, serta mencela agama lain akan membalik kepada dirinya sendiri. Terlebih belitan “<em>ghuluw</em>” (extrem berlebihan) di zaman kita makin kuat. Hingga muncullah model manusia-manusia <em>tukang cela </em>berdalih agama, maksud hati pengen tampak ilmiah dan tegas dimata insan, <em>tapi panggang jauh dari apinya</em>. Maka makin berhati-hatilah terhadap lisan tak bertulang yang kita miliki.</p>
<p>Ngeri…ngeri…dan ngeri. Itulah gambaran yang kita dapatkan dari dampak buruk mulut dan lisan. Maka berhati-hatilah mulai sekarang. Biarlah kita diam seribu bahasa, daripada dampak buruk tersebut diatas menimpa kita. Biarlah kita dicap pendiam dan pengecut, jikalau bayarannya adalah ngomong tak ada manfaat. Biarlah disindir sebagai orang “<em>lemah</em>” jika maksudnya supaya kita jadi manusia “<em>banyak mulut</em>”. Mainstream media saat ini adalah ajakan mengeluarkan pendapat, ekspresif , kebebasan, dan liberal tanpa kungkungan apapun, tapi artikel ini berusaha melawan arus kuat itu. Semoga saya dan anda bisa mengambil hikmahnya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>[1] Dampak Negatif Kemaksiatan, Abdullah bin Muhammad as-Sadhan, Riyadh, 1421H.</p>
<p>[2] HR. Tirmidzi, Thabrani dan lainnya dari Mu&#8217;adz secara marfu&#8217;. Tirmidzi mengatakan: Hadits hasan gharib. Lihat : Tamyiiz ath-Thayyib minal khabits, oleh Abdurrahman al-Atsari hal : 171, dan lihat pula : al-Adzkaar oleh an-Nawawi hal : 542.</p>
<p>[3] HR. Tirmidzi.</p>
<p>[4] Kitab az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 342.</p>
<p>[5] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 391</p>
<p>[6] 42 Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim hal : 257, Ucapan Ibnu Mas&#8217;ud dalam Siyar a&#8217;laam an-Nubala 1/496</p>
<p>[7] HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim. Lihat : Majmu&#8217; akhbaar akhir zaman, oleh al-Musy&#8217;ili, hal : 129</p>
<p>[8] HR. Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4905</p>
<p>[9] HR. Muslim dan Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4907</p>
<p>[10] Mukhtasar Shahih Sunan Abu Dawud, al-Albani hal : 3/927, No: 4101</p>
<p>[11] Mukhtasar Shahih al-Bukhari, oleh az-Zubaidi, hal : 466, No: 3007</p>
<p>[12] Berdasarkan hadits nabi: &#8220;Tidaklah seseorang memfasikan atau mengkufurkan seseorang melainkan hal itu akan kembali padanya, jika orang yang dituduhkan itu tidak demikian&#8221;. Mukhtasar Shahih al-Bukhari hal : 469, No: 2030</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Yokohama, 20 Oktober 2009</p>
<p>M. A. Bramantya</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=455&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima tahun sudah</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak-anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=451&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_452" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg"><img class="size-medium wp-image-452" title="5tahun" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg?w=300&#038;h=225" alt="5tahun" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">made in ibuuk...</p></div>
<p>Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status sebagai seorang ayah dari seorang anak, sebuah status yang biasa-biasa saja jauh dari kesan “wah” dan “prestisius”. Profesi seorang Bapak adalah profesi yang juga biasa-biasa saja, jauh dari rasa decak kagum dan tepukan penghargaan.</p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<blockquote><p><strong>Salwa </strong>(putri pertama kami): <em>mas Salman mau pipis?</em></p></blockquote>
<p>*kata mas Salman memang mulai kami populerkan mengingat Salman mau punya adik, insya Allah.</p>
<blockquote><p><strong>Salman </strong>(putra kedua kami): <em>iya</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Salwa: <em>ayo sana cepet pipis di kamar mandi, ntar ngompol lho</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Salman: <em>***</em></p></blockquote>
<p>*masih belum beranjak. Anak ini memang rada malas kalo disuruh pipis, kecuali kalo udah kebelet banget, suka bikin heboh.</p>
<blockquote><p>Salwa: <em>ayo cepet, ntar dimarahin ayah…ntar tak cebokin wes</em> (nanti saya cebokin dah)</p></blockquote>
<p>*duh, itu bukan marah nak, hanya sekedar meninggikan suara agar perintah dan larangan lebih engkau perhatikan. Kamu sih, kalo dibilangin sekali jarang nurutnya. Halah…alasan klise para orang tua. Tapi begitulah, saya masih perlu banyak belajar dalam seni mendidik anak. Yang jelas tindakan fisik sangat saya hindarkan, juga kata-kata kotor dan celaan.</p>
<blockquote><p>Salman: <em>ya</em></p></blockquote>
<p>*lalu dengan digandeng Salwa, mereka berjalan ke kamar mandi</p>
<blockquote><p>Salman: <em>gelap nie</em></p></blockquote>
<p>*Salman masih terlalu pendek untuk meraih tombol saklar lampu. Lalu Salwa menghidupkan lampu kamar mandi dan menunggu adiknya selesai pipis. Setelah itu dia menyalakan kran air, dan membilas pipis dan mencebokin adiknya dengan shower di kamar mandi.</p>
<blockquote><p>Salman: ghufronaka……</p></blockquote>
<p>*teriak saat keluar dari kamar mandi, lalu berlari menghambur ke tempat bermain yang tadi</p>
<blockquote><p>Salwa:<em> ee….dipakai dulu celananya, ntar… tak madepin dulu</em></p></blockquote>
<p>*maksudnya menghadapkan arah celana Salman agar sesuai bagian depan-belakangnya, maklum Salman masih belum bias membedakan dengan benar mana depan mana belakang</p>
<p>Lalu merekapun kembali bermain…</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dialog itu kami (saya dan istri) dengarkan dari kamar sebelah. Anak-anak taunya kami sedang <em>shalat</em>. Saya dan istri kemudian saling berpandangan selepas adegan dialog itu, lalu tersenyum sendiri-sendiri. Entah apa yang ada dalam benak istri saya.</p>
<p>Yang jelas hari itu Salwa, putri pertama kami telah genap berusia 5 tahun. Sedangkan Salman, putra kedua kami sebulan lagi sudah berumur 3 tahun. Bilangan 5 tahun menyadarkan saya, betapa sudah lamanya anak itu berada dalam asuhan kami. Dititipkan oleh Sang Maha Pencipta sebagai nikmat karunia tiada tara sekaligus ujian cobaan. Benar, kami tidak mengingkari bahwa kehadiran Salwa menambah kenikmatan bagi kami. Betul, kami tidak menyangkal bahwa kehadiran Salwa adalah penyejuk mata bagi kami. Bahkan, dia adalah cucu pertama dari keluarga saya juga dari keluarga istri saya. Hingga para kakek dan neneknya pun tak kurang bahagianya daripada kami, orang tuanya.</p>
<p>Salwa kini sudah berumur 5 tahun, seorang kakak dari adiknya. Sikap kedewasaannya perlahan mulai muncul, meski masih sayup-sayup. Namun sifat kekanak-kanakannyalah yang lebih dominan, <em>ya iyalah, kan juga masih 5 tahun</em>. Dia tumbuh sebagai sosok yang feminis, <em>ya iyalah, kan perempuan, please deh yah</em>. Lucu tapi terkadang nyebelin, <em>udah deh, ayah jangan lebay gitu</em>.</p>
<p>Oke, itulah Salwa. Dia masih membutuhkan banyak kasih sayang dan bimbingan dari orang tuanya untuk tumbuh lebih dewasa lagi, menapaki tahapan-tahapan psikologis seorang anak pada umumnya. Dan bersiap menghadapi ganasnya kehidupan bumi yang makin tua ini. Permasalahannya adalah: <strong>siapkah kami dengan segudang kasih sayang itu?</strong> (jika anda punya 2 anak, ya bersiap 2 gudang kasih sayang, 200% gitu, jika lebih ya tinggal tambahkan saja. Ingat jangan dibagi, tapi ditambah, akan kacau jika kasih sayang itu dibagi, setuju?). <strong>Mampukah kami memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak yang kami cintai? Cukupkah bekal kami sebagai orang tua untuk menanggung keberadaan anak-anak itu lahir dan batin? Tersediakah kemampuan kami untuk sekedar menghantarkan anak-anak kami tumbuh dewasa dengan benar?</strong> Dan serentetan pertanyaan yang menggayuti alam pikiran kami.</p>
<p>Sementara disana masih ada Salwa-salwa yang lain, anak-anak yang begitu lucu dan polos sama seperti Salwa, bahkan terkadang kondisinya tidak seberuntung Salwa. Sementara disana masih ada Ayah-ayah yang lain, para ibu dan para orang tua yang berkasus sama, yaitu sama-sama punya anak. Mungkin mereka tidak seberuntung saya, tidak juga berarti saya lebih beruntung dari mereka. Setiap keluarga dan individu mempunyai keunikannya masing-masing.</p>
<p>Yang jelas, masalah pendidikan anak adalah permasalahan yang besar dan serius. Dan kita sebagai orang tua tidak bisa mengelaknya, <em>bisa sih mengelak jika anda tidak punya hati</em>. Marilah kita sejenak mengevaluasinya, minimal evaluasi diri sendiri. Perhatikan dengan seksama dan teliti lagi, jika ada kekurangan segeralah ditambah, jika terjadi kesalahan buru-burulah diperbaiki, jika ada kebaikan pertahankanlah dan tingkatkan lebih baik lagi. Jangan ragu untuk memperbaiki kualitas keorang-tuaan anda. Berapapun harganya, tebuslah ia sekuat kemampuan anda. Berapapun nilainya, usahakanlah ia sekuat-kuatnya. Pendidikan anak dalam keluarga adalah hal yang utama.</p>
<p>Semoga hari ini anda makin sayang dengan anak-anak anda. Semoga hari ini anda tersadarkan akan keberadaan anak-anak, terutama anak yatim dan atau piatu diluar sana. Anak-anak yang mungkin tidak secantik dan secakep anak anda. Anak-anak yang tidak seberuntung anak anda. Merekalah taruhan masa depan kita, jangan sia-siakan mereka. Mereka butuh dekapan kasih sayang, buaian lembut sosok orang tua. Semoga Allah membimbing dan memapah kita dengan benar melalui hari-hari bersama anak-anak.</p>
<p>Eh, sekarang giliran Salwa yang kebelet pipis. Kalo dia mah, sudah bisa pipis dan cebok sendiri, alhamdulillah. Cepet sana…habis itu kita bermain kembali…</p>
<p>&#8212;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=451&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">5tahun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Turki di Negeri Sakura</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 07:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[my Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari majalah elfata edisi oktober 2008. Lumayan jadul sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin gimana gitu. Selamat membaca!
http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=265&#38;Itemid=91
Masjid Turki di Negeri Sakura
Hari jum&#8217;at itu, alhamdulillah, tugas-tugas kampus telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=403&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari <a href="http://majalah-elfata.com/" target="_blank">majalah elfata</a> edisi oktober 2008. Lumayan <em>jadul </em>sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin <em>gimana gitu</em>. Selamat membaca!</p>
<p>http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=265&amp;Itemid=91</p>
<h2><span style="color:#0000ff;"><strong>Masjid Turki di Negeri Sakura</strong></span></h2>
<div id="attachment_406" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg"><img class="size-medium wp-image-406" title="Tokyo Mosque" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg?w=300&#038;h=225" alt="TokyoMosque" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tokyo Camii Mosque (tampak luar)</p></div>
<p>Hari jum&#8217;at itu, <em>alhamdulillah</em>, tugas-tugas kampus telah selesai. Mumpung hari Jum&#8217;at, saya mau jalan-jalan ke Tokyo mengunjungi <em>Baitullah </em>yang sudah lama tidak saya kunjungi. Jepang berbeda dengan Indonesia, di sini susah cari masjid. Adanya masjid cuma di kota-kota besar saja seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, Kyoto, dan sebagainya.<span id="more-403"></span></p>
<p>Mau tau cara nyari masjid di Jepang? Gampang, tinggal buka internet saja, masukkan kata kunci <em>Japan Mosque</em> di dalam <em>search engine</em>. <em>Banzai!</em>[1] Akan muncul serangkaian informasi tentang masjid-masjid tersebut. Itulah gunanya jadi muslim yang tidak gaptek.</p>
<p>Saya pilih masjid di Tokyo karena letaknya tidak begitu jauh dari Yokohama, sekitar 1 jam naik <em>Cikatetsu</em>[2], harga tiketnya pun murah sekitar 700 <em>yen </em>pergi-pulang, juga paling nyaman jika dibanding transportasi publik lainnya. Klik punya klik, akhirnya saya tertarik pada sebuah masjid yang dibangun oleh Perkumpulan Orang Turki di Jepang, arsitek bangunannya sangat memukau.</p>
<p>Masjid ini namanya <strong><em>Masjid Camii</em></strong>, bangunannya jadi satu dengan perkantoran <em>Turkish Culture Center</em>. Lantai bawah untuk kantor, lantai atas untuk shalat. Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1938 oleh Abdulhay Kurban Ali and Abdurresid Ibrahim, lalu direnovasi tahun 1998 oleh Muharrem Hilmi Senalp, koordinator proyek Sumio Ito dan Akira Wakabayasi (Jepang) serta Sami Goren (Turki).</p>
<p>O iya, sebelum ke detail Masjidnya, saya ingin cerita sedikit tentang cara menuju kesana.</p>
<p>Sebelum menuju suatu tempat di Jepang cek dulu minimal tiga hal: rute perjalanan, prakiraan cuaca, dan perbekalan yang harus dibawa. Rute perjalanan bisa dicari di internet, contohnya http://www.jorudan.co.jp/english/ untuk rute kereta api, karena saya tinggal dekat stasiun <em>Bashamichi </em>dan Masjid Camii dekat stasiun <em>Yoyogi-Uehara</em>. Masukkan saja nama kedua stasiun itu, nanti akan muncul rute kereta api yang harus kita lalui lengkap dengan jadwal kereta, waktu tempuh dan juga harga tiket. Lengkap bukan?</p>
<p>Prakiraan cuaca harus dicek (misal http://weather.yahoo.co.jp) agar tidak <em>saltum </em>alias salah kostum -harusnya panas malah pake jaket lengkap, atau sebaliknya- perlu bawa payung ato tidak jika diperkirakan hujan. Walau sekedar prakiraan cuaca (sebab yang menentukan cuaca hanyalah Allah semata), errornya kecil berdasar statistik yg ada. Bedanya lagi, prakiraan cuaca disini dibuat tiap jam mengingat cepatnya perubahan cuaca di Jepang.</p>
<p>Setelah semua informasi cukup, jangan lupa di print. Pelajar disini kalo ngeprint gratis (laser berwarna lagi) tapi kalo fotokopi malah bayar 10 yen per lembar (900 rupiah per lembar). Setelah itu, saya jalan kaki menuju <em>Bashamichi-eki</em>[3] sekitar 5 menit dari <em>Yokohama International Center</em> tempat saya tinggal. Naik <em>Chikatetsu </em>jurusan <em>Yoyogi-Uehara</em>, saya gak usah beli tiket di mesin tiket, sebab saya sudah punya <em>ticket-card</em> pra-bayar.</p>
<p>Tinggal sentuh <em>ticket-card</em> di palang pintu otomatis, tiit…saya bisa masuk stasiun. Jangan lupa cek <em>platform </em>(tempat naik) kereta sesuai jurusan kita, agar tidak salah naik trus nyasar ke tempat antah berantah.</p>
<p>Akhirnya saya sampai di Masjid Camii dengan izin Allah kemudian bantuan peta dari internet.</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_408" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><em><em><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg"><img class="size-medium wp-image-408" title="tokyo camii" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg?w=300&#038;h=200" alt="tokyo camii" width="300" height="200" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Tokyo Camii Mosque (tampak dalam: ruang shalat utama)</p></div>
<p><em>Subhanallah</em>…dari kejauhan sudah nampak kecantikan <em>Baitullah </em>itu. Pas mau masuk, saya mau lepas sepatu, <em>eit&#8230; </em>tapi ditegur oleh seseorang, &#8220;<em>Jangan dilepas mas, ini perkantoran, nglepasnya di atas saja, di tempat shalat</em>.&#8221; begitulah kira-kira terjemahan bebasnya. Bersih, indah, dan mengagumkan…itulah yang terbetik di hati saya ketika menyusuri sudut-sudut gedung ini. Lantai dan dinding marmer, lukisan khas timur tengah berwarna warni di atap ruang plus dengan warna emasnya, ornament simetris pemandangan dan tetumbuhan menghiasi sudut langit-langit, juga lengkungan-lengkungan bangunan khas arsitek Islam.</p>
<p>Tepat jam 12.30 waktu setempat, adzan berkumandang. Mulailah shalat Jum&#8217;at. Khutbah disampaikan dalam tiga bahasa, pertama, pake bahasa Jepang, kemudian disambung dengan bahasa Inggris, terakhir dengan bahasa Urdu. Masing-masing khutbah berdurasi 7-8 menit, jadi total khutbah 21-24 menit. Hari itu khutbahnya tentang &#8220;Tujuan Pernikahan dalam Islam&#8221;. Lalu iqomat, lalu shalat jum&#8217;at berjamaah dua rakaat.</p>
<p>Di sana saya bertemu muslimin dari berbagai negara, tak heran khutbahnya tiga bahasa, ada yang dari Jepang (tentu), Afrika, dan Eropa, tak lupa Indonesia.</p>
<p>Sepulang dari Masjid Camii, banyak hikmah yg bisa penulis ambil. Minimal hati ini kembali tersirami oleh sejuknya iman. Setelah sekian lama hati ini tidak bergetar merasakan Kalamullah live dari lisan imam yang fasih bacaannya…setelah sekian lama…waktu ini tidak terluang hanya untuk beribadah kepada-Nya semata.</p>
<p>[1]. Banzai = hore;   [2]. Cikatetsu = kereta api bawah tanah;    [3]. Bashamichi-eki = stasiun Bashamichi; eki = stasiun.</p>
<p><strong>M. A. Bramantya</strong></p>
<p>School of Integrated Design Engineering, KEIO University, Yokohama, Japan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=403&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tokyo Mosque</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tokyo camii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajah Televisi Hari Ini</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 04:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[artikel ini adalah re-posting dari website belajarislam[dot]com

GEMES. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=393&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>artikel ini adalah re-posting dari website <a href="http://belajarislam.com/wawasan/dunia-islam/721-wajah-televisi-hari-ini" target="_blank">belajarislam[dot]com</a></p>
<p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-394" title="televisi" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg?w=270&#038;h=270" alt="televisi" width="270" height="270" /></a></p>
<p><strong>GEMES</strong>. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “<em>kebelakang</em>”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.</p>
<p>Berikut realitanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Infotainment</em>&#8221; memberitakan perceraian sang-idola. &#8220;<em>Reality Show</em>&#8221; mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. &#8220;<em>Talk Show</em>&#8221; lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. &#8220;<em>Masihkah Kamu Mencintaiku</em>&#8221; menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas layanan istri. &#8220;<em>Take Me/Him Out Indonesia</em>&#8221; menjadi ajang cari jodoh bikin heboh. Dalam setiap episode &#8220;<em>Take Me Out</em>&#8220;, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang mencari jodoh. Untuk &#8220;<em>Take Him Out</em>&#8220;, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. Public Relation dan Promotion Fremantle Media di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses <em>Take Me/Him Out</em> kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. <em>Infotainment</em> dan <em>reality show</em> model &#8220;<em>Termehek- mehek</em>&#8221; sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu.<span id="more-393"></span></p>
</blockquote>
<p>Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain?</p>
<blockquote><p>Kepala Laboratorium Psikologi Politik di Universitas terkemuka di Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”<em>Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,</em>” katanya. Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan televisi. ”<em>Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal</em>,” katanya.</p>
</blockquote>
<p>Lalu apa hubungannya dengan sahabat pengunjung <a href="http://belajarislam.com/" target="_blank">belajarislam[dot]com</a>? Dan masyarakat Islam secara umum?</p>
<p>Jelas terkait hubungan yang erat. Mayoritas pemirsa televisi di Indonesia adalah beragama Islam. Pemirsa teve yang menjadi pelanggan setia acara “<em>begituan</em>” dilaporkan 30% dari total pemirsa teve. Sedangkan populasi muslimnya berkisar lebih dari 80%. Hitung atau bayangkan sendiri kenyataan persentase angka itu.  Hal itulah yang membuat hati makin miris. Kenyataan kualitas sinetron, film, konser musik, dan acara televisi sejak dahulu hingga kini masih belum membaik, bahkan kian parah (parameter parah adalah parameter dalam syariat Islam). Kini ditambah genre baru infotainment ajang gossip dan reality show umbar masalah pribadi. <em>Laa khaula walaa quwwata illa billaah</em>.</p>
<p>Bangsa yang bebal, itulah prediksi pakar psikologi, jika bangsa ini disuguhi, dicekoki dan terus digelontor acara televisi semacam itu. Dan siapakah komponen umat di republik ini yang akan menjadi korban? tentulah masyarakat Islam. Jika bangsa menjadi bebal, berarti masyakat Islamlah yang sebenarnya menjadi bebal. <em>Yah…Anda dan kita-kita ini. Mau?</em></p>
<p><strong>Marilah kita bersama mencari solusi.</strong></p>
<p>Saat ini yang paling mudah dan efektif adalah “<strong><em>matikan teve segera</em></strong>”. Jika ingin teve-nya tidak mubadzir, tambahlah dengan VCD/DVD player, lalu beli atau pinjam VCD/DVD bermanfaat. Bahkan acara berita di teve- pun harus extra hati-hati menyerapnya sebagai sandaran informasi. Jika ingin saluran pelepas kepenatan dan rileks, carilah alternatif hiburan selain televisi. Dan berusahalah sekuat tenaga lepas dari ketergantungan (kecanduan) nonton teve. Itulah solusi pribadi dan keluarga saat ini.</p>
<p>Bagaimana dengan solusi publik dan umum, ya..harus segera dirintis dan diwujudkan channel teve yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, paling tidak minim pelanggaran syariat dan memuat manfaat yang lebih besar. Ngomong (nulis) sih gampang…realisasi itu yang syulit bin tidak mudah, alias super kompleks. Ditambah tantangan dan halangan pihak-pihak yang tidak sejalan seiring dengan nilai Islam, dan itulah realita saat ini. Organisasi Islam besar dan senior sekaliber Muhammadiyah atau NU pun belum mampu (atau mau?) mewujudkannya.</p>
<p>Makanya sumbangkanlah segala apa yang anda punyai (ide, pikiran, tenaga, uang, informasi, doa dan lainnya) demi terwujudnya solusi tsb, marilah kita bahu-membahu. Dari yang kecil-kecil mudah-mudahan menjadi besar dan langgeng.</p>
<p>Percayalah&#8230;anak cucu kesayangan, turunan kitalah taruhannya.</p>
<p>-  -  -  -  -</p>
<p>* Penulis adalah mahasiswa S3 Keio University, Yokohama , Japan</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">
<p><em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;">GEMES</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;">. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara</span><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;"> pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak <em>gemes</em>, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “kebelakang”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.     <br style="outline-style:none;" /> Berikut realitanya:<br style="outline-style:none;" /> &#8220;Infotainment&#8221; memberitakan perceraian sang-idola. &#8220;Reality Show&#8221; mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. &#8220;Talk Show&#8221; lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. &#8220;Masihkah Kamu Mencintaiku&#8221; menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas<br style="outline-style:none;" /> layanan istri. &#8220;Take Me/Him Out Indonesia&#8221; menjadi ajang <span class="yshortcuts">cari jodoh</span> bikin heboh. Dalam setiap episode &#8220;Take Me Out&#8221;, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang <span class="yshortcuts">mencari jodoh</span>. Untuk &#8220;Take Him Out&#8221;, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. <em>Public</em><em> Relation dan Promotion Fremantle Media</em> di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses Take Me/Him Out kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. Infotainment dan reality show model &#8220;Termehek- mehek&#8221; sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> <strong>Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain?</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Kepala Laboratorium Psikologi Politik di Universitas terkemuka di Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,” katanya. Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan<br style="outline-style:none;" /> televisi. ”Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal,” katanya.<br style="outline-style:none;" /> <strong><br style="outline-style:none;" /> Lalu apa hubungannya dengan sahabat pengunjung <a href="http://belajarislam.com/undefined/" target="_blank"><span class="yshortcuts"><span style="color:#003399;text-decoration:none;"><span id="lw_1255943991_2" style="outline-style:none;">belajarislam.com</span></span></span></a>?</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Jelas terkait hubungan yang erat. Mayoritas pemirsa televisi di Indonesia adalah beragama Islam. Pemirsa teve yang menjadi pelanggan setia acara “begituan” dilaporkan 30% dari total pemirsa teve. Sedangkan populasi muslimnya berkisar lebih dari 80%. Hitung atau bayangkan sendiri kenyataan persentase angka itu.  Hal itulah yang membuat hati makin miris. Kenyataan kualitas sinetron, film, konser musik, dan<br style="outline-style:none;" /> acara televisi sejak dahulu hingga kini masih belum membaik, bahkan kian parah (parameter parah adalah parameter dalam syariat Islam). Kini ditambah <em>genre</em> baru infotainment ajang gossip dan reality show umbar masalah pribadi. <em>Laa khaula walaa quwwata illa billaah.</em><em><br style="outline-style:none;" /> </em><br style="outline-style:none;" /> Bangsa yang bebal, itulah prediksi pakar psikologi, jika bangsa ini disuguhi, dicekoki dan terus digelontor acara televisi semacam itu. Dan siapakah komponen umat di republik ini yang akan menjadi korban? tentulah masyarakat Islam. Jika bangsa menjadi bebal, berarti masyakat Islamlah yang sebenarnya menjadi bebal. Yah…Anda dan kita-kita ini. <strong><em>Mau</em></strong>?<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> <strong>Marilah kita bersama mencari solusi.</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Saat ini yang paling mudah dan efektif adalah “matikan teve segera”. Jika ingin teve-nya tidak mubadzir, tambahlah dengan VCD/DVD player, lalu beli atau pinjam VCD/DVD bermanfaat. Bahkan acara berita di teve- pun harus extra hati-hati menyerapnya sebagai sandaran informasi. Jika ingin saluran pelepas kepenatan dan rileks, carilah alternatif hiburan selain televisi. Dan berusahalah sekuat tenaga lepas dari ketergantungan (kecanduan) nonton teve. Itulah solusi pribadi dan keluarga saat ini.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Bagaimana dengan solusi publik dan umum, ya..harus segera dirintis dan diwujudkan channel teve yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, paling tidak minim pelanggaran syariat dan memuat manfaat yang lebih besar. <em>Ngomong</em> <em>(nulis)</em> <em>sih gampang</em>…realisasi itu yang sulit bin tidak mudah super kompleks. Ditambah tantangan dan halangan pihak-pihak yang tidak sejalan seiring dengan nilai Islam, dan itulah realita saat ini. Organisasi Islam besar dan senior sekaliber <span class="yshortcuts">Muhammadiyah</span> atau NU pun<br style="outline-style:none;" /> belum mampu (atau mau?) mewujudkannya. Makanya sumbangkanlah segala apa yang anda punyai (ide, pikiran, tenaga, uang dan informasi) demi terwujudnya solusi tsb, marilah kita bahu-membahu. Dari yang kecil-kecil mudah-mudahan menjadi besar dan langgeng. Percayalah&#8230;anak cucu turunan kitalah taruhannya.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> * <strong>Penulis adalah </strong></span><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana,helvetica,clean,sans-serif;line-height:16px;"><strong>mahasiswa S3 Keio University, Yokohama , Japan </strong></span></span></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=393&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">televisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tak gendong kemana-mana</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/19/tak-gendong-kemana-mana/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/19/tak-gendong-kemana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 21:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Fluida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[
Entah kenapa, istilah “tak gendong kemana-mana” menjadi poluler. Mungkin terkait dengan momentum sang-empunya meninggal dunia disaat diri dan karyanya naik daun. Atau memang begitulah ”selera pasar” pada saat itu pas cocok dengan istilah itu. Yang pasti istilah itu menari-nari di kepalaku beberapa saat yang lalu. Lalu teringatlah diriku akan isi tas ransel yang selalu saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=389&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/mind-2520puzzles.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-390" title="mind-2520puzzles.gif" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/mind-2520puzzles.gif?w=297&#038;h=300" alt="mind-2520puzzles.gif" width="297" height="300" /></a></p>
<p>Entah kenapa, istilah “<em>tak gendong kemana-mana</em>” menjadi poluler. Mungkin terkait dengan momentum sang-empunya meninggal dunia disaat diri dan karyanya naik daun. Atau memang begitulah ”<em>selera pasar</em>” pada saat itu pas cocok dengan istilah itu. Yang pasti istilah itu menari-nari di kepalaku beberapa saat yang lalu. Lalu teringatlah diriku akan isi tas ransel yang selalu saya gendong bolak-balik apartemen – kampus. Apakah itu?</p>
<p>Selain pernak-pernik alat tulis standard, belakangan ini tas ransel saya berisi dua buku yang tebal, baik tebal dari sisi fisiknya maupun tebal dari sisi materinya. <em>Begimane</em> tidak tebal, <em>lha wong</em> isinya sesuatu yang fantastis bagi saya, yaitu:<span id="more-389"></span></p>
<p>1) <em>An introduction to nonlinear oscillations</em>, Ronald E. Mickens, Cambrige University Press, 1981</p>
<p>2) <em>Introduction to perturbation techniques</em>, Ali Hasan Nayfeh, John Wiley &amp; Sons, 1981</p>
<p>Walaupun kedua buku itu berlabel “<em>introduction</em>” tetap saja saya tidak paham sepenuhnya. Pun ketika dibaca bolak-balik. <em>Nonlinear system</em> adalah barang relatif baru bagi saya, meski ranah itu masuk dalam cakupan <em>mechanical engineering</em> (teknik mesin). Begitulah proses belajar yang harus saya lalui disini, demi mendapat rekomendasi “<em>lulus</em>” dari dua orang professor diluar spesifikasi saya, sebelum selesai dari kawah <em>candradimuka </em>S3 ini, insya Allah.</p>
<p>Hal lain yang menarik dari kedua buku yang tak gendong ke rumah dan ke kampus itu adalah tahun terbitnya. 1981, tepat pada tahun kelahiran saya. Tidak akan saya otak-atik-<em>ganthuk</em>, toh juga tidak akan menambah manfaat. Boro-boro menambah paham isi buku, malah bikin bisikan tidak jelas. Berarti buku itu sudah seusia diri ini di dunia.</p>
<p>Buku lain, lebih tepatnya print-print-an artikel dari website webersis[dot]com karya Ersis W. Abbas, juga beberapa hari ini tak gendong kemana-mana di dalam rumah sebagai bacaan selingan, ada empat buku telah selesai dibaca hasil kumpulan download artikel berjudul:</p>
<p>1) Menulis sangat mudah</p>
<p>2) Menulis mari menulis</p>
<p>3) Menulis mudah: dari babu sampai pak dosen</p>
<p>4) Menulis mudah: menulis pikiran</p>
<p>Provokasi penulis buku sedikit banyak menular. Hasilnya saya tambah pengin nulis buku <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Sudah cukup ekspresi pribadinya. Lega..karena tarian di otak sudah tercurah di tulisan ini. Sebagian orang meluapkan beban pikiran dengan bahasa verbal (mayoritas) dan sedikit dengan bahasa tulisan. Bahasa verbal mulai dari bisik-bisik curhat “<em>glenikan</em>” sampai teriak-teriak super heboh, habis itu plong…kata-kata tertiup angin yang berhembus “<em>ewess ewess</em>”, hilang tanpa bekas hanya catatan malaikat yg tersisa yg kita sendiripun seringnya lupa. Kalau bahasa tulisan, ada barang bukti yang bisa dibaca sendiri dan orang lain (kalau mau) ee…mana tau bermanfaat. Pun berguna buat introspeksi diri. Sampeyan pilih mana, verbal atau tulisan?</p>
<p><strong>Saatnya berbagi.</strong></p>
<p>Beberapa orang menanyakan resep riset sukses. Ho..ho..ho rupanya terprovokasi penghargaan yg saya dapat <a href="http://www.kabarindonesia.com//berita.php?pil=1&amp;dn=20080902000950" target="_blank">di Jerman tahun lalu</a>, juga <a href="http://bramantya.wordpress.com/2009/05/12/%E8%97%A4%E5%8E%9F-%E8%B3%9E-fujiwara-award/" target="_blank">Fujiwara-award-nya di Jepang</a>, dan <a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2007/06/cv_bram_may09.pdf" target="_blank">deretan list publikasi</a> yang terlihat keren bagi sebagian orang itu. Resepnya kembali ke “<em>tak gendong kemana-mana</em>”. Ya…ruh riset selalu dibawa kemana-mana.</p>
<p>Ingat ruh-nya lho…esensi dari riset kita yang berisi hal-hal mendasar (bukan teknis-ekuasi-rumusi bagian berpusing ria) itulah yang harus selalu nempel di otak kemana-mana kita berada. Dari situlah muncul “<em>pantikan</em>” ide problem-solving, pintu pembuka penyelesaian dan pengembangan riset di saat tak terduga. Bisa jadi saat itu anda lagi merenung di kamar mandi menunggu suksesnya hajat, atau saat mengunyah lezatnya makanan menghirup sedapnya minuman, atau bahkan saat bercengkerama bersama keluarga tercinta, bercanda ria bersama kawan seirama. Nah, pantikan ide itulah yang kemudian anda teruskan di kampus atau lab sembari berpusing notasi, berjibun referensi, serangkaian eksperimentasi dan hangatnya diskusi. Sekali lagi, yang anda gendong kemana-mana bukan hal-hal berat dari riset atau study anda terkait notasi-rumus-hapalan-code-analisasi dan tetek-bengek <em>njelehi</em>-nya, tidak asyik tau&#8230;!</p>
<p>Dengan menggendong kemana-mana ruh riset atau study anda, maka ianya akan terus mengalir di setiap helaian nafas anda. Perkara-perkara yang tadinya rumit-ruwet-kompleks sekilas tak terselesaikan ketika anda hadapi dengan <em>garang </em>plus <em>semangat 45 </em>di kampus atau lab, lambat laun akan terurai dengan sendirinya disaat anda bawa rileks dan santai dalam dimensi lain. Permasalahan riset dan study itu akan melembut disaat nafsu mengabaikannya. Setidaknya itulah yang saya alami, percayalah. Bukan solusi berlama-lama di kampus atau lab, jika pikiran macet. Siapa sih yang bisa ON terus pikirannya hingga 5 atau 6 jam secara kontinyu? Hehehehe…</p>
<p><strong>Ada yang lebih penting</strong></p>
<p>Artikel ini diawali dengan curhat pribadi, kemudian sedikit berbagi, kini diakhiri dengan sesuatu yang lebih penting dari semua itu. Yaitu agama…ya…hal-hal yang terkait Allah dan Rasul-Nya, serta aplikasi dari para shahabat yang mulia. Gendonglah kemana-mana perkara agama Islam anda. Jangan hanya disaat pelajaran agama atau di masjid atau dihadapan orang-orang yang anda anggap shalih saja perkara agama ini anda gendong. Tapi gendonglah Islam itu disetiap anda berada. Pesan Nabi: “<em>bertakwalah dimana saja kalian berada</em>”. Konsep mulia Ihsan adalah: “<em>engkau beraktivitas seakan-akan Allah melihatmu, jika engkau tak mampu (merasakan) penglihatan-Nya, maka sesungguhnya Dia-Allah Maha Melihat</em>”. Pasti…pasti…dan pasti hidup anda akan lebih indah. Buktikanlah…!</p>
<p>Yokohama, 20 Oktober 2009</p>
<p>M.A. Bramantya (semoga Allah menjaga keikhlasannya)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=389&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/19/tak-gendong-kemana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/mind-2520puzzles.gif?w=297" medium="image">
			<media:title type="html">mind-2520puzzles.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angin Topan nomor 18</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/08/angin-topan-nomor-18/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/08/angin-topan-nomor-18/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 21:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[my Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini, kami mengalami suatu pengalaman yang baru, yaitu diterjang angin topan. Jepang adalah salah satu Negara yang rutin disapa oleh gejala alam semisal gempa bumi, tsunami dan angin topan. Sehingga Negara dan rakyatnya harus siap sedia selalu dengan berbagai caranya. Mungkin hal inilah yang membuat mereka tahan banting dan survive di dunia yang keras, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=382&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/07cnd-japan-inline-650.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-387" title="07cnd.japan.inline.650" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/07cnd-japan-inline-650.jpg?w=390&#038;h=253" alt="07cnd.japan.inline.650" width="390" height="253" /></a></p>
<p>Hari ini, kami mengalami suatu pengalaman yang baru, yaitu diterjang angin topan. Jepang adalah salah satu Negara yang rutin <em>disapa </em>oleh gejala alam semisal gempa bumi, tsunami dan angin topan. Sehingga Negara dan rakyatnya harus siap sedia selalu dengan berbagai caranya. Mungkin hal inilah yang membuat mereka tahan banting dan <em>survive </em>di dunia yang keras, bahkan menjadi lecutan tersendiri untuk selalu maju dan terus layak dimata dunia.</p>
<p><span id="more-382"></span></p>
<p>Berikut cuplikan berita dari media internasional</p>
<blockquote><p>TOKYO (Reuters) &#8211; Typhoon Melor barreled into Japan&#8217;s main island on Thursday, disrupting flights and trains, closing some factories and tearing roofs off houses, but damage was much less than had been feared.</p>
<p>…</p>
<p>The typhoon, with wind gusts of up to 198 km per hour (123 miles per hour), was about 150 (124 miles) west-northwest of Tokyo at 8 a.m. (2300 GMT), and was headed north-northeast at 50 kph (30 mph), the Meteorological Agency said.</p>
<p>…</p>
<p>More than 320 flights were canceled, Kyodo news agency said, and some high speed &#8220;bullet&#8221; trains and commuter services were halted for a time. Several expressways were closed, NHK said. The Meteorological Agency issued flood and landslide warnings for broad areas of the country, including Tokyo.</p>
<p>…</p>
<p>http://www.nytimes.com/reuters/2009/10/07/world/international-us-japan-typhoon.html</p></blockquote>
<p>Benar saja, pagi itu saya pergi ke kampus dengan iringan angin yang menderu-deru. Bila melewati gerbang kampus yang memang terletak di pucuk bukit, tubuh ini terasa melayang tertiup angin (maklum berat badan saya termasuk ringan, heheehe). Dan puncaknya adalah ketika membuka email dari Professor MY.</p>
<blockquote><p>Dear  Mr Muhammad</p>
<p>Today I can not go to Yagami campus because the Nanbu line of JR is stopping and not still available. Would you like to come to my office after calling my extension telephone ***** at 11:00 in the tommorow morning ?</p></blockquote>
<p>Memang hari itu kami janjian untuk berdiskusi perihal <em>nonlinear system</em>. Tapi tak apalah, toh besok juga akan ketemu, <em>insyaAllah</em>. Pembatalan janji itu termasuk terlambat, sebab maksud hati pengen mengikuti ceramah Peraih Nobel Kimia tahun 1991 Dr Richard Ernst (http://keio150.jp/events/2009/img/20091007.pdf) jam 10.45-12.15. Meski kimia bukan bidang saya, mana tahu ada suatu manfaat yang bisa diambil. Minimal merasa keren sudah ikutan kuliah berguru kepada pemenang Nobel. Tapi begitulah rahasia masa mendatang, takdir yang hanya diketahui Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Diskusi diundur, kuliah Nobel pun terlewat.</p>
<p>Dan Kehendak Allah-lah Yang Maha Kuasa. Ketika artikel ini selesai ditulis, dampak angin topan nomor 18 dikota kami –yokohama- tidak separah yang diprediksikan sebelumnya, <em>walillahil-hamd </em>(penomoran itu dibuat karena saking banyaknya jenis angin topan disini, sehingga dimungkinkan kesulitan jika dinamai satu per satu).</p>
<p>Demikian kisah kami hari ini. Kami banyak belajar hari ini, bagaimana dengan anda?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=382&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/08/angin-topan-nomor-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/07cnd-japan-inline-650.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">07cnd.japan.inline.650</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EXILIM Pro EX-F1 cihuuy…</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/07/exilim-pro-ex-f1-cihuuy%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/07/exilim-pro-ex-f1-cihuuy%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Fluida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[
Tahun ini grup riset kami (saya sebagai leader) merambah area baru, yaitu mempelajari shock-effect pada functional magnetic fluid (perkenalan kepada fluida ini saya urai di artikel sebelumnya). Ide nya berasal dari seberapa besar efek redam dari fluida pintar ini terhadap impact/shock force (beban kejut). Aplikasi futuristiknya di arena militer sebagai baju anti peluru yang nyaman, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=376&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/ex-f1.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-377" title="ex-f1" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/ex-f1.jpg?w=368&#038;h=346" alt="ex-f1" width="368" height="346" /></a></p>
<p>Tahun ini grup riset kami (saya sebagai<em> leader</em>) merambah area baru, yaitu mempelajari <em>shock-effect</em> pada <em>functional magnetic fluid </em>(perkenalan kepada fluida ini saya urai di artikel <a href="http://bramantya.wordpress.com/2009/07/05/trio-fluida-pintar/" target="_blank">sebelumnya</a>). Ide nya berasal dari seberapa besar efek redam dari fluida pintar ini terhadap <em>impact/shock force </em>(beban kejut). Aplikasi futuristiknya di arena militer sebagai baju anti peluru yang nyaman, hehehe…kok bisa? Begini critanya.</p>
<p>Sudah diketahui bahwa <em>functional magnetic fluid </em>mempunyai efek peredam. Lha kalo efek peredalam ini diperbesar, bisa menahan proyektil peluru sekalipun (mungkinkah?, saya harap begitu). Bayangan mudahnya, coba anda bayangkan segelas air kemudian anda celupkan sebutir kelereng, maka perlahan (atau cepat ?) kelereng itu akan turun ke bawah. Lalu alihkan bayangan anda, kini ganti segelas air dengan segelas <em>functional magnetic fluid </em>(misal, <em>magnetorheological fuid </em>– fluida magnet-reologi –), lalu kelereng diganti dengan kelereng dari besi. Maka berdasarkan eksperimen, kelereng besi itu akan terhenti ditengah-tengah fluida magnet-reologi ketika dikenai medan magnet. Dan jika medan magnet diperbesar, fluida magnet-reologi berubah menjadi padatan (<em>solid</em>), yang dimungkinkan laju pesat pucuk oyektil peluru-pun mampu tertahan di dalamnya. Selipkan saja cairan pintar itu dibaju sembari menambah aksesoris pembangkit medan magnet, jadilah baju tahan peluru. Huebat bukan?</p>
<p>Itulah ide muluk-muluknya, lalu untuk mewujudkannya diperlukan serangkaian experimen sebagai kajian empirik, berhelai lembar penurunan rumus sampai rambut “<em>keriting dan rontok</em>” sebagai kajian analitis dan sekian deret <em>coding</em> yang kadang bikin “<em>muntah</em>” jika pengen melengkapi dengan kajian numerik. Ih…ngeri…! Ya iyalah, itulah harga teknologi dan pengetahuan yang terkadang harus dibayar oleh penemu dan penelitinya. Tapi yang melewati dengan tahap itu “<em>baik-baik saja</em>” juga banyak, bahkan lebih banyak <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span id="more-376"></span></p>
<p><em>Eniwey</em>, itulah <em>road-map </em>yang ingin kami jalankan. Walau entah kapan waktu selesainya, yang penting harus dimulai. Kapan mau selesai jika tidak ingin memulai. Lari cepat puluhan kilometer tidak akan tercapai tanpa langkah pertama.</p>
<p>Untuk itu kami mulai dari hal yg sepele ringan-ringan dahulu. Yaitu kajian eksperimen, secara kemampuan analitik dan numerik saya rada payah, eh payah banget…hehehe. Mempelajari sifat-sifat fluida magnet-reologi dalam sebuah pipa U, satu sisinya dijatuhi sebuah massa lalu mengamati sisi lainnya, sambil memperkerjakan medan magnet pada sebuah area tertentu di pipa U tersebut. Detail eksperimennya ntar diceritakan lagi kemudian (jika sempat).</p>
<p>Lha…untuk melengkapi eksperimen tsb diperlukan yang namanya <em>high-speed</em> kamera. Berhubung lab kami tidak punya, kalau belipun mahal, pinjam menjadi alternatif terbaik. Singkat cerita dapatlah <em>si-dia</em> dari laboratorium sebelah. Sedemikian cepat dan begitu mudahnya urusan pinjam meminjam alat seharga puluhan juta rupiah tersebut disebabkan <em>high-trust-society</em> yang terbentuk dilingkungan masyarakat disini (coba kalo di republik kita…gak komentar ah…)</p>
<p>Dan kaitan judul dengan isi artikel ini bermula dari sini. <em>High-speed</em> kamera itu bertipe EXILIM Pro EX-F1 produksi Casio. Inilah cuplikan penjelasan dari si-empunya yang bergaya marketing:</p>
<blockquote><p>“The 1200 frame-per-second (maximum) High-speed Movie capabilities of the EX-F1 makes digital imaging more fun than ever before. This means that you can easily shoot ultra slow-motion movies at speeds that have until now been available only on professional level cameras. Not only does this provide you with a tool for capturing dramatic moments not visible to the naked eye with amazing clarity, it also lets you collect valuable visual information for sport technique analysis, scientific experiments, nature studies, and much more.”</p></blockquote>
<p>1200 fps bo.., untuk ukuran kamera yang <em>trendy </em>(kata <em>trendy </em>bermaksud membedakan dengan kamera khusus penelitian lab yg <em>advance </em>berfitur huebat seharga ratusan juta rupiah) cukuplah buat eksperimen awal kami. Yang berarti ada 1200 <em>frame </em>gambar dalam satu detiknya, alias jarak antar <em>frame </em>gambar satu dengan berikutnya selama 0.833 mikro-detik. Siiip.</p>
<p>Nah sebagai bukti visualnya, saya sharing sebuah link berisi rekaman video hasil bidikan kamera ini:</p>
<p><a href="http://www.exilim.com/intl/ex_f1/mov07.html">http://www.exilim.com/intl/ex_f1/mov07.html</a></p>
<p>Jika anda ceklik link tsb, anda akan melihat kasus balon berisi air yang dijoblos (bukan dicontreng, hehehe). Dinamika partikel air dalam balon setelah dicoblos teramati dengan jelas pada rate 1200 fps. Indah bukan? Itulah &#8220;<em>the beauty of technology</em>&#8220;.</p>
<p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-378" title="1" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/1.jpg?w=674&#038;h=353" alt="1" width="674" height="353" /></a></p>
<p>Saat ini saya (eh.. kami) baru sebatas mengeksplore kemampuan EXILIM Pro EX-F1 itu. Sembari membiasakan jari jemari mengoperasikannya, juga mempersiapkan eksperimen <em>set-up</em> nya. Mudah-mudahan berhasil alias ada hasil/<em>results </em>yang bisa dikaji terkait penelitian kami. Dan semoga saya sempat dan mau berbagi dengan anda lagi dalam sebuah artikel ringan seperti ini (penginnya sih dalam bentuk jurnal -artikel ilmiah-, tapi kok membosankan ya?).</p>
<p>Bagaimana menurut anda?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=376&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/07/exilim-pro-ex-f1-cihuuy%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/ex-f1.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">ex-f1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Sakura di Belajarislam.com (#2, Habis)</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/09/17/ramadhan-sakura-di-belajarislam-com-2-habis/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/09/17/ramadhan-sakura-di-belajarislam-com-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 20:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan dari posting sebelumnya, meneruskan turunan dari artikel Ramadhan di www.belajarislam.com . Berikut adalah tiga artikel dengan judul sbb:
(5) Waktu Puasa dan Displin
(6) Enaknya Berbuka Puasa (bersama masyarakat Indonesia di Keio University)
(7) Bola Lampu Kampusku Baru Semua (renungan puasa dan preventive maintenace)
Secara gaya bahasa, hampir semua artikel bersifat ke-aku-an (gue banged) yg kata sebagian orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=359&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lanjutan dari posting sebelumnya, meneruskan turunan dari artikel Ramadhan di www.belajarislam.com . Berikut adalah tiga artikel dengan judul sbb:</p>
<p>(5) Waktu Puasa dan Displin</p>
<p>(6) Enaknya Berbuka Puasa (bersama masyarakat Indonesia di Keio University)</p>
<p>(7) Bola Lampu Kampusku Baru Semua (renungan puasa dan preventive maintenace)</p>
<p>Secara gaya bahasa, hampir semua artikel bersifat ke-aku-an (gue banged) yg kata sebagian orang merupakan level terendah dalam dunia artikel, level kedua bersifat ke-kami-an, dan level tertinggi adalah bersifat ke-kita-an (universal). Dalam level universal manfaat yg diambil sangat besar, banyak dan tercerna oleh semua orang. Itu kata sebagian orang sih&#8230;mungkin anda tidak setuju.</p>
<p>Ada juga yg berpendapat sebaliknya, justru gaya bahasa ke-aku-an dan berisifat ringan-enak-renyah dibaca inilah yang disukai, terlebih jika menyisipkan pesan-pesan universal (nilai Islam) dalam alur ceritanya, pesan sisipan menyentil lembut tanpa berasa menggurui, pun tidak bosan sebagaimana artikel universal berat pada umumnya.</p>
<p>ah&#8230;terserahlah&#8230;mungkin masih ada segudang opini lainnya menyoal tulisan dan gaya bahasa. Ga papa..memang baru sampai disini taraf tulisan saya (lho kok jadi sensi gini ya? hehehe). Yang penting jika ada masukan terkait materi dan muatan syar&#8217;i dalam artikel, sangat saya nantikan&#8230;jangan pelit atau sungkan memberi masukan lah&#8230;oke?!  Semoga bermanfaat.</p>
<p><span id="more-359"></span></p>
<p>http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/698-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-5</p>
<h2><span style="color:#0000ff;">Waktu Puasa dan Disiplin</span></h2>
<p>Di bulan Ramadhan ini, saat sahur apa yang anda lakukan ketika mendengar adzan shubuh? STOP, segera BERHENTI (menyelesaikan seadanya) sahur bukan? Bahkan sudah ancang-ancang berhenti sejak waktu imsak (popular di Indonesia, namun perlu dikaji ulang pelaksanaannya) boleh nggak molor barang DUA atau TIGA menit? Tentu tidak boleh. Jangankan dua atau tiga menit, semenit saja anda akan merasa was-was jika melewati waktu shubuh sementara sahur belum selesai.</p>
<p>Siapa/apa yang anda takuti jika molor dalam hal puasa? Tentu Sang Pembuat Syariat Puasa, Allah Azza wa Jalla, bukan selain-Nya.</p>
<p>Anda dapat menangkap point dialogis diatas terhadap judul artikel ini? Kalau belum, berarti kemampuan berfikir anda perlu ditingkatkan,hehehe… Ya betul. Sejatinya PUASA melatih kita untuk berDISIPLIN.</p>
<p>Jepang terkenal dengan kedisiplinannya. Saya sangat salut dengan system transportasi di Jepang, terutama kereta api. Di saat peak-time (jam berangkat dan pulang kerja/sekolah), jadwal antar kereta api hanya berdurasi 3 menit, bahkan kurang. Bayangkan jika satu kereta api molor 1 menit, akan mengganggu keseluruhan system. Dan banyak kerugian lainnya berderet antri dibelakangnya. Padahal system kereta api disini sangat buanyak dan ruwet, Stasiun Shinjuku saja memiliki 7 lantai di bawah tanah, belum atas tanahnya. Sehingga kalau ada keterlambatan, bisa dipastikan hanya dua penyebabnya: gempa bumi atau ada orang bunuh diri di lintasan. Shinkansen (kereta api super cepat) memiliki catatan zero-accident sejak dioperasikan pertama kali (1964) sampai sekarang. Nah…satu contoh system kasat mata diatas tentunya didukung oleh sumber daya manusia yang tentunya lebih disiplin, anti-molor alias anti-ngaret.</p>
<p>Catatan selanjutnya soal disiplin adalah adanya waktu standard seluruh Jepang, dan wajib dipakai oleh seluruh system penting di Jepang. Kalo soal waktu standard ini, hitungannya sudah bukan menit lagi, tapi detik, bahkan mili-detik, harus tepat sama persis –seragam.</p>
<p>Bandingkan dengan kita. Tidak dalam rangka men-general-isasi, gebyah uyah, bahwa semua kita tukang molor, jamnya ngaret semua, tidak. Tapi betapa seringnya hal-hal ketidakdisiplinan kita jumpai disekitar kita, bahkan sudah menjadi kebiasaan. Akankah kita diam, nrimo legowo tanpo roso, dalam hal ini?</p>
<p>Manusia sukses, masyarakat unggul, negara maju selalu bercirikan minimal DISIPLIN, lalu yang lainnya. Mereka meraih apa-apa yang ingin mereka raih. Dimana nilai-nilai tersebut semuanya ada dalam refleksi ajaran ISLAM, desain Sang Rabbul’Alamin dalam mendidik ciptaan-Nya. Sementara (sebagian besar) kita, umat Islam, ya..saya dan anda, gak usah jauh-jauh tunjuk sana-sini, saya dan anda saja, (maaf) terlalu pe-de (percaya diri) dengan keislamannya, terbuai dengan kegemilangan para pendahulu yang shalih, lalu berhenti sampai disitu (bangga dan terbuai tok). Tidak salah dengan kebanggaan tsb (yang hal bangga terhadap Islam saja kini luntur tergerus zaman), tapi apa ya cuma berhenti sampai disitu? Silahken dijawab, direnungken, lalu dipraktekken.</p>
<p>Jadi, masihkah anda mau molor dan tidak disiplin barang 2 atau 3 menit?</p>
<p>M.A. Bramantya<br />
-pernah shock karena terlambat semenit.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/700-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-6</p>
<h2><span style="color:#0000ff;">Enaknya Berbuka Puasa</span></h2>
<p>-bersama masyarakat Indonesia di Keio University</p>
<p>Nasi sudah…minuman kolak pisang-ketela sudah…tempe mendoan sudah…es batu sudah…apa lagi ya? O iya, sambal terasi, penting itu…secara makanan Jepang tidak ada yang pedas, maka menu sambal menjadi primadona ketika acara kumpul-kumpul warga Indonesia. Ya, hari itu 14 Ramadhan 1430 kami warga Indonesia di Keio University (resminya Keio Indonesian Student Society, KISS) mengadakan acara berbuka puasa bersama. Tempatnya di Hiyoshi International House, Lounge B, letaknya sangat dekat dengan rumah kami, cuma beda gedung saja (kami tinggal di gedung D).</p>
<p>Sudah menjadi kebiasaan disini jika ada acara kumpul-silaturahim, maka urusan konsumsi diserahkan pada masing-masing peserta. Caranya tiap peserta diharap membawa makanan minuman sendiri-sendiri, kemudian nanti dikumpulkan dan dimakan bersama. Yang “single” (baik karena belum menikah atau sudah menikah tetapi keluarga ditinggal di tanah air) biasanya membawa minuman, buah atau makanan ringan. Sedang yang sudah berkeluarga biasanya membawa makanan beratnya. Cara ini cukup efektif walau suatu saat sempat kekurangan, malah seringnya berlebih. Menurut informasi, tetangga sebelah gedung masak sate nih, alhamdulillah.</p>
<p>Ternyata, syariat Islam dalam berbuka puasa itu enak ya?! Kita umat Islam dianjurkan untuk menyegerakannya, bahkan sebagai tanda baiknya umat. Tidak usah menunggu gelapnya malam apalagi munculnya bintang, cukuplah terbenamnya bulatan matahari sebagai tanda waktu berbuka puasa.</p>
<p>“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan meminum air putih.” (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Mari segera berbuka puasa, kemudian berdoa sesuai tuntunan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan jangan bikin doa rutin selain dari itu, kecuali jika ingin berdoa bebas tanpa merutinkan. Perlu diketahui bersama bahwa doa ketika berbuka adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak akan ditolak. Maka berdoalah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: 1. Pemimpin yang adil, 2. Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, 3. Doa orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah). Lafadz doa berbuka puasa: “Dzahabadh dhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Dawud).</p>
<p>Acara buka puasa dimulai dengan pembukaan oleh Ketua KISS, kemudian pesan-kesan singkat dari senpai (senior) yang sudah lulus S3 semester ini dan akan pulang ke Indonesia. Pesannya: tetap jalin silaturahim, saling tukar informasi di negeri asing ini dan jangan lupa untuk belajar dan mengamalkan Islam lebih detail lagi. Akhirnya acara utamapun tiba, saatnya mencicipi minuman kolak, tempe mendoan, sambal terasi dan sate ayam…bismillah…</p>
<p>Selamat berbuka puasa, semoga ibadah Ramadhan kita diterima Allah ‘Azza wa Jalla…amin</p>
<p>M.A. Bramantya<br />
-sukses bikin kolak, tempe mendoan dan sambal terasi, alhamdulillah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/701-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-7</p>
<h2><span style="color:#0000ff;">Bola Lampu Kampusku Baru Semua</span></h2>
<p>-renungan puasa dan preventive maintenance*</p>
<p>Hari itu (17 Ramadhan 1430) terasa ada yang beda di kampusku, kampus Yagami, Keio University. Setelah saya perhatikan, ternyata semua lampu neon (silinder panjang) di ruangan berganti baru. Pantas dari tadi kulihat para pekerja maintenance/perawatan hilir mudik membawa kardus panjang. Kegiatan penggantian lampu neon ini dilakukan serempak bersamaan di semua titik lampu di kampus kami. Ya..semuanya tanpa kecuali, baik yang sudah mbleret, redup, maupun yang masih terang benderang. Pokoknya semua diganti baru. Itulah penerapan pereventive maintenance di Jepang, merawat sesuatu dengan mengganti sebagian atau keseluruhan sistem secara berkala tanpa harus menunggu kerusakan terjadi. Metode perawatan seperti ini diakui dan terbukti lebih menghemat biaya daripada corrective maintenance (repair, nunggu rusak baru diganti) secara keseluruhan dan jangka panjang. Silakan dicari detail informasinya jika menginginkan lebih lanjut, bukan disini pembahasannya. Yoosh&#8230;berasa suasana baru, semangat baru, dan yang jelas lebih terang dari biasanya.</p>
<p>Sore harinya, ketika saya berjalan pulang ke rumah yang berjarak 10 menit jalan kaki, saya terlintas sebuah sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam:</p>
<p>“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)</p>
<p>“Bagaimana menurut kalian kalau seandainya ada sebuah sungai di depan pintu rumah kalian dan dia mandi di sana sehari lima kali. Apakah masih ada sisa kotoran yang ditinggalkan olehnya?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak ada lagi kotoran yang masih ditingalkan olehnya.” Maka beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Shalat lima waktu, ibadah jum’at dan puasa Ramadhan yang kita jalani ini adalah sebuah kegiatan rutinitas. Berkala kita lakukan selama hidup dan iman ini ada. Jika di-qiyas-analogi-kan diri kita ini (jasmani dan rohani) adalah sebuah system, maka ianya memerlukan perawatan. Dan system perawatan terbaik adalah preventive/pencegahan. Hapusnya dosa adalah perawatan efektif terhadap diri kita. Ditengah deru dan gelombang kemaksiatan di jaman ini, penghapusan kerak-kerak dosa sangatlah diperlukan.</p>
<p>Bukanlah kita tidak menginginkan diri kita (jasmani dan rohani) rusak? Betapa tidak enaknya sakit jasmani apalagi sakit rohani. Apa kita mau jasmani atau rohani kita sudah rusak, kemudian baru kita berusaha mencari solusinya. Maka inilah sebagian kecil hikmah syariat Islam, bahwa ianya akan selalu pas dan klop jika diterapkan oleh setiap insan. Bukankah syariat Islam datang dari Sang Rabbul’alamin, Sang Pencipta, Pemilik dan Pemelihara sekalian makhluk?.</p>
<p>Cobalah tengok sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih. Mereka adalah sosok yang selalu prima kondisi jasmani dan rohani-nya. Dengan syariat Islam-lah mereka memelihara diri hingga menampakkan unjuk kerja yang selalu puncak.</p>
<p>Bulan Ramadhan adalah sarana pemeliharaan yang disediakan Allah Jalla wa ’Ala bagi hambanya. Mari kita memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Siram terus kegersangan ruhani kita dengan berbagai aktivitas ibadah. Istirahatkan lambung dan nafsu duniawi kita. Saatnya kita mawas diri, introspeksi, muhasabah, merawat diri secara total di bulan mulia ini. Apa jaminan kita berjumpa Ramadhan tahun depan? Tidak ada jaminan. Maka mulailah dari sekarang. Semoga esok kita bisa tampil prima, seprima kondisi lampu neon di ruangan saya hari itu. Terang dan cerah menyebarkan aura penuh semangat dan produktivitas.</p>
<p>*preventive maintenance: system perawatan sebelum terjadi kerusakan berdasarkan hasil inspeksi, deteksi dan koreksi secara sistematis.</p>
<p>M. A. Bramantya<br />
-semoga Allah menjaga keikhlasannya.</p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/359/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=359&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/09/17/ramadhan-sakura-di-belajarislam-com-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>