<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BRAMANTYA's center</title>
	<atom:link href="http://bramantya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bramantya.wordpress.com</link>
	<description>research and personal web-pages</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Dec 2009 12:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bramantya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/726fe5c260dd9cfe3967e94a6d36b020?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BRAMANTYA's center</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Masih gedhe, udah kecil…</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/12/03/masih-gedhe-udah-kecil%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/12/03/masih-gedhe-udah-kecil%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 11:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak-anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Sambil membuka mata pertama di pagi hari sehabis bobok semalaman, anak saya yang kedua, Salman, tiba-tiba “gemremeng” (bicara lirih secara terus menerus) “masih gedhe…udah kecil…masih gedhe…udah kecil…”. Lha kami – orang tua – yang mendengarnya sedikit mengernyitkan dahi tanda belum paham. Ini anak bukannya berdoa sehabis tidur, malah gemremeng lucu.
Hari itu genap 3 tahun usia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=512&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_513" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/12/mainan.jpg"><img class="size-medium wp-image-513" title="mainan" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/12/mainan.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">mainan (hasil jepretan Salwa @5th)</p></div>
<p>Sambil membuka mata pertama di pagi hari sehabis bobok semalaman, anak saya yang kedua, Salman, tiba-tiba “<em>gemremeng</em>” (bicara lirih secara terus menerus) “<em>masih gedhe…udah kecil…masih gedhe…udah kecil…</em>”. Lha kami – orang tua – yang mendengarnya sedikit mengernyitkan dahi tanda belum paham. Ini anak bukannya berdoa sehabis tidur, malah gemremeng lucu.</p>
<p>Hari itu genap 3 tahun usia Salman. Pikiran dan perasaan saya menerawang <em>flash-back</em> ke suasana tiga tahun yang lalu. Sungguh mengharu biru kisah kelahiran Salman, menyisakan pelajaran luar biasa bagi kami, orang tuanya. Nostalgia artikelnya ada <a href="http://bramantya.wordpress.com/2007/06/15/anak-itu-bernama-salman/" target="_blank">disini</a>. Tapi itu adalah masa lalu, lembaran yang telah tertutup dan menjadi sejarah, tapi bisa juga dijadikan bahan renungan bagi yang menghendakinya. <a href="http://bramantya.wordpress.com/2007/06/12/11/" target="_blank">Dia yang tak akan kembali</a>.</p>
<p>Kini, Salman tumbuh menjadi balita sebagaimana pada umumnya. <span id="more-512"></span>Hanyasaja, ketika kami membuat perbandingan, sungguh menakjubkan perbedaannya dengan anak perempuan pertama kami, Salwa. Secara kami sudah mengalami suka-duka hidup terlebih dahulu bersama Salwa, kehadiran Salman yang merupakan anak kedua dan beda jenis kelamin dengan kakaknya, cukup membuat perubahan suasana yang drastik di keluarga kami. Dahulu, rumah tangga kami riuh rendah dengan kelakuan dan kenakalan anak perempuan, kini semakin heboh dengan <em>style </em>anak laki-laki.</p>
<h3><span style="color:#0000ff;">Terbolak baliknya susunan kalimat</span></h3>
<p>Kemampuan verbal alias ngomongnya Salman terbilang lebih cepat daripada Salwa. Namun kemampuan motorik Salwa boleh dikatakan lebih cepat berkembang daripada Salman. Apakah ini terkait dengan jenis kelamin? <em>Wallahu a’lam</em>, kata sebagian orang memanglah demikian. Inilah keseimbangan yang kerap terjadi pada anak-anak, bukti ke-maha-sempurna-an Sang Pencipta. Lha kalo anak anda selalu “<em>cepat</em>” apa-apa-nya, bersyukurlah !, mungkin anda sedang diuji dengan anak jenius. Namun jika anak itu selalu “<em>lambat</em>” apa-apa-nya, lebih bersyukurlah ! sekali lagi lebih bersyukurlah !, sebab mungkin anda sedang diberi karunia lebih luas untuk menghantarkan (mendidik) anak tersebut mengarungi bahtera kehidupan ini.</p>
<p>Di usianya yang tiga tahun, Salman masih sering terbolak-balik susunan kalimatnya, kacau tapi lucu. Seperti yang terjadi pagi itu, dengan mimik, raut muka, bocah bangun tidur yang polos, mulut mungilnya keluar ucapan “<em>masih gedhe, udah kecil</em>”. Maksudnya adalah “<em>sudah besar dan masih kecil</em>”. Lebih detail lagi adalah ketika Salman kami larang untuk berbuat sesuatu atau disuruh sesuatu, kami memberi pengertian bahwa Salman masih kecil (masih anak-anak) sedang yang sebaliknya karena dia sudah besar (dewasa). Misal tidur awal, tidak bermain/keluar rumah dimalam hari, minum atau makan sesuatu (pedas, asam dan citarasa aneh lainnya), dan lain sebagaimana. Rupanya larangan atau suruhan kami dengan berdalih masih kecil atau sudah besar itu terbawa ke alam tidur Salman, dan secara dia masih terbatas kemampuan merangkai kalimatnya (terbolak balik) terucaplah apa terucap “<em>masih gedhe, udah kecil</em>”.</p>
<h3><span style="color:#0000ff;">Kuatnya imajinasi</span></h3>
<p>Dalam fragmen yang lain, “<em>ngeengg ngeeengg…..tiinnn tiinnnn…ngeengg</em>” dengan riangnya Salman memegang tutup bekas es krim berbentuk elips sambil diputar putar dengan tangannya sembari ngesot (tahu kan istilah ngesot? Hehehe…ada yg bisa membantu) bergerak maju atau mundur. Apa yang ada di benak Salman? “<em>sedang naik mobil nie…ini klaksonnya</em>” demikianlah Salman memberikan konfirmasi</p>
<p>Atau ketika makan biskuit (cracker), setelah beberapa gigitan Salman teriak-teriak “<em>Ayah ini mobil Jeep…</em>” sambil menunjukkan hasil gigitan biskuitnya yang berbentuk mirip mobil (iya deh mirip… setelah kami berpikir cukup lama, saking abstraknya padanan bentuk mobil dan gigitan biskuit di tangan Salman).</p>
<p>Lain cerita dengan mainan kertasnya, tatkala bermain mewarnai bersama sang kakak, seperti biasa Salman cepat <em>bete </em>(bosan tinggi?), (mungkin) karena hasil mewarnainya masih belepotan tak berbentuk (paling dijawab “<em>bolah bundhet</em>” benang kusut). Kemudian tangannya yang mungil menggulung kertas itu sebisanya, tiba-tiba “<em>ciaat….ibu tak perang</em>&#8230;jus..jusss” sambil mengacungkan kertas hasil gulungannya. Halah, dasar anak lelaki, sukanya main perang-perangan, kertas digulung berbentuk gak jelas pun dijadikan pedang.</p>
<p>Cukup banyak deretan imajinasi Salman yang kerap membuat kami tercengang. <em>Bisa-bisanya….! </em>Fenomena ini cukup menarik perhatian sang kakek, kata beliau anak yang mempunyai imajinatif tinggi merupakan simbol kreativitas, punya bakat cerdas. Halah…dikomentari seperti itu orang tuanya yang besar kepala (si anak <em>mene gue tehek, emang gue pikirin</em>), hidungnya serasa tambah panjang beberapa mili, hehehehe. Amin, semoga demikian.</p>
<h3><span style="color:#0000ff;">Kreativitasnya kerap menjadi <em>Trade-mark</em></span></h3>
<p>Dan karena sering dan banyaknya (perbandingan ini kami buat diantara kedua anak kami lho, kalo dengan anak anda, <em>ya embuh</em> entahlah, besar kemungkinan anak andalah yang terbaik, hehehe…) kreativitas yang mencuat dari Salman, secara tidak sadar pikiran kami para orang tuanya turut mengalir seiring dengan jalan pikiran Salman. Sering kami menirukan logat dan gaya bicara Salman, sering kami mengkopi gerak dan gerik khas Salman, sering kami terbawa oleh <em>Trade-mark</em> yang diciptakan Salman. Bahkan ketika Salman tidak ada diantara kami, kami pun senyum-senyum sendiri selang waktu kemudian.</p>
<p>Lucu, asyik dan sangat cair mengikuti <em>Trade-mark </em>Salman. Hiburan tersendiri bagi para orang tua yang terbawa kebiasan-kebiasaan anak. Anda setuju? Cobalah sekali-kali mempraktekkan gaya khas anak anda, serasa gimana gitu. <strong>Asal tahu diri, situasi dan kondisi</strong>, hehehe. Sebab pendidikan yang benar adalah mengajarkan yang seharusnya, misal anak salah kata atau kalimat ya…harus dibenarkan (biarpun cadel-cadel khas anak-anak, tetap harus diajarkan penuturan yang benar), bukannya latah mengikut kesalahan anak itu. Dalam hal ini, Salman akan marah dan tidak suka jikalau kebiasaan dia yang nota bene salah itu ditiru-tiru dan diulang-ulang oleh kami. <em>You got my point?</em></p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>Anak seusia Salman memang lagi fantastis-fantastis-nya perkembangan otaknya (juga komponen lainnya). Kata pakar, itulah periode <em>golden-age</em>, masa-masa sel-sel komponen otak berkembang teramat sangat menakjubkan setelah periode di dalam rahim dahulu. Dan terkadang rangkaian koneksi neuron-neuron itu masih belum kokoh benar. Hasilnya adalah kelucuan dan kekonyolan ciri khas anak-anak.</p>
<p>Ada yang bilang periode emas itu antara 0 – 6 tahun, <em>wallahu a’lam</em>. Yang jelas ada perbedaan signifikan antara anak-anak yang melampaui periode itu “<em>baik-baik saja</em>” dengan yang “<em>banyak masalah</em>”. Hal ini terlihat di usia remaja atau dewasa mereka. Meski tidak <em>saklek </em>(pasti) seperti itu, tapi kenyataan riil telah banyak membuktikannya. Coba anda searching di internet artikel terkait hal ini, atau bacalah buku-buku parenting yang cukup berbobot yang banyak beredar di pasaran.</p>
<p>Intinya, marilah lebih perhatian dengan anak-anak seusia 0 – 6 tahun. Jadikanlah “<em>celupan</em>” anda ke dalam kehidupan anak itu selalu berkesan baik dan penuh pendidikan. Sebab merekalah taruhan masa depan kita. Mari bersama mengusahakan yang terbaik. Semoga Allah yang Maha Mentarbiyah membimbing setiap langkah kita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=512&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/12/03/masih-gedhe-udah-kecil%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/12/mainan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mainan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa Belia, Awal Untuk Mulia</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/masa-belia-awal-untuk-mulia/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/masa-belia-awal-untuk-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 22:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi pertama artikel ini ada di belajarIslam[dot]com. Lalu saya unggah kembali di wordpress saya, kemudian biasanya ter-upload secara otomatis di note Facebook. Cilakanya, yang biasanya heboh adalah yg di FB, entah kenapa? mungkin FB paling populer kalee&#8230; Dan kenapa &#8220;cilaka&#8221; sebab di note FB fasilitas edit layout-nya kurang asyik, sehingga ada beberapa kesan artistik yg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=494&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Publikasi pertama artikel ini ada di <a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/729-masa-belia-awal-untuk-mulia" target="_blank">belajarIslam[dot]com</a>. Lalu saya unggah kembali di wordpress saya, kemudian biasanya ter-upload secara otomatis di note Facebook. Cilakanya, yang biasanya heboh adalah yg di FB, entah kenapa? mungkin FB paling populer kalee&#8230; Dan kenapa &#8220;cilaka&#8221; sebab di note FB fasilitas edit layout-nya kurang asyik, sehingga ada beberapa kesan artistik yg hilang. Makanya saya selalu menganjurkan, tengoklah selalu yg di wordpress. Bukannya apa-apa, tapi di wordpress inilah saya mengeditnya secara manual &#8220;<em>tak bikin secantik mungkin</em>&#8220;, jadi hargai jerih payah editan saya donk&#8230;.hehehehe&#8230;*damai*</p>
<p>Trus hal lain yg sering terluput dari pembaca yg budiman (ya anda-anda ini) adalah &#8220;<em>komentar</em>&#8220;. Dari situlah saya mendapat feed-back masukan, bisa berupa tanggapan ringan, hingga saran, kritik, <em>syukur</em> koreksi. Juga pembaca baru akan merasa lebih &#8220;<em>hidup</em>&#8221; dengan adanya komentar dari pembaca sebelumnya. Ah&#8230;itukan idealnya. Artikel ini berkenan anda buka (<em>klik</em>) saja sudah untung, lebih-lebih dibaca sampai akhir (<em>tersanjung saya</em>), <em>dikasih hati kok &#8220;ngrogoh&#8221; minta rempela</em>. Terimakasih ya&#8230;selamat membaca&#8230;semoga bermanfaat&#8230;</p>
<div id="attachment_495" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-495" title="logo-paud" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/logo-paud.jpg?w=300&#038;h=300" alt="logo-paud" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">logo PAUD, pendidikan anak usia dini, Sehat-Cerdas-Ceria, silakan dihubungkan sendiri dengan isi artikel <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong><span id="more-494"></span>Masa Belia, Awal Untuk Mulia</strong></span></p>
<p>Written by Muhammad Agung Bramantya</p>
<p>Wednesday, 11 November 2009 00:00</p>
<p>Konon, Muammar Khadafi ketika memimpin negaranya hasil kudeta, dia telah berniat sunguh-sungguh tentang hal ini sejak usia remaja. Negara Jepang maju pesat setelah para pemudanya memecut diri dengan kemandirian dan kreatifitas yang luar biasa, sejak Restorasi Meiji dengan sosok Kaisar yang juga masih muda belia. Malaysia yang dulunya berguru dari Indonesia , kini terlihat lebih maju setelah para pemuda yang dulunya berguru ke luar negeri, pulang. Lalu bagaimanakah dengan agama Islam yang kita anut?</p>
<blockquote><p><em>Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata: “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru adanya Illah selain Dia.”</em> (Al Kahfi: 13 &amp; 14).</p></blockquote>
<blockquote><p><em>Sesungguhnya Allah benar-benar kagum terhadap anak muda yang tidak memiliki kecenderungan terhadap hal-hal yang negatif yang mampu ia lakukan.</em> (HR Ahmad dalam Musnadnya 4/158)</p></blockquote>
<p>Lihatlah pemuda-pemuda (juga pemudi, dlm artikel yg lain <em>insya Allah</em>) Islam terbaik sepanjang zaman ini:</p>
<p><strong>AZ ZUBEIR BIN AWWAM</strong>, teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam di zamannya. Umurnya waktu itu adalah <strong>15 tahun</strong>.</p>
<p><strong>THALHAH BIN UBAIDILLAH</strong>, pembesar utama barisan Islam di Mekkah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang mahir, donator utama fii sabilillah, yang mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhatul khoir (pohon kebaikan). Usianya waktu itu adalah <strong>16 tahun</strong>.</p>
<p><strong>SA’AD BIN ABI WAQASH</strong>, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, pelindung Nabi ketika perang terutama saat perang Uhud yang mencekam. Umurnya baru menginjak <strong>16 tahun</strong>.</p>
<p><strong>ALI BIN ABI THALIB</strong>, as sabiqunal awwalun pionir kaum muslimin di saat kritis baru berusia <strong>10 tahun</strong>.</p>
<p><strong>ZAID BIN TSABIT</strong>, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia <strong>13 tahun</strong>, pemuda jenius mahir baca-tulis (arab, ibrani, suryani, dll) yang Rasulullah bersabda (perintah): “Wahai Zaid, tulislah”. Mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia <strong>21 tahun</strong>. Namanyapun tercetak indah dalam Al Qur’an secara harfiah.</p>
<p><strong>MU’ADZ BIN AMR</strong> (14 th) dan <strong>MU’ADZ BIN ‘AFRA’ </strong>(13 th) telah berhasil melukai orang elit sekelas Abu Jahl di perang badar.</p>
<p><strong>USAMAH BIN ZAID</strong>, namanya terkenal harum sejak usia <strong>12 th </strong>ketika Rasulullah menunjuknya sebagai penasehat pribadi bersama Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fitnah “Aisyah selingkuh”, <strong>15 th </strong>menjadi penghubung antara sahabat dengan Rasulullah, puncaknya <strong>18 th </strong>memimpin armada perang menggempur Negara adikuasa Romawi di Syam.</p>
<p>Apakah mereka tokoh-tokoh dongeng nan fiktif?. Bukan.., mereka adalah manusia biasa yang nyata seperti kita, yang telah mengukir prestasi gemilang di masa mudanya. Merekalah agen perubahan Islam yang mampu mendobrak kawasan barat dan timur sehingga Islam menyebar ke seantero jagad.</p>
<p>Kalau kita melihat masa kita ini, “<em>rasanya kok janggal</em>”. Bayangkan usia 12-18 th, jika saat ini seusia SMP-SMA ya&#8230;rasakan dengan penuh perasaan<em> </em>anak-anak<em> seragam biru dan abu-abu </em>itu telah mengemban dan menyelesaikan kerja-kerja besar. Kita ulas sedikit sosok Usamah bin Zaid yang berumur 18 th saat memimpin pasukan segelar sepapan menghadapi negara elit Romawi. Bukankah kemampuan panglima perang itu sangat kompleks, <em>tak hanya strategi dan ilmu kemiliteran, tapi juga meliputi leadership kepemimpinan, psikologi massa, politik situasi, logistik, kemampuan komunikasi dan negoisasi, wibawa, dan seabrek kemampuan elit lainnya</em>. Dan itu dikuasai Usamah muda belia 18 th, kiranya pendidikan macam apa yang tertempa dalam diri beliau. Latihan, training, olah pikir, rasa dan kemampuan seperti apa yang telah beliau lampaui. Jawabnya akan anda temui setelah semakin intens belajar Islam (<strong>ayo belajar lagi..!</strong>). Intinya lihatlah sosok Usamah kala itu dengan pelajar kelas 3 SMA saat ini. Bak mission impossible yang hanya terjadi di alam film dan mimpi jika ada pelajar kelas 3 SMA saat ini sekaliber Usamah. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di masa kita sekarang ini. Minimal ada empat faktor yang membuat &#8220;<em>kejanggalan</em>&#8221; tersebut:</p>
<ol>
<li>Hilangnya tarbiyah Islamiyah yang shahih dan mendasar, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat.</li>
<li>Krisis keteladanan.</li>
<li>Minder dan kurang percaya diri.</li>
<li>Gerusan media informasi yang sangat massive dan cenderung negatif</li>
</ol>
<p>Solusi agar pemuda kembali memiliki kemuliaan sebagai agen perubah menuju kebaikan umat adalah:</p>
<ol>
<li>Pelajarilah agamamu</li>
<li>Tegakkan tauhid berantas syirik, amal yang shalih bukan bid’ah, dan tinggalkan maksiyat.</li>
<li>Tautkan hati dengan masjid.</li>
<li>Bersiaplah untuk berkompetisi.</li>
<li>Selektiflah dalam mengambil teman dekat, namun tidak kurang pergaulan.</li>
<li>Pekalah terhadap zamanmu, inderalah zaman dimana engkau berada saat ini.</li>
<li>Milikilah fisik yang sehat dan gesit.</li>
<li>Aturlah waktumu.</li>
</ol>
<p>Perlu ditekankan disini masalah ilmu, sebab disana ada beberapa rona kebangkitan Islam dari para pemudanya, namun kurang ilmu, sehingga yang tampak adalah semangat belaka dan malah berdampak negatif. Sungguh indah penggalan kalimat: “<em>hajatush shohwah al islamiyyah ila ‘ilmi syar’iyyah</em>” (<strong>pentingnya kebangkitan Islam terhadap ilmu syar’i</strong>). Sehingga perubahan/kebangkitan itu berada pada jalur yang benar sesuai syariat Islam sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya dulu merubah wajah dunia.</p>
<p>Juga masalah waktu, yang ianya tidak akan pernah kembali. Betapa banyak orang tua yang ingin kembali ke masa muda untuk memperbaiki kekurangannya. Maka berubah baiklah dari sekarang&#8230;! sebelum menyesal di kemudian hari. Mulailah sekarang juga…!</p>
<blockquote><p><em>Barangsiapa yang Allah kehendaki petunjuk (hidayah), Allah lapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk tersesat, Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seakan dia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.</em> (Al An’am 125)</p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=494&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/masa-belia-awal-untuk-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/logo-paud.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">logo-paud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Secercah Sunnah di Kota nan Gerah</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/secercah-sunnah-di-kota-nan-gerah/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/secercah-sunnah-di-kota-nan-gerah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 21:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[my Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi pertama artikel ini ada di belajarIslam[dot]com.
Tulisan yang udah cukup jadul (jaman-dulu), semoga masih ada manfaatnya.
Secercah Sunnah di Kota nan Gerah
&#8211;catatan kecil tentang penerapan sunnah nabi pada muslimin di Dresden-Jerman&#8211;
Sementara riak-riak anti-Islam dan Islamphobia di Negara Jerman masih menjalar, disudut kota Dresden terhembus angin sejuk dari segelintir kaum muslim yang tinggal di kota ini. Secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=483&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Publikasi pertama artikel ini ada di <a href="http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/728-secercah-sunnah-di-kota-nan-gerah" target="_blank">belajarIslam[dot]com</a>.</p>
<p>Tulisan yang udah cukup jadul (jaman-dulu), semoga masih ada manfaatnya.</p>
<div id="attachment_484" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><img class="size-full wp-image-484 " title="dresden" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/dresden.jpg?w=640&#038;h=153" alt="dresden" width="640" height="153" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan dari pinggir sungai Elbe, Dresden, Germany</p></div>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Secercah Sunnah di Kota nan Gerah</strong></span></p>
<p>&#8211;<em>catatan kecil tentang penerapan sunnah nabi pada muslimin di Dresden-Jerman</em>&#8211;</p>
<p>Sementara riak-riak anti-Islam dan <em>Islamphobia</em> di Negara Jerman masih menjalar, disudut kota Dresden terhembus angin sejuk dari segelintir kaum muslim yang tinggal di kota ini. Secara umum, data populasi muslim di Jerman adalah 3% dari total penduduk. Jumlah tersebut belum dirinci antara muslimin penduduk asli, ataukah pendatang.</p>
<p>Hari ini, sembari menunggu pesawat yang dioperasikan perusahaan penerbangan Lufthansa yang insya Alloh membawa saya dari Dresden <em>Flughafen</em> (bandara) ke Frankfurt Main Airport untuk seterusnya kembali ke tempat belajar saya di Jepang, saya ingin berbagi cerita tentang secuil fragment kehidupan muslim di kota Dresden ini.<span id="more-483"></span></p>
<p>Satu pekan sudah saya singgah di Dresden untuk menghadiri sebuah acara Seminar Internasional ERMR2008. Dan seperti layaknya seorang muslim ketika berkunjung ke suatu tempat asing, dia pasti akan mencari saudara sesama muslimnya, minimal untuk mendapatkan informasi tentang tempat, kiblat dan jadwal shalat sekaligus makanan halal.</p>
<p>Kembali menuju sehari yang lalu, tepatnya hari jum’at 29 Agustus 2008, dimana acara penutupan Seminar Internasional telah selesai jam 12.00. Sayapun bergegas menuju <em>Islamiches Zentrum </em>(Islamic Center) yang terletak di bilangan 34 <em>Uhlandstraβe</em> (jalan Uhland) untuk shalat Jum’at yang akan dimulai jam 13.15. Islamic center ini seakan tidak layak disebut center yang merepresentasikan Islam di Dresden. Bagaimana tidak, gedung berlantai 3 ini mirip rumah kosong tak terurus dari luarnya. Memang perkembangan Islam di sini mendapat tantangan tidak sedikit dari masyarakat dan pemerintah setempat. Menurut penuturan seorang teman, gedung sewaan ini akan segera digusur. Rencana penggusuran awal tahun 2008 ini, namun sampai sekarang belum juga ada kejelasan dari pihak berwenang, maka menggantunglah status Islamic Center tercinta ini. Hingga makin tak terurus. Kedepannya, ada dua opsi bagi muslim di sini, membeli bangunan baru (perlu uang banyak) ataukah menyewa gedung yang lain (relatif terjangkau) sembari mengumpulkan uang untuk membeli dan memiliki gedung sendiri. Denger-denger harga tanah plus bangunan 3 lantai seluas 400 m3 seharga 2 juta euro (sekitar 30 milyar rupiah). Dari tempat seminar, saya naik <em>Tram </em>nomer 3 <em>pirna</em> (jurusan) <em>Wilder Mann</em> dari Halte Tram bernama <em>Numbergerplatz</em> (dekat tempat seminar) menuju Halte <em>Reichenbachstraβe </em>(halte terdekat dari Islamiches Zentrum). Ongkos kereta seharga 1.8 Euro dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Dari halte masih jalan kaki sekitar 10 menit lagi.</p>
<div id="attachment_485" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-485 " title="IMG_0445" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_0445.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_0445" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Islamiches Zentrum of Dresden, tampak luar 27-8-2008</p></div>
<div id="attachment_486" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-486 " title="IMG_0442" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_0442.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_0442" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">salah satu sudut ruang shalat Islamiches Zentrum of Dresden, lumayan penuh buku-buku bermanfaat</p></div>
<p>Singkat cerita, duduklah saya di shaf kedua bersama sekitar 50an jama’ah yang lain. Yang membuat hati teduh dan tambah takjub (dalam hati) adalah rona-rona sunnah di antara para jama’ah. Jama’ah yang hampir 50% pendatang dari Semenanjung Arab, 30% lokal Jerman, 20% muslim dari non-arab dengan dhohirnya menampakkan sunnah-sunnah mulia, ajaran Nabi Muhammad <em>Shalallahu’alaihi wa sallam</em>, diantaranya adalah sbb:</p>
<blockquote><p>Jenggot; Jubah; Tidak musbil; Jilbab syar’i; Terpisahnya ruang ikhwan dan akhwat; Mimbar dua anak tangga tanpa mihrob; Salam; Jabat tangan dan peluk silaturahim; Saling mendoakan sesama muslim ketika bertemu dan berpisah, semisal ucapan: “<em>barokallahu fiik</em>”; Shalat sunnah jum’at (bukan qobliyah) dua rakaat terus menerus setelah shalat tahiyatul masjid hingga imam naik mimbar; Khutbatul hajjah; Imam memerintahkan seorang jama’ah jum’at dengan shalat tahiyatul masjid secara langsung; Khutbah yang ringkas dan padat, diselipi penekanan tauhid dan mengikuti jalan para sahabat; Tiadanya ucapan amin berbarengan disetiap sela kalimat doa sang khotib; Bacaan imam dengan surah al a’la di rakaat pertama dan al ghosiyah di rakaat kedua; Saling meluruskan shaf (walau tanpa garis shaf) sembari menempelkan pundak dan tumit kaki di antara ma’mum; Tiada jabat tangan kanan-kiri-depan-belakang seketika selepas shalat; Shalat sunnah ba’diya jum’at.</p></blockquote>
<p>Tentu saja daftar perilaku diatas tidak semua 100% jama’ah jum’at saat itu menjalankannya, ada juga yang masih ngobrol saat khutbah dan perilaku tidak <em>nyunnah</em> lainnya. Namun demikian hal tersebut menjadi catatan kecil tentang secercah sunnah di kota nan gerah yang dapat saya rekam.</p>
<p>Akhirnya, rangkaian ibadah shalat jum’at siang itu di kota Dresden berakhir. Sementara mendung diluar sana masih menggantung dan semilir angin sejuk akhir musim panas bertiup menyelinap diantara celah jendela Islamiches Zentrum lantai dua. Dan saya pun masih duduk bersandarkan tembok, memandangi saudara-saudara seiman di Jerman saling berpisah sembari mengucap kata-kata yang tidak dapat saya pahami.</p>
<p>Bagian akhir tulisan ini dibuat di atas pesawat Boeing 747-400 satu jam sebelum landing di bandara udara Narita, Jepang, sehabis sarapan telur, kentang, roti, buah dan secangkir kopi, di ketinggian 30.000 ft dengan kecepatan jelajah 987 km/jam dan suhu diluar minus 43 derajat celcius.</p>
<p>- &#8211; - &#8211; -</p>
<p>Bramantya, 31 Agustus 2008</p>
<p>Salam hangat tuk Mas Imron dan keluarga di Dresden, Arif, Bhakti, Fajar dan lainnya.</p>
<p>Juga istriku yang barusan mendapat ujian dari “<em>school of live</em>”…</p>
<div id="attachment_489" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><img class="size-full wp-image-489" title="ermr1" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/ermr1.jpg?w=640&#038;h=126" alt="ermr1" width="640" height="126" /><p class="wp-caption-text">suasana seminar ERMR 2008</p></div>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:23px;width:1px;height:1px;"><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="719" height="172" /><!--[endif]--></span></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=483&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/13/secercah-sunnah-di-kota-nan-gerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/dresden.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dresden</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_0445.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0445</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_0442.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0442</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/ermr1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ermr1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh Dirgantara Nusantara: B.J. Habibie</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/08/tokoh-dirgantara-nusantara-b-j-habibie/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/08/tokoh-dirgantara-nusantara-b-j-habibie/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 00:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[intermezzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Inilah tokoh kedua yang saya janjikan di artikel sebelumnya. Masih mengusung tema yang sama yaitu kedirgantaraan. Tokoh kita kedua ini sekarang (07 November 2009) masih hidup. Sengaja saya ambilkan dari sosok yang masih berkiprah sampai saat ini, nafasnya masih panjang, keringatnya belum kering, pemikirannya masih terus berkembang, sumbangsih sarannya masih terus mengalir dan penanya belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=475&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_476" class="wp-caption alignleft" style="width: 241px"><img class="size-medium wp-image-476" title="iptn2" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/iptn2.jpg?w=231&#038;h=300" alt="iptn2" width="231" height="300" /><p class="wp-caption-text">Produk kedirgantaraan dalam negeri</p></div>
<p>Inilah tokoh kedua yang saya janjikan di <a href="http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/" target="_blank">artikel sebelumnya</a>. Masih mengusung tema yang sama yaitu kedirgantaraan. Tokoh kita kedua ini sekarang (07 November 2009) masih hidup. Sengaja saya ambilkan dari sosok yang masih berkiprah sampai saat ini, nafasnya masih panjang, keringatnya belum kering, pemikirannya masih terus berkembang, sumbangsih sarannya masih terus mengalir dan penanya belum tergantung. Agar kita semua bisa melihat dan meraba dengan indera normal, inilah sosok teladan yang saya cuplik kali ini, Bacharuddin Jusuf Habibie.</p>
<p>Jika Pak Nurtanio penuh dengan kisah heroik bernuansa fisik dan perjuangan pra-kemerdekaan, tangan beliau “<em>kotor</em>” berlepotan minyak pesawat hingga beliau menemui sang-maut saat <em>menjajal</em> sendiri pesawat rancangannya, sebuah kisah inspirasi tanpa mengenal kata menyerah. Maka Pak Habibie ini melukiskan nuansa yang lain, penuh kisah cerdas bernuansa high-tech, pondasi perjuangan beliau lalui berurut lengkap di bangku sekolah formal sampai jenjang tertinggi <em>Doktor Ingenieur</em> serta <em>seabrek</em> penghargaan akademis bergensi lainnya. Hingga saya rasa klop sudah menghadirkan kedua sosok tersebut, ibarat <em>yin</em> dan <em>yan</em>g melahirkan keseimbangan modal kesuksesan.</p>
<p>Tentu saja penokohan kita ini terjauh dari perilaku <em>kultus individu</em>. Tiada manusia yang sempurna, hanyasaja sungguh bodoh dan picik jika kemudian mengabaikan keberadaan suri-tauladan sekaliber beliau. Sungguh banyak mutiara berkilau yang memancar dari sosok kita yang satu ini, terlebih dalam hal semangat ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliaulah salah satu mercu suar yang dimiliki Bangsa Indonesia, semoga sinarnya makin terang dan mampu memandu generasi selanjutnya. Semoga beliau mendapatkan akhir penghidupan yang terbaik.</p>
<p>Seperti artikel yang lalu, saya cuplikkan sebuah tulisan karya orang lain dari sini:</p>
<p><a href="http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/02/biografi-bj-habibie-bapak-teknologi-dan-demokrasi-indonesia/" target="_blank">http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/02/biografi-bj-habibie-bapak-teknologi-dan-demokrasi-indonesia/</a></p>
<p>Saya tidak perlu merepotkan diri mengumpulkan data detail tentang B.J. Habibie, selain faktor malas juga agar kita bisa menghargai karya orang lain, terlebih jika bisa mengembangkannya (<em>heheheh…ngeles mode ON</em>). Ya sudah selamat menikmati kisah tokoh kita kali ini…siapkan mental baca anda!<span id="more-475"></span></p>
<h2><span style="color:#0000ff;">Biografi BJ Habibie</span></h2>
<blockquote><p><strong>Masa Muda</strong></p>
<p>Prof. Dr. Ing. -Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan Wakil Presiden RI ke-7 hanya 2 bulan. Habibie merupakan “<em>blaster</em>” antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-Pare [ayahnya].</p>
<p>Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan sifat cerdas dan semangat tingginya pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Selama 1 tahun, ia kuliah di Institut Teknologi Bandung (Teknik Mesin ITB), dan selanjutnya pada tahun 1955 beliau dikirim oleh ibunya (R.A. Tuti Marini Puspowardoyo) ke Jerman untuk melanjutkan studi di <em>Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule</em>. Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar <em>Dilpom-Ingenenieur</em> atau diploma teknik (catatan: diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat <em>summa cum laude</em>.</p>
<p>Habibie tidak berhenti dengan diploma tekniknya. Ia melanjutkan studinya hingga jenjang doktoral. Ia mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar <em>Doktor Ingenieur</em> (Doktor Teknik) dengan  indeks prestasi <em>summa cum laude</em>.</p>
<p><strong>Karir di Industri</strong></p>
<p>Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, BJ Habibie mengawali karir di Jerman dengan menjadi Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur di <em>Messerschmitt-Bölkow-Blohm</em> atau MBB Hamburg (1965-1969), dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ).</p>
<p>Sebelum memasuki usia 40 tahun, Habibie memiliki karir yang sangat cemerlang, secemerlang ilmunya dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi “<em>permata</em>” yang sangat berharga bagi negeri Jerman dan iapun mendapat “<em>kedudukan terhormat</em>”, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “<em>Habibie Factor</em>“, “<em>Habibie Theorem</em>” dan “<em>Habibie Method</em>“.</p>
<p><strong>Kembali ke Indonesia</strong></p>
<p>Pada tahun 1974, (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia. Karena rasa hormatnya pada Pak Harto sekaligus keinginannya untuk memberi sumbangsih teknologi pada bangsa ini, akhirnya Habibie pun pulang ke Indonesia pada tahun 1974 di usia 38 tahun.  Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.</p>
<p>Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada tahun 1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, iapun diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional.</p></blockquote>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_477" class="wp-caption aligncenter" style="width: 583px"><img class="size-large wp-image-477  " title="rokaf_cn-235m_05_of_11" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/rokaf_cn-235m_05_of_11.jpg?w=573&#038;h=430" alt="rokaf_cn-235m_05_of_11" width="573" height="430" /><p class="wp-caption-text">Pesawat CN-235 produksi Indonesia juga telah dioperasikan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, UEA, Pakistan, dan Burkina Faso juga oleh AU Spanyol dan Korsel</p></div>
<div id="attachment_478" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-478" title="IMG_5876_resize" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_5876_resize.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_5876_resize" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">CN 235-220 MPA “protecting yor territory”</p></div>
<blockquote><p>Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni membawa Indonesia menjadi negara industri teknologi tinggi. Ia mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju (lompatan kodok?). Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yakni lebih baik investasi di bidang pertanian dahulu baru investasi  secara bertahap hingga teknologi tinggi. Namun, Habibie memiliki keyakinan kokoh akan visinya, dan ada satu “<em>quote</em>” yang terkenal dari Habibie yakni :</p>
<p><em>“I have some figures which compare the cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I don’t think we have enough.”</em> (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)</p>
<p>Kalimat diatas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa Industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri <em>high-tech</em> (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah USD 30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen (USD 0,07). Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh beras 4,5 juta ton beras.</p>
<p>Pola pikir Pak Habibie disambut dengan baik oleh Pak Harto. Soeharto pun bersedia menggangarkan dana ekstra dari APBN untuk pengembangan proyek teknologi Habibie. Dan pada tahun 1989, Suharto memberikan “<em>kekuasan</em>” lebih pada Habibie dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti Pindad, PAL, dan PT IPTN.</p></blockquote>
<div id="attachment_479" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><img class="size-full wp-image-479" title="super-puma" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/super-puma.jpg?w=560&#038;h=373" alt="super-puma" width="560" height="373" /><p class="wp-caption-text">AS 532 Cougar Prancis (buatan PTDI diberi nama NAS 532 “super puma”) saat di Le-Bouget Airport</p></div>
<blockquote><p><strong>Habibie menjadi RI-1</strong></p>
<p>Secara materi, Habibie sudah sangat mapan ketika ia bekerja di perusahaan MBB Jerman. Selain mapan, Habibie memiliki jabatan yang sangat strategis yakni Vice Presiden sekaligus Senior Advicer di perusahaan berteknologi tinggi di Jerman. Sehingga Habibie terjun ke pemerintahan bukan karena mencari uang ataupun kekuasaan semata, tapi lebih pada perasaan “<em>terima kasih</em>” kepada Indonesia yang telah membesarkan dia dan kedua orang tuanya serta Presiden Soeharto.</p>
<p>Tiga tahun setelah kepulangan ke Indonesia, Habibie (usia 41 tahun) mendapat gelar Profesor Teknik dari ITB melalui orasi ilmiahnya tentang Konstruksi Pesawat Terbang. Selama 20 tahun menjadi Menristek, akhirnya pada tanggal 11 Maret 1998, Habibie terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-7 melalui Sidang Umum MPR. Di masa itulah krisis ekonomi (krismon) melanda kawasan Asia termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah terjun bebas dari Rp 2.000 per dolar AS menjadi Rp 10.000-an per dolar. Utang luar negeri membengkak dan banyak bank swasta mengalami kesulitan likuiditas. Inflasi meroket diatas 50%, dan pengangguran mulai terjadi dimana-mana.</p>
<p>Pada saat bersamaan, kebencian masyarakat memuncak dengan sistem orde baru yang sarat dengan Korupsi, Kolusi, Nepotisme yang dilakukan oleh kroni-kroni Soeharto. Selain KKN, sistem pemerintahan Soeharto sangatlah otoriter dan menangkap semua aktivis dan mahasiswa yang berusaha menegakkan kebenaran pada tempatnya. UU hanya digunakan untuk membungkam masyarakat kecil, sedangkan pemerintah, konglomerat, MPR/DPR yang didominasi Partai Golkar dengan mudah melanggar hukum dan menikmati rupiah demi rupiah dari hutang-hutang kapitalis yang menghancurkan Indonesia.</p>
<p>Soeharto mundur, maka Wakilnya yakni BJ Habibie pun diangkat menjadi Presiden RI ke-3 berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Namun, masa jabatannya sebagai presiden hanya bertahan selama 512 hari. Dibawah kepemimpinan Habibie, bangsa Indonesia bukan hanya sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), namun juga sukses membawa perubahan signifikn pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.Habibie merupakan presiden RI pertama yang menerima banyak penghargaan terutama di bidang IPTEK baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Jasa-jasanya dalam bidang teknologi pesawat terbang mengantarkan beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Honoris Causa) dari berbagaai Universitas terkemuka dunia, antara lain : <em>Cranfield Institute of Technology</em> dan <em>Chungbuk University</em>.</p>
<p><strong>Habibie Bertemu Soeharto</strong></p>
<p>“<em>Laksanakan saja tugasmu dengan baik, saya doakan agar Habibie selalu dilindungi Allah SWT dalam melaksanakan tugas. Kita nanti bertemu secara bathin saja</em>“, lanjut Pak Harto menolak bertemu dengan Habibie pada pembicaraan via telepon pada 9 Juni 1998. (Habibie : Detik-Detik yang Menentukan. Halaman 293)</p>
<p>Salah satu pertanyaan umum dan masih banyak orang tidak mengetahui adalah bagaimana Habibie yang tinggal di Pulau Celebes bisa bertemu dan akrab dengan Soeharto yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Pulau Jawa?</p>
<p>Pertemuan pertama kali Habibie dengan Soeharto terjadi pada tahun 1950 ketika Habibie berumur 14 tahun. Pada saat itu, Soeharto (Letnan Kolonel) datang ke Makasar dalam rangka memerangi pemberontakan/separatis di Indonesia Timur pada masa pemerintah Soekarno. Letkol Soeharto tinggal berseberangan dengan rumah keluarga Habibie. Karena ibunda Habibie merupakan orang Jawa, maka Soeharto pun (orang Jawa) merasa kedekatannnya dengan keluarga Habibie ketika bermukim di Makasar. Bahkan,  Soeharto turut hadir ketika ayahanda Habibie meninggal. Selain itu, Soeharto pun menjadi “<em>mak comblang</em>” pernikahan adik Habibie dengan anak buah (prajurit) Letkol Soeharto. Kedekatan Soeharto-Habibie terus berlanjut meskipun Soeharto telah kembali ke Pulau Jawa setelah berhasil memberantas pemberontakan di Indonesia Timur.</p>
<p>Pada tahun 1955, setelah satu tahun di ITB, Habibie melanjutkan studi Teknik Pembuatan Pesawat Terbang di Aachen, Jerman. Dan setelah Habibie menyelesaikan studi di Jerman  selama hampir 10 tahun ditambah dengan bekerja selama 9 tahun, akhirnya Habibie dipanggil pulang ke tanah air oleh Pak Harto.  Meskipun ia tidak mendapat beasiswa studi ke Jerman dari pemerintah (biaya kuliah dan hidupnya dibiayai oleh orang tuanya), Habibie tetap bersedia pulang untuk mengabdi kepada negara, terlebih permintaan tersebut berasal dari Pak Harto yang notabene adalah ’seorang guru’ bagi Habibie. Habibie pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk membangun industri teknologi tinggi.</p>
<p>Bersama Ibnu Sutowo, Habibie kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Soeharto pada tanggal 28 Januari 1974. Habibie mengusulkan beberapa gagasan pembangunan seperti berikut:</p>
<p>•	Gagasan pembangunan industri pesawat terbang nusantara sebagai ujung tombak industri strategis</p>
<p>•	Gagasan pembentukan Pusat Penelitan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek)</p>
<p>•	Gagasan mengenai Badan Pengkajian dan Penerapan Ilmu Teknologi (BPPT)</p>
<p>Gagasan-gagasan awal Habibie menjadi masukan bagi Soeharto, dan mulai terwujud ketika Habibie menjabat sebagai Menristek periode 1978-1998.</p>
<p><strong>Habibie: Bapak Teknologi Indonesia</strong></p>
<p>Pemikiran-pemikiran Habibie yang “<em>high-tech</em>” mendapat “<em>hati</em>” pak Harto. Bisa dikatakan bahwa Soeharto mengagumi pemikiran Habibie, sehingga pemikirannya dengan mudah disetujui pak Harto. Pak Harto pun setuju menganggarkan “dana ekstra” untuk mengembangkan ide Habibie. Kemudahan akses serta kedekatan Soeharto-Habibie dianggap oleh berbagai pihak sebagai bentuk kolusi Habibie-Soeharto. Apalagi, beberapa pihak tidak setuju dengan pola pikir Habibie mengingat pemerintah Soeharto mau menghabiskan dana yang besar untuk pengembangan industri-industri teknologi tinggi seperti saran Habibie.</p>
<p>Tanggal 26 April 1976, Habibie mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara (catatan : Nurtanio meruapakan Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia). Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985, kemudian direkstrurisasi, menjadi Dirgantara Indonesia (PT DI) pada Agustuts 2000. Perlakuan istimewapun dialami oleh industri strategis lainnya seperti PT PAL dan PT PINDAD.</p>
<p>Sejak pendirian industri-industri statregis negara, tiap tahun pemerintah Soeharto menganggarkan dana APBN yang relatif besar untuk mengembangkan industri teknologi tinggi.  Dan anggaran dengan angka yang sangat besar dikeluarkan sejak 1989 dimana Habibie memimpin industri-industri strategis. Namun, Habibie memiliki alasan logis yakni untuk memulai industri berteknologi tinggi, tentu membutuhkan investasi yang besar dengan jangka waktu yang lama. Hasilnya tidak mungkin dirasakan langsung. Tanam pohon durian saja butuh 10 tahun untuk memanen, apalagi industri teknologi tinggi. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun industri strategis ala Habibie masih belum menunjukan hasil dan akibatnya negara terus membiayai biaya operasi industri-industri strategis yang cukup besar.</p>
<p>Industri-industri strategis ala Habibie (IPTN, Pindad, PAL) pada akhirnya memberikan hasil seperti pesawat terbang, helikopter, senjata, kemampuan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal, tank, panser, senapan kaliber,  water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.</p>
<p>Untuk skala internasional, BJ Habibie terlibat dalam berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dangn teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal), CN-235, dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, Habibie secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.</p>
<p>Karena pola pikirnya tersebut, maka saya menganggap beliau sebagai bapak teknologi Indonesia, terlepaskan seberapa besar kesuksesan industri strategis ala Habibie. Karena kita tahu bahwa pada tahun 1992, IMF menginstruksikan kepada Soeharto agar tidak memberikan dana operasi kepada IPTN, sehingga pada saat itu IPTN mulai memasuki kondisi kritis. Hal ini dikarenakan rencana Habibie membuat satelit sendiri (catatan : tahun 1970-an Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 pemakaian satelit), pesawat sendiri, serta peralatan militer sendiri. Hal ini didukung dengan 40 0rang tenaga ahli Indonesia yang memiliki pengalaman kerja di perusahaan pembuat satelit Hughes Amerika akan ditarik pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri teknologi tinggi di Indonesia. Jika hal ini terwujud, maka ini akan mengancam industri teknologi Amerika (mengurangi pangsa pasar) sekaligus kekhawatiran kemampuan teknologi tinggi dan militer Indonesia.</p>
<p><strong>Teori Pembangunan Ekonomi  Habibie</strong></p>
<p>Menjadi pimpinan di Industri Pesawat Terbang skala besar di Jerman selama bertahun-tahun memberikan inspirasi dan mempengaruhi pemikiran Habibie. Berlandaskan pengalaman itu, Habibie memiliki keyakinan bahwa untuk bisa menjadi negara maju tidak selalu perlu melewati “<em>tahap-tahap</em>” pembangunan yakni pertanian/agraris industri pengolahan pertanian, manufaktur, industri teknologi rendah/menengah baru ke teknologi tinggi. Ia mengemukan teori pembangunan ekonomi negara yang berbeda yakni “<em>Dari negara agraris langsung melompat ke tahap negara industri teknologi tinggi</em>”, tanpa harus menunggu dan melewati kematangan indsutri pertanian, atau tahapan industri manufaktur serta teknologi rendah.</p>
<p>“<em>The basis of any modern economy is in their capability of using their renewable human resources. The best renewable human resources are those human resources which are in a position to contribute to a product which uses a mixture of high-tech.</em>” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)</p>
<p>Dari teori pembangunan ekonomi tersebut, Habibie sangat menekankan pada kualitas SDM bukan semata SDA. Dengan meningkatkan sumber daya manusia (human resources), maka kita dapat membuat produk berteknologi tinggi dimana memiliki nilai jual yang tinggi. Hal ini pun akan mentriger berdirinya perusahaan-perusahaan pendukung dengan teknologi lebih rendah. Jadi, prinsip pembangunan industri ala Habibie adalah <em>Top-Down</em> (dari tinggi hingga ke rendah). Sedangkan secara konvensional adalah dari <em>Down-Top </em>(dari industri teknologi rendah ke teknologi tinggi).</p>
<p>Selama masa pengabdiannya di Indonesia, Habibie memegang 47 jabatan penting seperti : Direkur Utama (Dirut) PT. Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), Dirut PT Industri Perkapalan Indonesia (PAL), Dirut PT Industri Senjata Ringan (PINDAD), Kepala Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Kepala BPPT, Kepala BPIS, Ketua ICMI, dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong>Habibie : Master of Economic Solving</strong></p>
<p>Sejak era reformasi 1998, tampaknya hanya Habibie yang menjadi presiden yang benar-benar sukses mengelola ekonomi dengan baik. Dalam kondisi yang amburadul, kacau balau baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan tiada hari tanpa demonstrasi, Habibie mampu membawa ekonomi Indonesia yang lebih baik.</p>
<p>Meskipun Presiden Singapura Lee Kuan Yeew berusaha mendiskritkan kemampuan Habibie untuk memimpin Indonesia, toh Habibie menunjukkan bukti. Ketika banyak orang yang menyangsikan bahwa Habibie mampu bertahan selama 3 hari sebagai Presiden, namun semua dapat dilalui. Lalu, pihak-pihak yang tidak suka dengan Habibie pun menyampaikan opini bahwa Habibie tidak mampu bertahan lebih dari 100 hari. Sekali lagi, Habibie membuktikan bahwa ia mampu memimpin Indonesia dalam kondisi kritis.</p>
<p>Dari nilai tukar rupiah Rp 15000 per dollar diawal jabatannya, Habibie mampu membawa nilai tukar rupiah ke posisi Rp 7000 per dollar. Ketika inflasi mencapai 76% pada periode Januari-September 1998, setahun kemudian Habibie mampu mengendalikan harga barang dan jasa dengan kenaikan 2% pada periode Januari-September 1999. Indeks IHSG naik dari 200 poin menjadi 588 poin setelah 17 bulan memimpin.</p>
<p>Beberapa keberhasilan ekonomi di era Habibie sebenarnya tidak lepas dari usaha keras dan perubahan mendasar dari para tokoh reformis yang duduk di kabinet seperti Adi Sasono (Men. Koperasi), Soleh Salahuddin (Men. Kehutanan dan Perkebunan), Tanri Abeng (Men. BUMN). Namun, perlu disadari bahwa Habibie bukanlah presiden yang benar-benar reformis dalam menolak kebijakan ekonomi ala IMF. Dengan keterbatasannya, beliau terpaksa menjalanakan 50 butir kesepakatan (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan IMF, sehingga penangganan krisis ekonomi di Indonesia pada hakikatnya lebih pada penyembuhan dengan “<em>obat generik</em>”, bukan penyembuhan ekonomi “<em>terapis</em>” ataupun “<em>obat tradisional</em>”. Sehingga ketika meninggalkan tampuk kekuasaan, Indonesia masih rapuh.</p>
<p><strong>Habibie: Cendekiawan Muslim</strong></p>
<p><em>Kekuasaan adalah amanah dan titipan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bagi mereka yang percaya atas eksistensi-Nya. Bagi mereka yang tidak percaya atas eksistensi-Nya, kekuasaan adalah amanah dan titipan rakyat. Pemilik kekuasaan tersebut, setiap saat dapat mengambil kembali milik Nya dengan cara apa saja. </em>(Habibie : Detik Detik yang Menentukan, halaman 31)</p>
<p>Selain memiliki kecerdasan yang tinggi (mungkin orang terjenius dari Indonesia), Habibie dikenal sebagai cendekiawan muslim yang taat sekaligus reformis. Dalam menghadapi berbagai kesulitan, Habibie tidak luput dari do’a dan sholat untuk mendapat petunjuk atau ilham. Mendapat jabatan sebagai Presiden bagi Habibie merupakan amanah dan titipan dari Allah untuk mengabdi dengan sepenuh hati.</p>
<p>Meskipun tidak terjun dalam dunia politik dan kekuasaan, Habibie tetap memberikan sumbangsih kepada bangsa Indonesia dengan mendirikan The Habibie Centre pada 10 November 1999. Habibie Center merupakan organisasi yang berusaha memajukan proses modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas dan integritas budaya dan nilai-nilai agama. Ada dua misi utama Habibie centre yakni  (1) menciptakan masyarakat demokratis secara kultural dan struktural yang mengakui, menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mengkaji dan mengangkat isu-isu perkembangan demokrasi dan hak asasi manusia, dan (2) memajukan dan meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia dan usaha sosialisasi teknologi. Beberapa kegiatan yang dikenal luas oleh masyarakat dari Habibie Centre yakni seminar, pemberian beasiswa dalam dan luar negeri, Habibie Award serta diskusi mengenai peningkatan SDM maupun IPTEK.</p>
<p>Selain mendirian The Habibie Centre, Habibie juga berjasa dalam pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 7 Desember  1990 atas persetujuan Soeharto. ICMI merupakan wahana menampung cendekiawan-cendekiawan muslim untuk bersama-sama berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat. Pada awalnya, ICMI didirikan untuk menampung aspirasi pengusaha non-China  yang benci akan kekayaan dan pengaruh dari keluarga etnis China yang kaya. ICMI mempunyai bank sendiri dan koran harian yang diberi nama Republika.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Setelah tulisan biografi Habibie yang “<em>super panjang</em>” ini, saya akan mengakhiri ceritera ini dengan beberapa poin harapan.</p>
<p>Semoga  “<em>Habibie-Habibie</em>” baru yang genius bermunculan di seantero nusantara sehingga Indonesia tidak hanya menjadi “penonton” atau konsumen atas produk-produk berteknologi</p>
<p>Semoga generasi muda bangsa Indonesia memiliki semangat teknopreneur yang minimal sama dengan semangat Habibie dalam mengembangkan industri-industri strategis. Dan harapannya, orang-orang pintar dan cerdas Indonesia dapat memberikan karyanya bagi perkembangan industri Indonesia, bukan menghabiskan seluruh hidupnya di perusahaan asing.</p>
<p>Saya bangga dengan sikap Habibie yang tidak mencalonkan diri sebagai presiden, namun beliau tetap memberikan kontribusi nyata melalui berbagai organisasinya seperti The Habibie Centre serta siap selalu memberikan masukan dan bimbingan bagi para politisi/penguasa melalui berbagai dialog atau seminar.Semoga Habibie terus memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaganya bagi bangsa Indonesia dan selalu dikarunia fisik yang sehat.</p></blockquote>
<div id="attachment_480" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-480" title="CN 250" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/cn-250.jpg?w=300&#038;h=189" alt="CN 250" width="300" height="189" /><p class="wp-caption-text">CN 250 - 100</p></div>
<p>Selamat sekali lagi, anda sampai di penghujung artikel tentang sosok kedua pahlawan kedirgantaraan Indonesia. Berhubung sudah ditutup oleh penulis artikel tadi…ya…saya hanya menambahkan: <em>Hati-hati di jalan, karena anda memiliki jalan yang berbeda dengan B.J. Habibie maupun Nurtanio, laluilah jalanmu sendiri dengan penuh semangat hasil selipan kebaikan kedua tokoh tsb…semoga selamat sampai tujuan&#8230;</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=475&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/08/tokoh-dirgantara-nusantara-b-j-habibie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/iptn2.jpg?w=231" medium="image">
			<media:title type="html">iptn2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/rokaf_cn-235m_05_of_11.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">rokaf_cn-235m_05_of_11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/img_5876_resize.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_5876_resize</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/super-puma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">super-puma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/cn-250.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">CN 250</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 10:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi pertama artikel ini ada di belajarislam[dot]com


Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis
Written by Muhammad Agung Bramantya
Monday, 02 November 2009 21:58
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*)
Ikatlah ilmu dengan tulisan (**)
Sahabat belajarIslam,
Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=469&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Publikasi pertama artikel ini ada di <a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/726-jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis" target="_blank">belajarislam[dot]com</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/726-jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis" target="_blank"><br />
</a><img class="aligncenter size-medium wp-image-470" title="qq3mw" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/qq3mw.jpg?w=300&#038;h=240" alt="qq3mw" width="300" height="240" /></p>
<h1><span style="color:#0000ff;">Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis</span></h1>
<p>Written by Muhammad Agung Bramantya</p>
<p>Monday, 02 November 2009 21:58</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan </em>(*)</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ikatlah ilmu dengan tulisan</em> (**)</span></p></blockquote>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, <em>audio-visual</em>, <em>multimedia</em> dan <em>cyber</em>. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui <strong>berurut dan utuh</strong> jika ingin menjadi manusia unggul, umat kebanggaan dan bangsa gemilang. Urutan yang linier dan utuh inilah yang hilang dari bangsa kita. Setelah sukses <em>berbusa-busa bersitegang urat leher </em>dengan budaya lisan (ngomong, ngobrol, debat, diskusi, ceramah, kuliah, ngrumpi) tiba-tiba langsung meloncat ke budaya audio-visual dan multimedia (teve, film, musik, dlsb) lalu kini <em>termehek-mehek</em> dengan budaya <em>cyber</em>.<span id="more-469"></span></p>
<p>Cobalah tengok masyarakat/bangsa yang dikatakan maju dan sukses saat ini (secara materi/duniawi), mereka pasti sangat kental dengan budaya baca dan tulis. Contohnya Negara Jepang dan sebagian Negara maju di Eropa (Jerman, Perancis, dll), masyarakatnya selalu mengisi hari dan waktu luang mereka dengan membaca, baik saat antri di loket, di perjalanan KA, bus atau pesawat, menunggu di lobi, menunggu datangnya kendaraan umum, di loby, jeda kuliah, dan semua waktu mereka hampir terisi dengan kegiatan membaca. Lalu tulisan, sekian banyak karya ilmiah dan non-ilmiah mereka berjibun di media-media tulisan lokal maupun internasional.</p>
<p>Beda dengan kita, cobalah tengok ditempat-tempat seperti yang dicontohkan diatas. Apa yang mereka lakukan? <em>Ngobrol</em> (budaya lisan), nonton tv atau denger musik (budaya audio-visual, multimedia) bahkan asyik memainkan <em>gadget </em>berinternet (budaya cyber –yg paling-paling cuma chatting, FB, FS dan semisalnya-). Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada yang membaca apalagi menulis artikel.</p>
<p>Bahkan budaya <em>cyber </em>di bangsa kita dengan <em>seabrek gadget </em>canggih sebagai pelengkapnya cukup merisaukan. Bangsa yang “<em>dinilai hampir gagal</em>” ini cukup fantastis dalam membukukan penjualan <em>gadget</em> semisal <em>blackberry </em>dan mobile-phone lainnya, konon menempati rangking ke-empat dunia. Sehingga bangsa ini dengan penduduk berjibun menjadi bangsa “<em>tester</em>” bagi produk baru. Dan status sebagai bangsa “<em>pangsa pasar</em>“ inilah yang selalu ingin dipertahankan para produsen dan bisnis-man itu.</p>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>Itulah keprihatinan kita, jika kemudian mengaca pada umat Islamnya, lebih <em>ngenes</em> lagi. Tradisi belajar <em>tholabul-ilmi-syar’i </em>yang kental dengan membaca dan menulis seakan hilang ditelan jaman. Cukup sulit kita menemui tulisan berwawasan Islam as-shahih lahir dari pena-pena muslimin anak bangsa kita. Tebaran pandangan kita keseharian juga sulit terantuk pada sosok muslim yang gemar membaca bacaan Islami. Padahal Islam yang mulia sudah <em>mewanti-wanti</em> pentingnya membaca dan menulis dalam tradisi keilmuan dan keseharian. Kutipan Firman Allah dan Sabda Rasulullah diawal tulisan diatas sangat cukup sebagai alasan (dalil). Bahkan “<em>bacalah</em>” adalah wahyu pertama yang sampai ke junjungan Nabi <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em>. Silakan merujuk pada buku tafsir yang terkenal semisal Ibnu Katsir dalam mentafsirkannya.</p>
<p>Faktanya, Islam pernah gemilang dan bercahaya menaungi sepertiga bola dunia. Peradaban umat Islam kala itu sangat kental dengan bacaan, tulisan dan pembelajaran. Ulama sekelas Ibnu Jarir at Thabari menulis rata-rata 14 halaman per harinya jika ditinjau dari seluruh umur beliau. Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah segudang yang sampai ke tangan kita, belum yang hilang/tidak ketemu. Ulama terkenal dari keempat madzhab dikenal tidak “<em>omong doang</em>”, tapi dikenal dengan buku dan karya tulis mereka yang monumental. Bahkan Al Qur’an Kalamullah dan Hadits yang mulia sampai ke pelukan kita saat ini melalui media tulisan. Konon sebagian ulama besar Islam sampai hilang atau berkurang penglihatannya karena saking banyaknya membaca.</p>
<p>Begitulah peran strategis budaya membaca dan menulis. Ianya tidak akan terpisah dari kemajuan suatu zaman, keunggulan seorang insan. Membaca dan menulis adalah <em>sunnatullah </em>yang mengiringi keberhasilan umat. Artikel ringkas ini hanyalah mengingatkan kita…ya…saya dan anda untuk melecutkan semangat membaca dan menulis. Mungkin kita sudah membaca (<em>lha ini sedang membaca artikel ini</em>) dan menulis. Tapi level membaca dan menulis kita masih sangat sangat rendah. Mau bukti? <em>Hayo… berapa halaman bacaan yang sudah kita baca, berapa halaman tulisan karya/catatan kita, ditotal terus dibagi dengan jumlah hari kita hidup</em>. Saya masih ragu hasilnya lebih dari 1 halaman, terutama soal tulisan…terbukti?</p>
<p>Lalu apa guna sebuah ayat suci dan sebuah hadits mulia tersebut diatas? Berlalu tanpa bekas dan atsar di diri kita? Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Mulailah kecanduan membaca, insyaAllah bermanfaat. Mulailah gandrung menulis, insyaAllah tidak rugi. Semoga kecanduan baca dan kegandrungan menulis anda menular kepada orang di dekat anda, dan terus menjalar ke masyarakat bangsa kita hingga Allah turunkan berkah diatasnya.</p>
<p><em>Selamat membaca dan menulis&#8230;</em></p>
<blockquote><p>(*) Qur’an surat Al Alaq: 1</p>
<p>(**) Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216; Abdil Barr dalam al-Jaami&#8217; (1/306, no. 395), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallanhu&#8217;anhu. Lihat takhrij lengkapnya dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah (no. 2026) dan Shahiih al-Jaami&#8217;ish Shaghiir (no. 4434).</p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=469&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/qq3mw.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">qq3mw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh Dirgantara Nusantara: Nurtanio Pringgoadisuryo</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Fluida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Tempo hari pernah saya sampaikan &#8220;deret selebritis fluid mechanics&#8221; disini. Hari ini saya ingin mengulas dua tokoh nasional di bidang dirgantara Indonesia. Kenapa Tokoh Nasional dan kenapa bidang Dirgantara? Karena saya sangat menyukai bidang Kedirgantaraan, lebih khusus lagi tentang perancangan pesawat terbang dan aerodinamika, dan saya lebih memilih tokoh nasional yang secara budaya, geografis dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=459&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="merancang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg?w=300&#038;h=182" alt="merancang" width="300" height="182" /></a>Tempo hari pernah saya sampaikan &#8220;deret selebritis fluid mechanics&#8221; <a href="http://bramantya.wordpress.com/2009/05/27/deret-selebritis-fluid-mechanics/" target="_blank">disini</a>. Hari ini saya ingin mengulas dua tokoh nasional di bidang dirgantara Indonesia. Kenapa <strong>Tokoh Nasional </strong>dan kenapa bidang <strong>Dirgantara</strong>? Karena saya sangat menyukai bidang Kedirgantaraan, lebih khusus lagi tentang perancangan pesawat terbang dan aerodinamika, dan saya lebih memilih tokoh nasional yang secara budaya, geografis dan latar belakang relatif sama dengan saya, dibanding tokoh dunia semisal Wright bersaudara. Sehingga jikalau ingin meniru dan menjadikan sumber inspirasi tidaklah terlalu <em>muluk-muluk</em>, sebab beliau-beliau adalah putra-putra Indonesia, sama dengan saya dan anda. Dan jamannya tidaklah jauh berbeda, masih di sebutaran abad 20. Bahkan jika ingin didetailkan lagi, beliau juga makan nasi, minum dari sumber air di tanah air, juga menghadapi problematika yang sama sesama bangsa sendiri. <em>Jadi ya…mirip-miriplah dengan keadaan kita-kita sekarang ini. </em>Sehingga jika beliau-beliau bisa, kenapa kita tidak?</p>
<p>Tokoh pertama yang ingin saya hadirkan adalah seorang perancang pesawat andalan Indonesia. Kaidah merancang beliau tentu masih jauh dari sistem komputasi, simulasi, numerik dan hal-hal canggih lainnya di abad 21 ini. Tapi semangat, visi, misi, dedikasi dan karya beliau seakan melampaui jamannya. Hal itulah yang ingin kita bidik di era sekarang ini. Semangat kejuangan, profesionalisme dan dedikasi maha hebat bagi diri dan orang disekitarnya. Sebagai seorang manusia, tentu tidak ada yang sempurna, sehingga kita harus bijak didalam mensikapi pribadi, mental, akhlak dan perilaku seorang tokoh. Dan inilah dia sang maestro pesawat, Nurtanio Pringgoadisuryo.</p>
<p>Saya hanya mengutip artikel dari satu sumber saja, yang saya anggap mewakili sebagian besar sisi kehidupan dirgantara beliau. Silakan pembaca mengklik link berikut ini untuk membaca artikel aslinya:</p>
<p><a href="http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9/blog-umum-mainmenu-82/57-nurtanio-perancang-pesawat-andalan-indonesia" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9/blog-umum-mainmenu-82/57-nurtanio-perancang-pesawat-andalan-indonesia</span></a></p>
<p>Saya yakin penulis aslinya telah mengumpulkan rujukan dari berbagai sumber. Dan saya hanya menuliskan ulang saja. Artikel ini hanya bersifat review singkat, jauh dari kesan <em>bertele-tele</em> dan berkepanjangan dengan detail secukupnya. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan kompleks, silakan membaca buku dan artikel terkait sosok Nurtanio Pringgoadisuryo, cukup banyak beredar di internet terlebih di toko buku dan perpustakaan. Selamat membaca…<span id="more-459"></span></p>
<h2><span style="color:#0000ff;"><strong>Nurtanio perancang pesawat andalan Indonesia</strong></span></h2>
<blockquote><p>Ditulis oleh Edi Nurprasetya</p>
<p>Selasa, 18 Maret 2008 11:13</p>
<p>Ditengah kemunduran bangsa kita sekarang ini ada hal yang harus diingat oleh mereka yang mengaku warga negara Indonesia. Yaitu kebanggaan suatu bangsa, walaupun bagi mereka yang apatis dan pesimis akan berkata ,“<em>buat apaan sih?</em>” Karena kita pecinta kedirgantaraan maka yang patut kita kenang adalah seorang perintis industri penerbangan yang dikenal orang sebagai sosok pekerja keras, rendah hati dan mencintai pekerjaannya. Mudah-mudahan generasi dibawah penulis masih pernah mendengar nama Nurtanio Pringgoadisuryo. Nama ini wajib mendapat tempat yang layak pada sejarah Republik Indonesia. Sepantasnya beliau bersama Wiweko Supono mendapat Bintang Mahaputra tertinggi karena jasa rintisannya menjadi batu pijakan untuk industri kedirgantaraan Indonesia.</p>
<p>Nurtanio Pringgoadisuryo lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923. Masa hidup beliau terakhir tercatat 21 Maret 1966, usia yang relatuf singkat 43 th. Beliau adalah perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang <em>Zogling NWG</em> (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama <em>all metal</em> dan <em>fighter</em> Indonesia yang dinamai <strong>Sikumbang</strong>, disusul dengan <strong>Kunang-kunang </strong>(bermesin VW) dan <strong>Belalang</strong>, serta <strong>Gelatik</strong> (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.</p>
<p>Cita-citanya sederhana, namun belum ada yang mewujudkannya yaitu keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya. Untuk itu, disiapkanya pesawat <strong>Arev (Api Revolusi), </strong>dari bekas rongsokan Super Aero buatan Cekoslowakia yang tergeletak di Kemayoran. Karena dedikasinya yang tinggi ia mencoba sendiri pesawat rancangannya, saat itulah Nurtanio gugur dalam penerbangan uji coba Arev. Bersama beliau turut gugur Kolonel Soepadio yang kini diabadikan sebagai nama bandara di Pontianak. Namanya, pernah melekat pada industri yang dirintisnya saat pemerintahan Soeharto merubah nama Lapip menjadi Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio)</p>
<p>Hal yang menambah rasa hormat penulis pada beliau adalah pemilihan jenis pesawat yang tepat untuk kondisi topografis dan sosial ekonomi rakyat Indonesia, Nurtanio banyak merancang pesawat yang tepat guna untuk kemaslahatan rakyat mulai jenis angkut ringan (general aviation) sampai <em>cropduster</em> yang efektif untuk pertanian, fogging nyamuk dll. Penulis yakin jika beliau masih hidup akan merancang water bomb untuk kebakaran hutan yang bisa menyerok air dari empang. Just kidding, cuman empangnya aje udah jadi BTN terus nyerok air dimana ya? Pesawat angkut ringan penulis pikir adalah solusi paling tepat untuk Indonesia yang topografinya membentang seluas Amerika namun ¾ wilayahnya lautan. Jika Amerika bisa membentangkan highway keseluruh sudut negeri itu Indonesia tidak bakal bisa karena krisis keuangan yang parah. Ditambah dengan faktor alam yang akrab dengan bencana penulis mengkhawatirkan keamanan moda transport darat.</p>
<p>Eksperimen Nurtanio yang sebenarnya sangat berguna di Indonesia yang agraris adalah modifikasi PZL Wilga (Gelatik) untuk cropduster, karena terbukti pernah mendongkrak hasil pertanian yang terserang hama. Ingat Indonesia pernah menjadi pengekspor beras masa orde baru, hal yang tidak akan terulang saat ini. <em>Cropduster</em> juga pernah dan bisa diimprovisasi untuk penanggulangan wabah akibat nyamuk baik itu demam berdarah, malaria atau chikungunya, hanya di Indonesia&#8230;</p>
<p>Cropduster bisa menggunakan sayap tetap maupun sayap putar, penulis teringat ketika masih training Commercial License di daerah San Joaquin Valley betapa padatnya daerah pertanian disana dengan Grumman Agcat, Cessna Agtruck, Piper Pawnee sampai heli yang nggak hafal jenisnya bahkan sampai malam hari!</p></blockquote>
<div id="attachment_461" class="wp-caption aligncenter" style="width: 385px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg"><img class="size-full wp-image-461" title="belalang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg?w=375&#038;h=254" alt="belalang" width="375" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Belalang</p></div>
<div id="attachment_462" class="wp-caption aligncenter" style="width: 385px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg"><img class="size-full wp-image-462" title="kunang" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg?w=375&#038;h=254" alt="kunang" width="375" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Kunang-kunang</p></div>
<div id="attachment_463" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg"><img class="size-full wp-image-463" title="Gelatik" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg?w=300&#038;h=155" alt="Gelatik" width="300" height="155" /></a><p class="wp-caption-text">Gelatik</p></div>
<blockquote><p>Satuan Udara Pertanian (Satud Tani) sebenarnya adalah jawaban pemerintah untuk hal-hal yang disebut diatas. Sebenarnya bisa saja dengan pesawat murah meriah mengubah pesawat ringan rongsokan menjadi armada pemburu hama andal dengan modal ramean sesuai dengan luasan sawahnya sehingga terasa murah untuk petani. Jika pemerintah lewat industri pesawat menyediakan pesawatnya maka koperasi petani menanggung bensin dan obat hamanya. Keuntungan cropdusting adalah melokalisir migrasi serangan hama sehingga tidak berpindah ke daerah / provinsi lain seperti yang terjadi selama ini. Disamping itu dosis / takaran semprotan bisa diatur sehingga mengurangi pencemaran lingkungan dan mencegah peningkatan resistensi hama dan penyakit terhadap obat. Penulis melihat inilah yang dicermati Nurtanio si perintis penggunaan pesawat untuk banyak hal di Indonesia.</p>
<p>Pada masa perintisannya, Mayor Udara Nurtanio bersama 15 stafnya tahun 1953 dalam perbengkelan kecil Seksi Percobaan Lapangan Udara Husein Sastranegara, berhasil membuat sejumlah pesawat terbang diantaranya, pesawat serba logam (all metal) COIN (Counter-insurgency-anti gerilya) yang diberi nama Si Kumbang 1 Agustus 1954. Pesawat rancangan beliau lainnya yang pernah dibuat, Belalang 85 (1958) yang kemudian pesawat latih ini disempurnakan dan diproduksi sebagai Belalang 90. Pesawat latih ini digunakan untuk mendidik para calon penerbang Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Pada tahun yang sama, Nurtanio dan para asistennya berhasil membuat pesawat olah raga Kunang 25 bermesin mobil Volkswagen. Ia juga merintis membuat prototipe helikopter Kepik dan Manyang serta girokopter Kolentang.</p>
<p>Seandainya saja industri pesawat kita menyediakan pesawat Counter Insurgency yang murah, efektif dan efesien maka negara kita tidak lagi didikte oleh kekuatan luar melalui separatisme. Ini hanya salah satu titik penting kemandirian suatu negara sehingga dihormati oleh kawan disegani oleh lawan. Tidak seperti TNI-AU yang kelabakan akibat embargo dan larangan menggunakan pesawat untuk pengamanan dalam negeri dari ancaman separatisme, TNI-AD sudah lebih dulu sadar hal ini dengan re-powering panser-panser tua lengkap dengan suplai onderdilnya karena Inggris juga mengembargo suku cadang tank-tanknya. Ternyata hasil modif Bengkel Pusat Peralatan Angkatan Darat ini justru enak untuk memasuki daerah yang sukar dijangkau oleh tank buatan Inggris. Selain lebih lincah dan ringan panser yang berpenggerak roda juga tepat untuk medan offroad lunak dan becek yang tidak bisa dilewati tank.</p>
<p>Agak nglantur sebentar, penulis bertanya-tanya apa sih susahnya merancang pesawat sederhana, murah, mudah pemeliharaanya, wong membuat yang njelimet sudah bisa? Gengsi? Ngapain gengsi dengan situasi ekonomi yang parah? Toh dunia luar sudah tahu onderdil Airbus dibuat di Indonesia, kita mampu membuat pesawat canggih, hanya saja untuk pemenuhan transport udara saat ini tidak tepat menggunakan barang mahal, karena tidak selamanya harga menentukan mutu. Dengan teknologi sederhana onderdil akan mudah didapatkan, seperti pengalaman penulis menerbangkan pesawat eksperimental fiberglass FASI Pordiga Swayasa membuktikan hal ini. Mengapa tidak dirancang pesawat yang mengandung onderdil otomotif dan menggunakan BBM mobil (mogas) yang memenuhi uji kelaikan sesuai standar yang berlaku. Jika dibuat produksi massal tentu akan menekan harga per unit sehingga dapat dijangkau masyarakat terutama didaerah yang terpencil.</p>
<p>Sesuai dengan wangsit hitungan penulis menunjukkan penerbangan pengumpanlah, bisnis yang menguntungkan asal menggunakan pesawat komuter ringan murah meriah sekelas Twin Otter sampai kelas F-27 bukannya pesawat berbadan sedang ala B737 keatas. Jika maskapai penerbangan dalam negeri bekerja sama dengan industri pesawat memakai pesawat murah yang dimaksud maka cukup pasar domestik tujuannya. Tidak usah berpikir untuk ekspor karena cukup sudah penghinaan negara maju yang ogah mensertifikasi pesawat Indonesia demi proteksi produk mereka. Kalau perlu malah kita yang harus memproteksi produk-produk dalam negeri. Masalah rasa nasionalisme mungkin berperan disini, toh bangsa Jepang dan India sudah melakukannya puluhan tahun lalu.</p>
<p>Pada perjalanannya Nurtanio bersama Wiweko Supono mantan boss Garuda adalah perancang terhebat di sejarah kedirgantaraan Indonesia. Sejak sekolah di Sekolah Teknik di Surabaya ia sudah merintis teknik rancang pesawat kecil-kecilan dengan mendirikan Junior Aero Club. Beliau juga jenis orang yang ngotot mencari ilmu kedirgantaraan yang saat itu “monopoli’ kulit putih, majalah Vliegwereld salah satu sumber ilmu yang dimilikinya adalah bukti kengototannya sebab saat itu agak sulit mendapatkannya karena harus impor dari Belanda. Junior Aero Club tambah berkibar dengan hadirnya pilot didikan Belanda, Iswahyudi. Jiwa perintis beliau nampak dalam Junior Aero Club selain sebagai pendirinya juga menularkan kecintaan terhadap dirgantara dikalangan pemuda saat itu</p>
<p>Down to earth alias membumi itulah yang begitu nyata pada setiap rancangannya, transportasi murah namun aman adalah ide dasar yang harus dijiwai oleh industri kedirgantaraan. Kenapa sih membuat pesawat yang mahal dan susah dioperasikan oleh Indonesia yang terus menerus krismon seperti sekarang? Karena menurunkan tarif penerbangan rasanya bukan solusi untuk transportasi dalam negeri seperti sekarang ini. Penurunan tarif hanya akan mengorbankan aspek keselamatan penerbangan, emang pesawat bisa minggir kala mogok mesinnya? Bagaimanapun penerbangan berbeda dengan moda darat seperti bus yang pemiliknya bisa masa bodoh menggunakan onderdil kelas dua untuk pemeliharaannya. Hanya dengan produksi dalam negeri yang menggunakan bahan dalam negeri juga yang menjadi solusi mahalnya tarif penerbangan.</p>
<p>Marsekal Muda (Purn) Salatun pada Majalah Angkasa mengatakan :</p>
<p><em>Bagi saya pribadi, keharusan bangsa kita untuk dapat membuat pesawat dan piranti lainnya didasarkan alasan filosofis: bukankah definisi bagi manusia adalah, &#8220;a tool-making animal?&#8221; Jadi selama kita baru merupakan &#8220;a tool-importing animal&#8221; kita belum menjadi manusia!</em></p>
<p>Kambing hitam mahalnya seluruh ongkos di Indonesia karena orang Indonesia yang masih bangga menjadi “Tool Importing Animal”. Penulis yakin jika terus menerus demikian negara kita akan berantakan. Penulis selalu berdebat dengan rekan baik sesama penerbang maupun non penerbang bahwa moda transportasi yang paling ideal di Indonesia adalah moda udara. Dalam tulisan penulis selalu mempromosikan betapa andalnya penerbangan komuter murah untuk mendongkrak roda perekonomian negeri Sedihnya justru dari kalangan pelaku kedirgantaraanlah tampak setumpuk hambatan baik yang nyata maupun penampakan. Jika saja spirit Nurtanio masuk ke jiwa penerbang dan pelaku industri penerbangan kita maka ide membuat transportasi udara menjadi moda yang efektif, efesien, murah dan paling aman menjadi kenyataan.</p>
<p>Jiwa industri Nurtanio-lah yang relevan pada situasi krisis multi dimensi Indonesia saat ini adalah kebersahajaannya dalam mencari bahan-bahan / material pesawat rancangannya. Beliau pernah membuktikan dengan bahan-bahan disekitar kita mampu membuat pesawat yang laik terbang sesuai dengan standar yang ada. Seperti pada glider uji bakat (aptitude test) NWG-1 kayu jejamu dipakai untuk mengganti spruce sedangkan kain linen pembalut sayap diganti dengan kain belacu yang murah dan mudah didapat. Bahkan ada selentingan yang entah benar atau tidak beliau pernah mengambil kawat jemuran di asrama prajurit untuk penahan sayap. Diatas segalanya penulis bertanya mengapa harus pake produksi luar negeri sih untuk melayani penerbangan kita?</p>
<p>Marsda Salatun menambahkan pada Majalah Angkasa sebagai berikut :</p>
<p><em>Merenungkan kembali jalan hidup Nurtanio yang kukenal mulai dari seorang aero-modeller hingga menjadi pejabat resmi yang memimpin Lapip, maka Nurtanio adalah tetap Nurtanio. Pekerja keras, tidak banyak omong (bombastis), rendah hati, sopan santun, serta bekerja dengan serba apa adanya dengan biaya rendah (low cost). Pesawat-pesawat yang diciptakannya memanfaatkan komponen dan suku cadang yang ditemukan di berbagai gudang yang tak terpakai. Gaya pendekatan yang serba rasional, tidak muluk-muluk dan down-to-earth, sesuai dengan kondisi negara yang sejak awal kemerdekaan praktis tidak pernah ideal hingga sulit menciptakan kontinuitas dan konsistenitas. Tetapi gaya Nurtanio yang realistis juga, yang menyebabkan dirinya kurang dihargai karena dianggap tidak bisa mengikuti arus megalomania.</em></p>
<p>Berdasarkan pengalaman masuk ke daerah terisolasi Aceh saat tanggap bencana tsunami penulis berpendapat untuk menjangkau daerah terisolasi pada tanggap bencana hanya mobilitas udara yang menjadi jawabannya. Hal ini yang mengusik pikiran penulis setiap menyimak berita sulitnya penanggulangan bencana ditanah air. Dropping bantuan akan dapat cepat dikerjakan dari udara ketimbang menembus hutan, gunung yang rawan bencana susulan seperti longsoran, pengaturan distribusi dapat dikerjakan oleh TNI yang berkualifikasi Pandu Udara (Pathfinder) atau Pengendali Pangkalan. Sedangkan untuk daerah yang benar-benar sulit dijangkau oleh sayap tetap bisa dilakukan oleh sayap putar. Semua mudah, murah dan cepat jika gotong royong kembali dihidupkan, mengapa harus menggunakan ongkos yang besar?</p>
<p>Penulis juga berpikir bagaimana jika ide para perintis penerbangan seperti Nurtanio ini ditanamkan pada calon penerbang di sekolah-sekolah terbang, supaya jangan sampai pikiran mereka yang cemerlang diambil oleh para jiran yang sudah mencuri sekian banyak gagasan dan ide para pemikir Indonesia seperti saat ini. Paling tidak potensi sumber daya manusia kita sekarang semestinya bisa merealisasikan suatu konsep industri pesawat komuter dan pertanian yang murah dengan kehandalan bersaing. Untuk melangkah ke arah itu mungkin diperlukan pemikiran yang bijak dari para pemimpin bangsa ini. Agar suatu saat pengembangan teknologi yang kita lakukan dapat lebih menyentuh seluruh kehidupan masyarakat kita. Jadi mengapa tidak, kalau potensinya ada dan menunjang, pesawat komuter dan pertanian kita kembangkan lagi dengan spirit Nurtanio. Saya memimpikan industri pesawat terbang yang sederhana dan murah tapi andal, tepat guna, berhasil guna, untuk Indonesia.</p></blockquote>
<div id="attachment_464" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg"><img class="size-medium wp-image-464" title="crop duster1" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg?w=300&#038;h=183" alt="crop duster1" width="300" height="183" /></a><p class="wp-caption-text">Cropduster</p></div>
<p>Sekali lagi saya ucapkan selamat, pertama ketika anda akan memulai membaca artikel ini, kemudian kini anda sudah membaca hingga akhir artikel. Itulah tokoh pertama dari dua tokoh nusantara yang saya janjikan di awal artikel. Tokoh kedua saya rencanakan dalam judul artikel terpisah agar anda tidak terlalu panjang dan lama dalam membaca. Saya sangat maklum kualitas membaca saya yang tidak tahan lama, dan saya berasumsi andapun tidak jauh beda dengan saya, hehehe……</p>
<p>Silakan diendapkan dulu semangat Nurtanio, semoga saya dan anda dimudahkan menerapkan dan mengembangkan hal-hal positif dari beliau untuk kemajuan bersama. Salam dirgantara dan aerodinamika…</p>
<div id="attachment_465" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg"><img class="size-medium wp-image-465" title="ReplikaRI-X" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg?w=300&#038;h=118" alt="ReplikaRI-X" width="300" height="118" /></a><p class="wp-caption-text">Replika RI-X</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=459&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/07/tokoh-dirgantara-nusantara-nurtanio-pringgoadisuryo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/merancang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">merancang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/belalang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">belalang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/kunang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kunang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/gelatik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gelatik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/crop-duster1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">crop duster1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/11/replikari-x.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ReplikaRI-X</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasar lidah tak bertulang</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 09:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[sebuah artikel dari belajarislam[dot]com, semoga bermanfaat.
TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan [1], terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele remeh-temeh tersebar di masyarakat yang sangat kuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=455&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sebuah artikel dari <a href="http://www.belajarislam.com/materi-belajar/tazkiyatun-nafs/725-dasar-lidah-tak-bertulang" target="_blank">belajarislam[dot]com</a>, semoga bermanfaat.</p>
<p>TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan <span style="color:#0000ff;">[1]</span>, terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele<em> remeh-temeh</em> tersebar di masyarakat yang sangat kuat budaya verbal-nya ini ternyata mengandung perkara yang berat dalam timbangan syariat. Berikut kami paparkan dua permasalahan:</p>
<p><span id="more-455"></span></p>
<h2>I. Bencana datang karena ucapan</h2>
<blockquote><p>“<em>Tidaklah timbul celaan pada saudaramu, kemudian Allah berikan rahmat padanya dan timpakan cobaan padamu</em>”<span style="color:#0000ff;"> [2]</span>. Yang dimaksud dengan celaan adalah seorang muslim yg menjelek-jelekkan saudaranya sesama muslim karena suatu dosa, padahal ia sudah bertaubat daripadanya, atau mengolok-olok fisik, gaya bicara, atau gerakannya. Ini adalah perkara yang berbahaya. Sedikit sekali orang yg waspada dari perkara ini. Dalam sebuah atsar: “<em>Barangsiapa mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya</em>” <span style="color:#0000ff;">[3]</span>.</p>
<p>Berkata Imam Ahmad: &#8220;Aku mendengar al-Hasan berkata: &#8220;<em>Kami memperbincangkan bahwa siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa yang ia sudah bertaubat pada Allah darinya maka Allah SWT akan memberi cobaan padanya</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[4]</span>. Berkata Ibnu Sirin: &#8220;<em>Aku pernah mencela seseorang karena kerugian, maka aku mengalami kerugian!</em>&#8220;. Berkata Ibnul Jauzi: Berkata seseorang: &#8220;<em>Aku mencela seseorang yang sebagian giginya sudah tidak ada, maka gigiku bertaburan !</em>” <span style="color:#0000ff;">[5]</span>.</p></blockquote>
<p>Nah, jika anda merasakan banyak masalah, ruwetnya problematika kehidupan, seringnya cobaan menyapa, seakan akan setiap tarikan nafas kita adalah masalah dan masalah. Maka perlu diteliti jangan-jangan kita telah salah dalam berucap. Jangan-jangan saking mudahnya lisan kita <em>ceplas-ceplos</em> hingga ada kata-kata tidak sedap yang <em>nyangkut </em>di hati saudara kita. Apalagi di era yang sangat mengagung-agungkan kebebasan berekspresi kini. Seakan kebebasan itu menjadi tameng mengumbar kata-kata kurang manfaat. Khususnya keadaan disekitar kita, bangsa kita, jangan-jangan bangsa yang bisanya “<em>cuma omong doang</em>&#8221; pintar berkoar dan suka ribut itu kian bertumpuk cobaan dan masalah dikarenakan mulut-mulut dan lidahnya kurang dijaga. <em>Wallahu musta’an</em>.</p>
<p>Bukankah para Nabi dan orang-orang shalih juga banyak cobaan dan masalah? Bahkan semakin tinggi tingkat keshalihan seseorang, maka semakin berat dan pelik permasalahan yang akan dihadapinya? Iya benar, tapi bedanya adalah <strong>sebab </strong>datangnya ujian dan cobaan tsb, juga<strong> “sikap hati” </strong>dalam menghadapi cobaan dan masalah tersebut. Lalu <strong>penerapan syariat </strong>dalam mengurai, mengunyah, dan menelan serta reaksi yang timbul sesudahnya. Paham?</p>
<blockquote><p>Diriwayatkan dari sebagian pendahulu yg shalih: &#8220;<em>Seandainya aku mengejek seekor anjing, tentu aku khawatir diriku menjadi anjing</em>&#8220;. Demi Allah, ini adalah hal yang nyata dan akibatnya nyata baik terhadap orang yang mencemooh atau pada keturunannya. Ini semua adalah akibat buruk dari maksiat dan berbagai kepahitan yang ditimbulkan olehnya. Tidak ada yang bisa menolak bala ini kecuali doa yang agung ini: &#8220;<em>Segala puji bagi Allah yang melepaskanku dari apa yang telah menimpamu dan melebihkanku dari kebanyakan makhluknya</em>&#8220;. Nabi bersabda: &#8220;<em>Barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan tertimpa bala tersebut</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[6]</span>.</p></blockquote>
<p>Beken dan popular, bahkan cenderung lumrah di kalangan kita, tidak saja mengejek binatang dan makhluk tak berakal lainnya, tetapi binatang dan makhluk tak berakal itu digunakan sebagai martir kosakata dalam bersilat lidah dan penyedap bumbu percakapan. Dan kini makin kreatif dalam variasinya, percaya atau tidak?</p>
<p>Kemudian marilah merenungkan doa diatas.</p>
<h2>II. Laknat dan akibat buruknya</h2>
<blockquote><p>Laknat sering dijumpai pada kebanyakan omongan manusia. Ini adalah salah satu bala yang meluas. Benarlah hadits nabi Muhammad SAW ketika di tanya tentang orang-orang yang suka melaknat, beliau menjawab : &#8220;<em>Manusia di akhir zaman, ucapan salam yang mereka ucapkan di saat bertemu adalah : saling melaknati</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[7]</span>.</p></blockquote>
<p>Laknat, umpatan, sumpah serapah dan sejenisnya makin nge-trend di masyakat kita. Coba anda lakukan pengamatan kecil-kecilan, gunakan seluruh panca indera <em>sampeyan</em>, ambil waktu rentang sehari, catatlah sekian banyak hujatan, laknat, umpatan dan semisalnya yang anda jumpai hari itu. Pasti akan berderet panjang daftarnya, dan akan bertambah panjang jika anda melengkapi dengan hasil dari media massa cetak dan elektronik serta cyber-internet. Pas sudah sinyalir statemen Rasulullah tersebut diatas.</p>
<blockquote><p>Perhatikan akibat buruk dari laknat dalam hadits ini, dari Abu Darda&#8217; bahwa Rasulullah SAW bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya bila ada seseorang yang mengutuk sesuatu maka kutukan itu naik ke langit, tetapi pintu-pintu langit itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu turun ke bumi tetapipintu-pintu bumi itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut. Lantas kutukan itu lari ke kanan dan ke kiri, apabila kutukan itu tidak mendapat tempat maka ia mencari orang yang dikutuknya, bila orang itu pantas mendapat kutukan, maka ia menimpa orang itu, tetapi bila orang itu tidak pantas mendapat kutukan maka ia kembali kepada orang yang mengucapkan kutukan tersebut</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[8]</span>.</p>
<p>Lebih dari itu, laknat menyebabkan pelakunya diharamkan dari mati syahid dan syafaat, sebagaimana dalam hadits Abu Darda : Aku mendengar Rasulullah bersabda: &#8220;<em>Orang-orang yang suka melaknat itu tidak bisa memberikan syafaat dan tidak pula meraih syahid</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[9]</span>.</p>
<p>Termasuk dalam hal ini bila yang dilaknat tidak berakal (hewan, benda dll–pent), sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas tentang seseorang yang melaknat angin, maka Nabi bersabda: &#8220;<em>Jangan engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah. Barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak semestinya, maka ia akan kembali pada orang yang mengucapkannya</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[10]</span>.</p></blockquote>
<p>Demikianlah kengerian akibat laknat dan kutukan, padahal ianya berasal dari sebongkah lidah tak bertulang. Ringan tanpa beban saat mengucapnya, tapi berat menggunung akibatnya, terlebih konsekuensi syariat dibelakangnya. Jangankan meraih syahid, malahan akan balik menjadi boomerang mengenai diri sendiri kutukan dan laknat itu sekecil apapun. Ayo dipikir-pikir sendiri…pernahkah kita terceplos kalimat atau kata terkategorikan laknat dan kutukan walau secuil?</p>
<blockquote><p>Termasuk dari dosa yang terbesar bila seorang anak melaknat kedua orang tuanya dengan cara tidak langsung, sebagaimana diberitakan oleh Nabi: &#8220;<em>Seseorang yang mencela ayah orang lain, lalu orang yang di cela itu mencela ayahnya, dan ia mencela ibu orang lain, lalu orang yang di cela tersebut membalas dengan mencela ibu (orang yang mencela)</em>&#8221; <span style="color:#0000ff;">[11]</span>.</p>
<p>Dikiaskan dengan perbuatan laknat ini adalah memfasikan atau mengkafirkan seorang mukmin <span style="color:#0000ff;">[12]</span>.</p></blockquote>
<p>Nah, inilah jeratan halus bagi para pencela, benar ianya tidak langsung mencela kedua-orangtuanya sendiri (bahkan agama anutannya), tapi perbuatan mencela orang-tua orang lain, serta mencela agama lain akan membalik kepada dirinya sendiri. Terlebih belitan “<em>ghuluw</em>” (extrem berlebihan) di zaman kita makin kuat. Hingga muncullah model manusia-manusia <em>tukang cela </em>berdalih agama, maksud hati pengen tampak ilmiah dan tegas dimata insan, <em>tapi panggang jauh dari apinya</em>. Maka makin berhati-hatilah terhadap lisan tak bertulang yang kita miliki.</p>
<p>Ngeri…ngeri…dan ngeri. Itulah gambaran yang kita dapatkan dari dampak buruk mulut dan lisan. Maka berhati-hatilah mulai sekarang. Biarlah kita diam seribu bahasa, daripada dampak buruk tersebut diatas menimpa kita. Biarlah kita dicap pendiam dan pengecut, jikalau bayarannya adalah ngomong tak ada manfaat. Biarlah disindir sebagai orang “<em>lemah</em>” jika maksudnya supaya kita jadi manusia “<em>banyak mulut</em>”. Mainstream media saat ini adalah ajakan mengeluarkan pendapat, ekspresif , kebebasan, dan liberal tanpa kungkungan apapun, tapi artikel ini berusaha melawan arus kuat itu. Semoga saya dan anda bisa mengambil hikmahnya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>[1] Dampak Negatif Kemaksiatan, Abdullah bin Muhammad as-Sadhan, Riyadh, 1421H.</p>
<p>[2] HR. Tirmidzi, Thabrani dan lainnya dari Mu&#8217;adz secara marfu&#8217;. Tirmidzi mengatakan: Hadits hasan gharib. Lihat : Tamyiiz ath-Thayyib minal khabits, oleh Abdurrahman al-Atsari hal : 171, dan lihat pula : al-Adzkaar oleh an-Nawawi hal : 542.</p>
<p>[3] HR. Tirmidzi.</p>
<p>[4] Kitab az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 342.</p>
<p>[5] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 391</p>
<p>[6] 42 Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim hal : 257, Ucapan Ibnu Mas&#8217;ud dalam Siyar a&#8217;laam an-Nubala 1/496</p>
<p>[7] HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim. Lihat : Majmu&#8217; akhbaar akhir zaman, oleh al-Musy&#8217;ili, hal : 129</p>
<p>[8] HR. Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4905</p>
<p>[9] HR. Muslim dan Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4907</p>
<p>[10] Mukhtasar Shahih Sunan Abu Dawud, al-Albani hal : 3/927, No: 4101</p>
<p>[11] Mukhtasar Shahih al-Bukhari, oleh az-Zubaidi, hal : 466, No: 3007</p>
<p>[12] Berdasarkan hadits nabi: &#8220;Tidaklah seseorang memfasikan atau mengkufurkan seseorang melainkan hal itu akan kembali padanya, jika orang yang dituduhkan itu tidak demikian&#8221;. Mukhtasar Shahih al-Bukhari hal : 469, No: 2030</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Yokohama, 20 Oktober 2009</p>
<p>M. A. Bramantya</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=455&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/11/01/dasar-lidah-tak-bertulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima tahun sudah</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak-anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=451&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_452" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg"><img class="size-medium wp-image-452" title="5tahun" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg?w=300&#038;h=225" alt="5tahun" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">made in ibuuk...</p></div>
<p>Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status sebagai seorang ayah dari seorang anak, sebuah status yang biasa-biasa saja jauh dari kesan “wah” dan “prestisius”. Profesi seorang Bapak adalah profesi yang juga biasa-biasa saja, jauh dari rasa decak kagum dan tepukan penghargaan.</p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<blockquote><p><strong>Salwa </strong>(putri pertama kami): <em>mas Salman mau pipis?</em></p></blockquote>
<p>*kata mas Salman memang mulai kami populerkan mengingat Salman mau punya adik, insya Allah.</p>
<blockquote><p><strong>Salman </strong>(putra kedua kami): <em>iya</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Salwa: <em>ayo sana cepet pipis di kamar mandi, ntar ngompol lho</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Salman: <em>***</em></p></blockquote>
<p>*masih belum beranjak. Anak ini memang rada malas kalo disuruh pipis, kecuali kalo udah kebelet banget, suka bikin heboh.</p>
<blockquote><p>Salwa: <em>ayo cepet, ntar dimarahin ayah…ntar tak cebokin wes</em> (nanti saya cebokin dah)</p></blockquote>
<p>*duh, itu bukan marah nak, hanya sekedar meninggikan suara agar perintah dan larangan lebih engkau perhatikan. Kamu sih, kalo dibilangin sekali jarang nurutnya. Halah…alasan klise para orang tua. Tapi begitulah, saya masih perlu banyak belajar dalam seni mendidik anak. Yang jelas tindakan fisik sangat saya hindarkan, juga kata-kata kotor dan celaan.</p>
<blockquote><p>Salman: <em>ya</em></p></blockquote>
<p>*lalu dengan digandeng Salwa, mereka berjalan ke kamar mandi</p>
<blockquote><p>Salman: <em>gelap nie</em></p></blockquote>
<p>*Salman masih terlalu pendek untuk meraih tombol saklar lampu. Lalu Salwa menghidupkan lampu kamar mandi dan menunggu adiknya selesai pipis. Setelah itu dia menyalakan kran air, dan membilas pipis dan mencebokin adiknya dengan shower di kamar mandi.</p>
<blockquote><p>Salman: ghufronaka……</p></blockquote>
<p>*teriak saat keluar dari kamar mandi, lalu berlari menghambur ke tempat bermain yang tadi</p>
<blockquote><p>Salwa:<em> ee….dipakai dulu celananya, ntar… tak madepin dulu</em></p></blockquote>
<p>*maksudnya menghadapkan arah celana Salman agar sesuai bagian depan-belakangnya, maklum Salman masih belum bias membedakan dengan benar mana depan mana belakang</p>
<p>Lalu merekapun kembali bermain…</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dialog itu kami (saya dan istri) dengarkan dari kamar sebelah. Anak-anak taunya kami sedang <em>shalat</em>. Saya dan istri kemudian saling berpandangan selepas adegan dialog itu, lalu tersenyum sendiri-sendiri. Entah apa yang ada dalam benak istri saya.</p>
<p>Yang jelas hari itu Salwa, putri pertama kami telah genap berusia 5 tahun. Sedangkan Salman, putra kedua kami sebulan lagi sudah berumur 3 tahun. Bilangan 5 tahun menyadarkan saya, betapa sudah lamanya anak itu berada dalam asuhan kami. Dititipkan oleh Sang Maha Pencipta sebagai nikmat karunia tiada tara sekaligus ujian cobaan. Benar, kami tidak mengingkari bahwa kehadiran Salwa menambah kenikmatan bagi kami. Betul, kami tidak menyangkal bahwa kehadiran Salwa adalah penyejuk mata bagi kami. Bahkan, dia adalah cucu pertama dari keluarga saya juga dari keluarga istri saya. Hingga para kakek dan neneknya pun tak kurang bahagianya daripada kami, orang tuanya.</p>
<p>Salwa kini sudah berumur 5 tahun, seorang kakak dari adiknya. Sikap kedewasaannya perlahan mulai muncul, meski masih sayup-sayup. Namun sifat kekanak-kanakannyalah yang lebih dominan, <em>ya iyalah, kan juga masih 5 tahun</em>. Dia tumbuh sebagai sosok yang feminis, <em>ya iyalah, kan perempuan, please deh yah</em>. Lucu tapi terkadang nyebelin, <em>udah deh, ayah jangan lebay gitu</em>.</p>
<p>Oke, itulah Salwa. Dia masih membutuhkan banyak kasih sayang dan bimbingan dari orang tuanya untuk tumbuh lebih dewasa lagi, menapaki tahapan-tahapan psikologis seorang anak pada umumnya. Dan bersiap menghadapi ganasnya kehidupan bumi yang makin tua ini. Permasalahannya adalah: <strong>siapkah kami dengan segudang kasih sayang itu?</strong> (jika anda punya 2 anak, ya bersiap 2 gudang kasih sayang, 200% gitu, jika lebih ya tinggal tambahkan saja. Ingat jangan dibagi, tapi ditambah, akan kacau jika kasih sayang itu dibagi, setuju?). <strong>Mampukah kami memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak yang kami cintai? Cukupkah bekal kami sebagai orang tua untuk menanggung keberadaan anak-anak itu lahir dan batin? Tersediakah kemampuan kami untuk sekedar menghantarkan anak-anak kami tumbuh dewasa dengan benar?</strong> Dan serentetan pertanyaan yang menggayuti alam pikiran kami.</p>
<p>Sementara disana masih ada Salwa-salwa yang lain, anak-anak yang begitu lucu dan polos sama seperti Salwa, bahkan terkadang kondisinya tidak seberuntung Salwa. Sementara disana masih ada Ayah-ayah yang lain, para ibu dan para orang tua yang berkasus sama, yaitu sama-sama punya anak. Mungkin mereka tidak seberuntung saya, tidak juga berarti saya lebih beruntung dari mereka. Setiap keluarga dan individu mempunyai keunikannya masing-masing.</p>
<p>Yang jelas, masalah pendidikan anak adalah permasalahan yang besar dan serius. Dan kita sebagai orang tua tidak bisa mengelaknya, <em>bisa sih mengelak jika anda tidak punya hati</em>. Marilah kita sejenak mengevaluasinya, minimal evaluasi diri sendiri. Perhatikan dengan seksama dan teliti lagi, jika ada kekurangan segeralah ditambah, jika terjadi kesalahan buru-burulah diperbaiki, jika ada kebaikan pertahankanlah dan tingkatkan lebih baik lagi. Jangan ragu untuk memperbaiki kualitas keorang-tuaan anda. Berapapun harganya, tebuslah ia sekuat kemampuan anda. Berapapun nilainya, usahakanlah ia sekuat-kuatnya. Pendidikan anak dalam keluarga adalah hal yang utama.</p>
<p>Semoga hari ini anda makin sayang dengan anak-anak anda. Semoga hari ini anda tersadarkan akan keberadaan anak-anak, terutama anak yatim dan atau piatu diluar sana. Anak-anak yang mungkin tidak secantik dan secakep anak anda. Anak-anak yang tidak seberuntung anak anda. Merekalah taruhan masa depan kita, jangan sia-siakan mereka. Mereka butuh dekapan kasih sayang, buaian lembut sosok orang tua. Semoga Allah membimbing dan memapah kita dengan benar melalui hari-hari bersama anak-anak.</p>
<p>Eh, sekarang giliran Salwa yang kebelet pipis. Kalo dia mah, sudah bisa pipis dan cebok sendiri, alhamdulillah. Cepet sana…habis itu kita bermain kembali…</p>
<p>&#8212;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=451&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/30/lima-tahun-sudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/5tahun.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">5tahun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Turki di Negeri Sakura</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 07:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[my Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari majalah elfata edisi oktober 2008. Lumayan jadul sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin gimana gitu. Selamat membaca!
http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=265&#38;Itemid=91
Masjid Turki di Negeri Sakura
Hari jum&#8217;at itu, alhamdulillah, tugas-tugas kampus telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=403&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari <a href="http://majalah-elfata.com/" target="_blank">majalah elfata</a> edisi oktober 2008. Lumayan <em>jadul </em>sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin <em>gimana gitu</em>. Selamat membaca!</p>
<p>http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=265&amp;Itemid=91</p>
<h2><span style="color:#0000ff;"><strong>Masjid Turki di Negeri Sakura</strong></span></h2>
<div id="attachment_406" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg"><img class="size-medium wp-image-406" title="Tokyo Mosque" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg?w=300&#038;h=225" alt="TokyoMosque" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tokyo Camii Mosque (tampak luar)</p></div>
<p>Hari jum&#8217;at itu, <em>alhamdulillah</em>, tugas-tugas kampus telah selesai. Mumpung hari Jum&#8217;at, saya mau jalan-jalan ke Tokyo mengunjungi <em>Baitullah </em>yang sudah lama tidak saya kunjungi. Jepang berbeda dengan Indonesia, di sini susah cari masjid. Adanya masjid cuma di kota-kota besar saja seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, Kyoto, dan sebagainya.<span id="more-403"></span></p>
<p>Mau tau cara nyari masjid di Jepang? Gampang, tinggal buka internet saja, masukkan kata kunci <em>Japan Mosque</em> di dalam <em>search engine</em>. <em>Banzai!</em>[1] Akan muncul serangkaian informasi tentang masjid-masjid tersebut. Itulah gunanya jadi muslim yang tidak gaptek.</p>
<p>Saya pilih masjid di Tokyo karena letaknya tidak begitu jauh dari Yokohama, sekitar 1 jam naik <em>Cikatetsu</em>[2], harga tiketnya pun murah sekitar 700 <em>yen </em>pergi-pulang, juga paling nyaman jika dibanding transportasi publik lainnya. Klik punya klik, akhirnya saya tertarik pada sebuah masjid yang dibangun oleh Perkumpulan Orang Turki di Jepang, arsitek bangunannya sangat memukau.</p>
<p>Masjid ini namanya <strong><em>Masjid Camii</em></strong>, bangunannya jadi satu dengan perkantoran <em>Turkish Culture Center</em>. Lantai bawah untuk kantor, lantai atas untuk shalat. Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1938 oleh Abdulhay Kurban Ali and Abdurresid Ibrahim, lalu direnovasi tahun 1998 oleh Muharrem Hilmi Senalp, koordinator proyek Sumio Ito dan Akira Wakabayasi (Jepang) serta Sami Goren (Turki).</p>
<p>O iya, sebelum ke detail Masjidnya, saya ingin cerita sedikit tentang cara menuju kesana.</p>
<p>Sebelum menuju suatu tempat di Jepang cek dulu minimal tiga hal: rute perjalanan, prakiraan cuaca, dan perbekalan yang harus dibawa. Rute perjalanan bisa dicari di internet, contohnya http://www.jorudan.co.jp/english/ untuk rute kereta api, karena saya tinggal dekat stasiun <em>Bashamichi </em>dan Masjid Camii dekat stasiun <em>Yoyogi-Uehara</em>. Masukkan saja nama kedua stasiun itu, nanti akan muncul rute kereta api yang harus kita lalui lengkap dengan jadwal kereta, waktu tempuh dan juga harga tiket. Lengkap bukan?</p>
<p>Prakiraan cuaca harus dicek (misal http://weather.yahoo.co.jp) agar tidak <em>saltum </em>alias salah kostum -harusnya panas malah pake jaket lengkap, atau sebaliknya- perlu bawa payung ato tidak jika diperkirakan hujan. Walau sekedar prakiraan cuaca (sebab yang menentukan cuaca hanyalah Allah semata), errornya kecil berdasar statistik yg ada. Bedanya lagi, prakiraan cuaca disini dibuat tiap jam mengingat cepatnya perubahan cuaca di Jepang.</p>
<p>Setelah semua informasi cukup, jangan lupa di print. Pelajar disini kalo ngeprint gratis (laser berwarna lagi) tapi kalo fotokopi malah bayar 10 yen per lembar (900 rupiah per lembar). Setelah itu, saya jalan kaki menuju <em>Bashamichi-eki</em>[3] sekitar 5 menit dari <em>Yokohama International Center</em> tempat saya tinggal. Naik <em>Chikatetsu </em>jurusan <em>Yoyogi-Uehara</em>, saya gak usah beli tiket di mesin tiket, sebab saya sudah punya <em>ticket-card</em> pra-bayar.</p>
<p>Tinggal sentuh <em>ticket-card</em> di palang pintu otomatis, tiit…saya bisa masuk stasiun. Jangan lupa cek <em>platform </em>(tempat naik) kereta sesuai jurusan kita, agar tidak salah naik trus nyasar ke tempat antah berantah.</p>
<p>Akhirnya saya sampai di Masjid Camii dengan izin Allah kemudian bantuan peta dari internet.</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_408" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><em><em><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg"><img class="size-medium wp-image-408" title="tokyo camii" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg?w=300&#038;h=200" alt="tokyo camii" width="300" height="200" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Tokyo Camii Mosque (tampak dalam: ruang shalat utama)</p></div>
<p><em>Subhanallah</em>…dari kejauhan sudah nampak kecantikan <em>Baitullah </em>itu. Pas mau masuk, saya mau lepas sepatu, <em>eit&#8230; </em>tapi ditegur oleh seseorang, &#8220;<em>Jangan dilepas mas, ini perkantoran, nglepasnya di atas saja, di tempat shalat</em>.&#8221; begitulah kira-kira terjemahan bebasnya. Bersih, indah, dan mengagumkan…itulah yang terbetik di hati saya ketika menyusuri sudut-sudut gedung ini. Lantai dan dinding marmer, lukisan khas timur tengah berwarna warni di atap ruang plus dengan warna emasnya, ornament simetris pemandangan dan tetumbuhan menghiasi sudut langit-langit, juga lengkungan-lengkungan bangunan khas arsitek Islam.</p>
<p>Tepat jam 12.30 waktu setempat, adzan berkumandang. Mulailah shalat Jum&#8217;at. Khutbah disampaikan dalam tiga bahasa, pertama, pake bahasa Jepang, kemudian disambung dengan bahasa Inggris, terakhir dengan bahasa Urdu. Masing-masing khutbah berdurasi 7-8 menit, jadi total khutbah 21-24 menit. Hari itu khutbahnya tentang &#8220;Tujuan Pernikahan dalam Islam&#8221;. Lalu iqomat, lalu shalat jum&#8217;at berjamaah dua rakaat.</p>
<p>Di sana saya bertemu muslimin dari berbagai negara, tak heran khutbahnya tiga bahasa, ada yang dari Jepang (tentu), Afrika, dan Eropa, tak lupa Indonesia.</p>
<p>Sepulang dari Masjid Camii, banyak hikmah yg bisa penulis ambil. Minimal hati ini kembali tersirami oleh sejuknya iman. Setelah sekian lama hati ini tidak bergetar merasakan Kalamullah live dari lisan imam yang fasih bacaannya…setelah sekian lama…waktu ini tidak terluang hanya untuk beribadah kepada-Nya semata.</p>
<p>[1]. Banzai = hore;   [2]. Cikatetsu = kereta api bawah tanah;    [3]. Bashamichi-eki = stasiun Bashamichi; eki = stasiun.</p>
<p><strong>M. A. Bramantya</strong></p>
<p>School of Integrated Design Engineering, KEIO University, Yokohama, Japan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=403&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/28/masjid-turki-di-negeri-sakura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyomosque.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tokyo Mosque</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/tokyo-camii.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tokyo camii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajah Televisi Hari Ini</title>
		<link>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/</link>
		<comments>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 04:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bramantya.wordpress.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[artikel ini adalah re-posting dari website belajarislam[dot]com

GEMES. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=393&subd=bramantya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>artikel ini adalah re-posting dari website <a href="http://belajarislam.com/wawasan/dunia-islam/721-wajah-televisi-hari-ini" target="_blank">belajarislam[dot]com</a></p>
<p><a href="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-394" title="televisi" src="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg?w=270&#038;h=270" alt="televisi" width="270" height="270" /></a></p>
<p><strong>GEMES</strong>. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “<em>kebelakang</em>”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.</p>
<p>Berikut realitanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Infotainment</em>&#8221; memberitakan perceraian sang-idola. &#8220;<em>Reality Show</em>&#8221; mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. &#8220;<em>Talk Show</em>&#8221; lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. &#8220;<em>Masihkah Kamu Mencintaiku</em>&#8221; menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas layanan istri. &#8220;<em>Take Me/Him Out Indonesia</em>&#8221; menjadi ajang cari jodoh bikin heboh. Dalam setiap episode &#8220;<em>Take Me Out</em>&#8220;, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang mencari jodoh. Untuk &#8220;<em>Take Him Out</em>&#8220;, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. Public Relation dan Promotion Fremantle Media di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses <em>Take Me/Him Out</em> kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. <em>Infotainment</em> dan <em>reality show</em> model &#8220;<em>Termehek- mehek</em>&#8221; sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu.<span id="more-393"></span></p>
</blockquote>
<p>Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain?</p>
<blockquote><p>Kepala Laboratorium Psikologi Politik di Universitas terkemuka di Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”<em>Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,</em>” katanya. Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan televisi. ”<em>Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal</em>,” katanya.</p>
</blockquote>
<p>Lalu apa hubungannya dengan sahabat pengunjung <a href="http://belajarislam.com/" target="_blank">belajarislam[dot]com</a>? Dan masyarakat Islam secara umum?</p>
<p>Jelas terkait hubungan yang erat. Mayoritas pemirsa televisi di Indonesia adalah beragama Islam. Pemirsa teve yang menjadi pelanggan setia acara “<em>begituan</em>” dilaporkan 30% dari total pemirsa teve. Sedangkan populasi muslimnya berkisar lebih dari 80%. Hitung atau bayangkan sendiri kenyataan persentase angka itu.  Hal itulah yang membuat hati makin miris. Kenyataan kualitas sinetron, film, konser musik, dan acara televisi sejak dahulu hingga kini masih belum membaik, bahkan kian parah (parameter parah adalah parameter dalam syariat Islam). Kini ditambah genre baru infotainment ajang gossip dan reality show umbar masalah pribadi. <em>Laa khaula walaa quwwata illa billaah</em>.</p>
<p>Bangsa yang bebal, itulah prediksi pakar psikologi, jika bangsa ini disuguhi, dicekoki dan terus digelontor acara televisi semacam itu. Dan siapakah komponen umat di republik ini yang akan menjadi korban? tentulah masyarakat Islam. Jika bangsa menjadi bebal, berarti masyakat Islamlah yang sebenarnya menjadi bebal. <em>Yah…Anda dan kita-kita ini. Mau?</em></p>
<p><strong>Marilah kita bersama mencari solusi.</strong></p>
<p>Saat ini yang paling mudah dan efektif adalah “<strong><em>matikan teve segera</em></strong>”. Jika ingin teve-nya tidak mubadzir, tambahlah dengan VCD/DVD player, lalu beli atau pinjam VCD/DVD bermanfaat. Bahkan acara berita di teve- pun harus extra hati-hati menyerapnya sebagai sandaran informasi. Jika ingin saluran pelepas kepenatan dan rileks, carilah alternatif hiburan selain televisi. Dan berusahalah sekuat tenaga lepas dari ketergantungan (kecanduan) nonton teve. Itulah solusi pribadi dan keluarga saat ini.</p>
<p>Bagaimana dengan solusi publik dan umum, ya..harus segera dirintis dan diwujudkan channel teve yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, paling tidak minim pelanggaran syariat dan memuat manfaat yang lebih besar. Ngomong (nulis) sih gampang…realisasi itu yang syulit bin tidak mudah, alias super kompleks. Ditambah tantangan dan halangan pihak-pihak yang tidak sejalan seiring dengan nilai Islam, dan itulah realita saat ini. Organisasi Islam besar dan senior sekaliber Muhammadiyah atau NU pun belum mampu (atau mau?) mewujudkannya.</p>
<p>Makanya sumbangkanlah segala apa yang anda punyai (ide, pikiran, tenaga, uang, informasi, doa dan lainnya) demi terwujudnya solusi tsb, marilah kita bahu-membahu. Dari yang kecil-kecil mudah-mudahan menjadi besar dan langgeng.</p>
<p>Percayalah&#8230;anak cucu kesayangan, turunan kitalah taruhannya.</p>
<p>-  -  -  -  -</p>
<p>* Penulis adalah mahasiswa S3 Keio University, Yokohama , Japan</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">
<p><em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;">GEMES</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;">. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara</span><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;color:black;"> pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak <em>gemes</em>, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “kebelakang”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.     <br style="outline-style:none;" /> Berikut realitanya:<br style="outline-style:none;" /> &#8220;Infotainment&#8221; memberitakan perceraian sang-idola. &#8220;Reality Show&#8221; mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. &#8220;Talk Show&#8221; lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. &#8220;Masihkah Kamu Mencintaiku&#8221; menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas<br style="outline-style:none;" /> layanan istri. &#8220;Take Me/Him Out Indonesia&#8221; menjadi ajang <span class="yshortcuts">cari jodoh</span> bikin heboh. Dalam setiap episode &#8220;Take Me Out&#8221;, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang <span class="yshortcuts">mencari jodoh</span>. Untuk &#8220;Take Him Out&#8221;, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. <em>Public</em><em> Relation dan Promotion Fremantle Media</em> di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses Take Me/Him Out kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. Infotainment dan reality show model &#8220;Termehek- mehek&#8221; sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> <strong>Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain?</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Kepala Laboratorium Psikologi Politik di Universitas terkemuka di Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,” katanya. Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan<br style="outline-style:none;" /> televisi. ”Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal,” katanya.<br style="outline-style:none;" /> <strong><br style="outline-style:none;" /> Lalu apa hubungannya dengan sahabat pengunjung <a href="http://belajarislam.com/undefined/" target="_blank"><span class="yshortcuts"><span style="color:#003399;text-decoration:none;"><span id="lw_1255943991_2" style="outline-style:none;">belajarislam.com</span></span></span></a>?</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Jelas terkait hubungan yang erat. Mayoritas pemirsa televisi di Indonesia adalah beragama Islam. Pemirsa teve yang menjadi pelanggan setia acara “begituan” dilaporkan 30% dari total pemirsa teve. Sedangkan populasi muslimnya berkisar lebih dari 80%. Hitung atau bayangkan sendiri kenyataan persentase angka itu.  Hal itulah yang membuat hati makin miris. Kenyataan kualitas sinetron, film, konser musik, dan<br style="outline-style:none;" /> acara televisi sejak dahulu hingga kini masih belum membaik, bahkan kian parah (parameter parah adalah parameter dalam syariat Islam). Kini ditambah <em>genre</em> baru infotainment ajang gossip dan reality show umbar masalah pribadi. <em>Laa khaula walaa quwwata illa billaah.</em><em><br style="outline-style:none;" /> </em><br style="outline-style:none;" /> Bangsa yang bebal, itulah prediksi pakar psikologi, jika bangsa ini disuguhi, dicekoki dan terus digelontor acara televisi semacam itu. Dan siapakah komponen umat di republik ini yang akan menjadi korban? tentulah masyarakat Islam. Jika bangsa menjadi bebal, berarti masyakat Islamlah yang sebenarnya menjadi bebal. Yah…Anda dan kita-kita ini. <strong><em>Mau</em></strong>?<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> <strong>Marilah kita bersama mencari solusi.</strong><br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Saat ini yang paling mudah dan efektif adalah “matikan teve segera”. Jika ingin teve-nya tidak mubadzir, tambahlah dengan VCD/DVD player, lalu beli atau pinjam VCD/DVD bermanfaat. Bahkan acara berita di teve- pun harus extra hati-hati menyerapnya sebagai sandaran informasi. Jika ingin saluran pelepas kepenatan dan rileks, carilah alternatif hiburan selain televisi. Dan berusahalah sekuat tenaga lepas dari ketergantungan (kecanduan) nonton teve. Itulah solusi pribadi dan keluarga saat ini.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> Bagaimana dengan solusi publik dan umum, ya..harus segera dirintis dan diwujudkan channel teve yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, paling tidak minim pelanggaran syariat dan memuat manfaat yang lebih besar. <em>Ngomong</em> <em>(nulis)</em> <em>sih gampang</em>…realisasi itu yang sulit bin tidak mudah super kompleks. Ditambah tantangan dan halangan pihak-pihak yang tidak sejalan seiring dengan nilai Islam, dan itulah realita saat ini. Organisasi Islam besar dan senior sekaliber <span class="yshortcuts">Muhammadiyah</span> atau NU pun<br style="outline-style:none;" /> belum mampu (atau mau?) mewujudkannya. Makanya sumbangkanlah segala apa yang anda punyai (ide, pikiran, tenaga, uang dan informasi) demi terwujudnya solusi tsb, marilah kita bahu-membahu. Dari yang kecil-kecil mudah-mudahan menjadi besar dan langgeng. Percayalah&#8230;anak cucu turunan kitalah taruhannya.<br style="outline-style:none;" /> <br style="outline-style:none;" /> * <strong>Penulis adalah </strong></span><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:Arial;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana,helvetica,clean,sans-serif;line-height:16px;"><strong>mahasiswa S3 Keio University, Yokohama , Japan </strong></span></span></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bramantya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bramantya.wordpress.com/393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bramantya.wordpress.com&blog=1226873&post=393&subd=bramantya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bramantya.wordpress.com/2009/10/20/wajah-televisi-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89959af2f20867e4b2358997739f3c70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bramantya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bramantya.files.wordpress.com/2009/10/televisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">televisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>