Archive for the ‘RENUNGAN’ Category
artikel terkait agama Islam
kompor, wajan dan kerak
Posted by bramantya on July 19, 2010
Akhir pekan yang lalu saya bertekad dengan sepenuh hati untuk melaksanakan niat yang sudah lama saya pendam tak kunjung terlaksana. Sebuah niat yang sangat mulia, sangat bagus dan sangat bermanfaat terutama bagi keluarga sederhana seperti kami yang mempunyai anak kecil-kecil. Apalagi jika bukan tekad untuk merapikan rumah, beberes perabotan dan membersihkan bagian-bagiannya.
Ketika rumah menjadi berantakan, ketika kamar menjadi acak-acakan dan ketika perabotan menjadi kotor. Maka sejatinya itu adalah tanda kemanfaatannya, rumah berantakan karena dipakai untuk beraktifitas penghuninya, kamar menjadi acak-acakan karena sering digunakan dan perabot menjadi kotor karena ia telah memberikan fungsinya menjadi sebuah produktivitas. Beda dengan rumah dan perabotan yang selalu statis, hanya debu sajalah yang berkenan menghampirinya atau selalu tampak kinclong kemilau dan selalu baru karena memang tidak pernah digunakan.
Saya teringat kepada buku tulis anak saya yang berumur 3 th, lusuh, lecek, kusut, penuh tekukan dan coretan, bahkan hampir-hampir tidak bisa dikenali lagi bahwa itu sebentuk buku, namun herannya buku itu masih juga tersimpan di kotak mainan dan hampir selalu terjamah oleh tangan kecilnya. Ibunya bilang “itulah tanda kalau bukunya selalu terpakai” sambil senyum-senyum.
Tidak perlu kami urai betapa heroiknya kami (iya kami, saya, istri dan anak-anak) dalam usaha menata dan membersihkan rumah kontrakan mungil ini. Hanya saja dua perabot spesial itulah yang menggerakkan hati berbagi melalui tulisan ini. Apakah dua perabot special itu? Kompor dan wajan penggorengan.

itulah sebentuk kompor penuh kenangan
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Nikmatnya jadi manusia biasa
Posted by bramantya on June 28, 2010
Hari-hari ini semakin menyiratkan keinginan manusia untuk menjadi luar biasa. Kata “luar biasa”, atau lebih tepatnya teriakan luar biasa menjadi lebih kerap kita dengar. Bahkan dengan sedikit modifikasi menjadi “ruar biasa” atau “luar binasa”. Kalau mau sedikit diplesetkan menjadi “biasa di luar”.
Satu jabatan belumlah cukup, kalau perlu rangkap jabatan. Satu profesi tidaklah memenuhi, jika perlu lintas profesi yang tentusaja rangkap. Satu jatah tidaklah puas, perlu banyak jatah. Jika dalam hal rangkap-merangkap jatah-menjatah itu ditempuh dalam kerangka yang adil, professional dan sesuai kemampuan tidaklah menjadi soal. Yang menjadi soal adalah tatkala tergasaknya hak-hak orang lain secara wajar. Lebih tidak lucu lagi jika kemampuan multitasking itu hanyalah ilusi belaka, semua tidak pernah tertuntaskan dengan baik malah cenderung terbengkalai. Kelihatannya super sibuk kesana kemari, tapi apa sebenarnya yg dilakukannya.
Betapa merasa perlunya kita menjadi luar biasa hingga hal-hal yang dianggap biasa cenderung dipandang miring. Apa kerennya seorang pejabat publik ketahuan menjemur pakaian kotor anak istrinya, apalagi jika punya anak bayi. Betapa rasa mengenaskan seorang berpendidikan super tinggi hingga doktor – professor – spesialis kedapatan memasak makanan sehari-hari dirumahnya. Dan betapa merasa tidak populernya seorang publik figure menjahit sendiri pakaiannya yg sobek serta mengepel lantai rumahnya. Bahkan kalau perlu bersiasat menyamarkan diri tatkala menemani istri belanja di pasar atau sekedar menikmati warung di pinggir jalan. Yang rada pinter berdalih dengan minimnya lapangan pekerjaan, biarlah orang lain mengerjakan perkara sepele remeh temeh tsb, demi membantu mereka, begitulah benak orang-orang luar biasa.
Posted in RENUNGAN | 4 Comments »
Persaingan yang Indah
Posted by bramantya on April 12, 2010
Publikasi pertama ada di belajarislam[dot]com
Tidak saja di dunia bisnis dan selebritis, bahkan terjadi di kalangan aktivis
Kalau terjadi di dunia bisnis dan selebritis, kami bisa menahan tangis
Namun jika persaingan bengis di kalangan aktivis, hati kami sangatlah teriris
Persaingan adalah perihal bersaing (berlomba, atas-mengatasi, dahulu-mendahului –KBBI–). Muslim di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Jika merunut fakta sejarah, masyarakat Indonesia sudah terlalu lama mengenyam dan mengecap apa yang dikenal sebagai “devide-at-impera” beratus tahun lamanya, sehingga mindset “kompetisi”, semangat bersaing dalam berkehidupan sehari-hari secara turun menurun membekas di pola pikir sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam hingga hari ini.
Yang menyedihkan adalah tatkala konsep persaingan itu salah kaprah dipahami dan dipraktikkan oleh para pengusung Panji Islam, konsep “menang dan kalah” menjadi wajar diantara mereka. Saling sikut, saling jegal, saling hantam, hajar dan hajr adalah metode yang biasa bagi mereka, diluar kaidah amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh mereka berilusi dengan perbaikan yang semu, bahkan kerusakan dan luka di hati telah terjadi.
Sahabat belajar Islam,
Tema persaingan sengaja kami hadirkan disini, dengan maksud sedikit memberi respon atas acara yang akan digagas berupa Tabligh Akbar: Persatuan Islam (18 April 2010 di Yogyakarta), insya Allah. Kebalikan dari persatuan adalah perpecahan, sedang perpecahan mempunyai banyak sebab. Salah satu sebab perpecahan yang disana tersimpan “jerat-jerat halus” adalah adanya persaingan. Tidak dapat dipungkiri bahwa persaingan telah terjadi di antara kita, sadar atau tidak sadar beberapa elemen Islam di Indonesia menampilkan adegan persaingan yang sengit. Bukan sesuatu yang tercela jika seseorang dibawah berkehendak menyusul saudaranya yang berada diatas, dalam segala bidang. Namun permasalahannya adalah bagaimana kita mengelola potensi persaingan itu menjadi positif, win-win solution, sama-sama menang yang tidak lain adalah konsep persaingan yang indah dalam Islam. Dan berikut inilah aroma persaingan yang disitir dalam Al Quran dan Hadits, kemudian diejawantahkan dipraktikkan oleh para sahabat Nabi yang mulia, radiyalahu’anhum ajma’in, kemudian para pendahulu kita yang shalih.
“mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun:61)
“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah:148)
“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifiin:26)
Posted in RENUNGAN | 3 Comments »
catatan terserak…
Posted by bramantya on February 16, 2010
Mengunggah kembali catatan dari masa ke masa, bukan untuk siapa siapa, hanya diriku saja dan orang-orang yg saya cinta

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taghabun: 11) Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Khabar gembira bagi para ibu dan bapak
Posted by bramantya on January 8, 2010
Wahai para ibu dan para bapak, wahai para pendidik, marilah rehat sejenak bersama kami. Marilah kita duduk melingkar, bersimpuh sejenak melemaskan penat dan meletakkan beban barang semasa. Ijinkan kami mengusap peluh kalian. Sementara kalian beristirahat, kami hendak mengabarkan kepada kalian sebuah khabar yang mulia nan menyejukkan. Simaklah penuturan kami ini, penuturan yang akan senantiasa berulang bagi kalian para pendidik yang mulia…
Kami mengetahui betapa beratnya tugas mendidik generasi perempuan di masa kini, masa yang seakan tiada menyisakan kesempatan untuk rehat bagi para pejuang pendidikan yang ikhlas. Karena dimasa ini, gelombang arus seretan kejahatan makin liar menerpa, dari depan, belakang, samping kanan dan kiri, bahkan dari atas dan dari bawah. Hari-hari selalu kita temui kasus-kasus buruk hasil ulah dan polah anak didik (bahkan si pendidik itu sendiri), tidak perlu disebut satu per satu disini, karena engkaupun juga tahu. Semoga dengan khabar baik yang hendak kami sampaikan ini menambah daya juang kita semua, memompa semangat yang mulai pudar. Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Atas Nama Ukhuwah…
Posted by bramantya on December 13, 2009
Sungging senyumnya tak seindah dahulu saat aku masih polos. Tutur sapanya tak serenyah dahulu saat aku masih canggung dan malu diajak untuk menuntut ilmu agama. Gerak tubuhnya tak selembut dahulu saat aku masih gemetar menahan sabar untuk berpakaian yang benar serta meninggalkan nyanyian dan gambar. Sorot matanya tak sehangat yang dulu saat aku masih seiring dan sejalan dalam pengajian dan kepanitiaan. Kini aku telah jauh, hatiku mengeluh, kulitku berpeluh, ragaku jarang terbasuh, terbaring lunglai tak berdaya, berduka, dan merana. Celakanya, dia seakan tak mau tahu, sibuk memikirkan dirinya dan teman-temannya yang ada. Atas nama ukhuwah, aku menuntut senyum, sapa dan kelembutannya yang dulu…
Posted in RENUNGAN | 2 Comments »
Masa Belia, Awal Untuk Mulia
Posted by bramantya on November 13, 2009
Publikasi pertama artikel ini ada di belajarIslam[dot]com. Lalu saya unggah kembali di wordpress saya, kemudian biasanya ter-upload secara otomatis di note Facebook. Cilakanya, yang biasanya heboh adalah yg di FB, entah kenapa? mungkin FB paling populer kalee… Dan kenapa “cilaka” sebab di note FB fasilitas edit layout-nya kurang asyik, sehingga ada beberapa kesan artistik yg hilang. Makanya saya selalu menganjurkan, tengoklah selalu yg di wordpress. Bukannya apa-apa, tapi di wordpress inilah saya mengeditnya secara manual “tak bikin secantik mungkin“, jadi hargai jerih payah editan saya donk….hehehehe…*damai*
Trus hal lain yg sering terluput dari pembaca yg budiman (ya anda-anda ini) adalah “komentar“. Dari situlah saya mendapat feed-back masukan, bisa berupa tanggapan ringan, hingga saran, kritik, syukur koreksi. Juga pembaca baru akan merasa lebih “hidup” dengan adanya komentar dari pembaca sebelumnya. Ah…itukan idealnya. Artikel ini berkenan anda buka (klik) saja sudah untung, lebih-lebih dibaca sampai akhir (tersanjung saya), dikasih hati kok “ngrogoh” minta rempela. Terimakasih ya…selamat membaca…semoga bermanfaat…

logo PAUD, pendidikan anak usia dini, Sehat-Cerdas-Ceria, silakan dihubungkan sendiri dengan isi artikel
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »
Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis
Posted by bramantya on November 7, 2009
Publikasi pertama artikel ini ada di belajarislam[dot]com
Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis
Written by Muhammad Agung Bramantya
Monday, 02 November 2009 21:58
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*)
Ikatlah ilmu dengan tulisan (**)
Sahabat belajarIslam,
Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui berurut dan utuh jika ingin menjadi manusia unggul, umat kebanggaan dan bangsa gemilang. Urutan yang linier dan utuh inilah yang hilang dari bangsa kita. Setelah sukses berbusa-busa bersitegang urat leher dengan budaya lisan (ngomong, ngobrol, debat, diskusi, ceramah, kuliah, ngrumpi) tiba-tiba langsung meloncat ke budaya audio-visual dan multimedia (teve, film, musik, dlsb) lalu kini termehek-mehek dengan budaya cyber. Read the rest of this entry »
Posted in RENUNGAN | 2 Comments »
Dasar lidah tak bertulang
Posted by bramantya on November 1, 2009
sebuah artikel dari belajarislam[dot]com, semoga bermanfaat.
TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan [1], terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele remeh-temeh tersebar di masyarakat yang sangat kuat budaya verbal-nya ini ternyata mengandung perkara yang berat dalam timbangan syariat. Berikut kami paparkan dua permasalahan:
Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »



