BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

kunarsis…kueksis…[smoga tidak] norak abis…

Posted by bramantya on July 19, 2010

Pekan ini kami banyak [lebih dari 2] dihubungi oleh rekan wartawan dari tanah air, heran darimana mereka peroleh informasi tentang kami. Runut punya runut bermula dari expose pemberitaan dari AUN/Seed-Net yg memang rada terlambat. Lalu bergulir bak rambatan gelombang informasi sampailah kepada rekan-rekan wartawan tadi.

Untuk teman, kolega dan kerabat kami yang banyak penasaran, berikut kami bantu dengan link-link berikut:

(o) http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=2856

(o) http://www.ugm.ac.id/en/?q=news/young-engineer-award-and-fujiwara-award

(o) http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/11/best-young-engineer-dari-indonesia

(o) http://kontakmediainfo.blogdetik.com/2010/07/18/ilmuwan-muda-ugm-raih-dua-award-prestisius-di-negeri-sakura/

(o) http://kampus.okezone.com/read/2010/07/15/373/353204/fujiwara-award-untuk-dosen-ugm

(o) http://rumahpengetahuan.web.id/ilmuwan-muda-ugm-raih-dua-award-prestisius-di-negeri-sakura/

(o) http://www.dnaberita.com/Eventnews_index.php?page=1&batas=20

(o) http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=145708

dan lain-lain, sebab dunia maya memang tidak mengenal sekat-sekat hingga memungkinkan replikasi berita/artikel sampai tak terbatas dan dalam bentuk yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

*  *  *

Khusus untuk rekan, kolega dan kerabat di tanah air yang OFFLINE (alias tidak terkoneksi internet) bisa menelusur pada Harian Bernas (14 Juli 2010) dan Jawa Pos (18 Juli 2010). Dan untuk dokumentasi pribadi, berikut kami turunkan kembali tulisan yg ada di Jawa Pos, dimana salah satu point korespondensi dengan wartawan: “kenapa masih tertarik dengan pemberitaan/prestasi yang faktanya terjadi setahun silam -2009- yang tentunya tidak terlalu up-to-date?”. Ternyata pemberitaan2 tentang prestasi kebaikan good-news sangat diperlukan oleh masyarakat luas, supaya bisa LEBIH menginspirasi mereka untuk lebih berprestasi dan berkarya lebih baik lagi. Lagipula pasti ada hal-hal terbaru yg layak dibagi dari seorang anda.

Alhamdulillahi bihi tatimmush-shalihat

*  *  *

[ Minggu, 18 Juli 2010 ]

Ilmuwan Muda UGM Raih Dua Award Prestisius di Negeri Sakura

Dipuji karena Risetnya dan Peduli pada Kehidupan Sosial

Baru dua tahun Muhammad Agung Bramantya di Jepang. Tapi, dosen teknik mesin Fakultas Teknik UGM itu sudah menyabet penghargaan sains dan teknologi berkelas internasional di Jepang.

DUA award yang diraih sekaligus oleh Bramantya itu adalah Young Engineer Award 2009 dari Japan Society of Applied Electromagnetics and Mechanics (JSAEM) serta Fujiwara Award dari Universitas Keio. Young Engineer Award adalah penghargaan tahunan bagi para engineers dan scientist dari JSAEM. Tipe penghargaan itu sangat spesifik terkait dengan bidang keilmuan applied electromagnetic and mechanics.

versi cetaknya

”Saya diberi penghargaan tersebut berdasar makalah ilmiah saya yang dipublikasikan oleh lembaga tersebut di Journal of the Japan Society of Applied Electromagnetic and Mechanics vol 17/2009. Judulnya, Ultrasonic Study on the Clustering Structures of Magnetorheological Fluids under a Uniform Magnetic Field,” jelas Bramantya.

Sementara itu, Fujiwara Award adalah penghargaan tahunan bergengsi di lingkungan civitas academica Universitas Keio. Penghargaan tersebut diberikan kepada mahasiswa yang dinilai bagus dalam kehidupan sosial sekaligus berhasil mempersembahkan riset atau studi yang sukses.

Di antara tujuh penerima penghargaan Fujiwara Award, Bramantya menjadi satu-satunya orang asing. Menurut dia, sang supervisor (sensei) lah yang mengajukan dirinya. Peneliti 29 tahun itu dinilai memenuhi syarat sebagai nomine Fujiwara Award dengan bekal sekitar sepuluh publikasi ilmiah nasional dan internasional, penghargaan best poster di Jerman, serta keaktifan sosial di AUN/Seed-Net & International Student Society di Universitas Keio. ”Ini kali pertama orang dari luar Jepang berhasil memperoleh penghargaan tersebut,” ujar Bramantya.

Kandidat doktor dari Universitas Keio itu berfokus pada kajian fundamental tentang struktur dalam pada fluida magnet-reologi dengan metode gelombang ultrasonik. Fluida yang tengah diteliti Bramantya adalah fluida yang sifat-sifat fisisnya bisa diatur oleh kondisi luar, dalam hal ini medan elektromagnet.

Aspek kebaruan penelitian tersebut terdapat pada penggunaan analisis gelombang elektromagnetik. Di mana metode-metode sebelumnya berupa analisis visualisasi optik, analisis cahaya, analisis simulasi, dan analisis numerik. ”Keunggulan metode ini adalah fleksibilitas penggunaan gelombang ultrasonik di lapangan dan akurasi yang lebih tinggi,” kata Bramantya.

Aplikasi dasar fluida magnet-reologi adalah pada alat-alat peredam guncangan. Misalnya, mobil sport, kendaraan militer, helikopter, peredam gempa dan angin di gedung serta jembatan, serta lutut bionik. Juga, pada finishing permukaan yang memerlukan akurasi tinggi semisal permukaan lensa teleskop Hubble serta bidang robotik dan militer.

Meski prestasi di mancanegara sudah berada di tangan, dan pintu untuk meraih keuntungan finansial sangat terbuka lebar di Jepang, Bramantya tak ingin seperti kacang lupa kulit. Suami Dora Viala Fudholi itu berkewajiban moral untuk mengusung penelitiannya tersebut ke tanah air. Dia akan kembali ke almamaternya.

Semasa berkuliah, Bramantya merupakan lulusan tercepat UGM karena menuntaskan pendidikan dalam tujuh semester. Kecerdasan itu pula yang membuat dia kerap diganjar beasiswa. Pendidikan S-2 hingga S-3 ditempuh Bramantya tanpa bayar. Dia bisa studi di Jepang sejak 2008 berkat guyuran dana Japan International Cooperation Agency (JICA). Begitu juga studi pascasarjana di Universitas Malaya, Malaysia. Ketika itu studinya juga didanai JICA.

Selama menimba ilmu di Negeri Sakura, Bramantya mendapatkan banyak pengalaman dan hal baru. Salah satunya, pengalaman tentang betapa Jepang begitu memanjakan para periset. Tak hanya urusan fasilitas. Di Jepang kerja sama tim begitu dijunjung tinggi. Penelitian sudah biasa dikerjakan secara berkelompok. ”Momen penting dalam proses penelitian saya terjadi ketika ada sinergi ide dan keahlian dari anggota riset,” kata Bram.

Menurut dia, ketika riset menemui jalan buntu, para senpai (alumnus atau senior) bisa dihubungi untuk berbagi saran. Misalnya, saat mendesain test-cell khusus ultrasonik untuk meneliti fluida pintar. Parameter yang harus diperhatikan sangat kompleks.

Awalnya Bram memiliki konsep desain sendiri, tapi hasilnya tidak bagus setelah uji coba berulang kali. Jalan riset yang mulai buntu itu lantas terbuka kembali setelah Bram berembuk dengan anggota riset lainnya selama sebulan.

”Ada dua hal lain yang terasa betul sangat ditekankan di sini. Yaitu, disiplin dan kerja keras,” kata Bram. ”Coba saja perhatikan mereka. Terminologi yang muncul, misalnya, kaizen (perbaikan terus-menerus sekecil apa pun dan JIT alias just in time, Red).” (ign/c13/ami)

/ semoga terjaga keikhlasannya

4 Responses to “kunarsis…kueksis…[smoga tidak] norak abis…”

  1. nisa said

    Semoga banyak lahir kembali putra Indonesia, yang menyusul kesuksesan P’Agung Bramantya,
    agar lebih mengangkat harkat & martabat bangsa ini di mata dunia,
    dan menerapkan ilmu yang di dapat untuk kemajuan bangsa..
    dan telah dibekali dgn kekuatan Spiritual & mental yang tinggi..
    aamiinn..

  2. semoga saya bisa menyusul pak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.