Akhir pekan yang lalu saya bertekad dengan sepenuh hati untuk melaksanakan niat yang sudah lama saya pendam tak kunjung terlaksana. Sebuah niat yang sangat mulia, sangat bagus dan sangat bermanfaat terutama bagi keluarga sederhana seperti kami yang mempunyai anak kecil-kecil. Apalagi jika bukan tekad untuk merapikan rumah, beberes perabotan dan membersihkan bagian-bagiannya.
Ketika rumah menjadi berantakan, ketika kamar menjadi acak-acakan dan ketika perabotan menjadi kotor. Maka sejatinya itu adalah tanda kemanfaatannya, rumah berantakan karena dipakai untuk beraktifitas penghuninya, kamar menjadi acak-acakan karena sering digunakan dan perabot menjadi kotor karena ia telah memberikan fungsinya menjadi sebuah produktivitas. Beda dengan rumah dan perabotan yang selalu statis, hanya debu sajalah yang berkenan menghampirinya atau selalu tampak kinclong kemilau dan selalu baru karena memang tidak pernah digunakan.
Saya teringat kepada buku tulis anak saya yang berumur 3 th, lusuh, lecek, kusut, penuh tekukan dan coretan, bahkan hampir-hampir tidak bisa dikenali lagi bahwa itu sebentuk buku, namun herannya buku itu masih juga tersimpan di kotak mainan dan hampir selalu terjamah oleh tangan kecilnya. Ibunya bilang “itulah tanda kalau bukunya selalu terpakai” sambil senyum-senyum.
Tidak perlu kami urai betapa heroiknya kami (iya kami, saya, istri dan anak-anak) dalam usaha menata dan membersihkan rumah kontrakan mungil ini. Hanya saja dua perabot spesial itulah yang menggerakkan hati berbagi melalui tulisan ini. Apakah dua perabot special itu? Kompor dan wajan penggorengan.

itulah sebentuk kompor penuh kenangan
