BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Satu jam sebelumnya…

Posted by bramantya on June 11, 2010

Seorang atlit yang hendak berlaga memerlukan peregangan otot sebelumnya, seorang sastrawan perlu merenung sejenak sebelum menuangkan karya sastranya, guru butuh persiapan mengajar sebelumnya, pegadang perlu mempersiapkan barang dagangannya sebelum pembeli berdatangan, murid perlu persiapan ketika menghadapi ujian, dan pekerja perlu menyiapkan perkerjaannya.

Bisa anda bayangkan jika semua itu tanpa persiapan. Atlit bisa cidera berbulan-bulan gara-gara cidera otot kurang pemanasan, karya sastra jadi hambar tiada rasa, pelajaran menjadi monster bagi murid, pelanggan dan pembeli dagangan pindah ke lain toko, ujian serasa dihimpit bumi seisinya, dan pekerjaan berubah menjadi umpatan, penambah rasa sakit di kepala dan juga di hati.

Ah, yang ringan-ringan sajalah. Saya perlu minum yang hangat-hangat, kadang teh kadang kopi, tidak jarang coklat dengan sedikit gula sambil mengunyah roti seadanya. Aktifitas itu dilakukan sambil kriyip-kriyip mengejap-ejapkan mata membiasakan diri dengan pencahayaan sembari mengingat-ingat dan merancang rangkaian aktifitas saya selama hari itu. “Mengumpulkan nyawa” kata sebagian orang. Tak jarang sampai 30 menit baru kemudian melanjutkan dengan bersiapan aktifitas sesungguhnya. Saya berasa tidak on-fire jika tidak melewati ritual menyeruput minuman hangat dan sedikit mengunyah makanan ringan itu.

Mental adalah utama, apalagi saya orang rumahan, keluarga adalah penting bagi saya. Mental menciut jika meninggalkan rumah sementara beban urusan rumah terlalu berat, dus sedikit banyak saya turut mengurainya sebelum berangkat kerja. Tak lupa perhatian istri dan anak (dan kebalikannya) adalah tabungan mental penting. Jadi lengkaplah “upacara” satu jam sebelum berangkat kerja. Lancarlah pekerjaan hari itu dengan segala variasinya.

Apa jadinya jika persiapan mental tidak cukup, di jalan saat pengguna lain lebih cepat dirasa menantang, lebih lambat dikira menggoda, berjalan seiringpun dianggap nggriseni tidak enak hati, apalagi berjumpa macet, berasa orang paling apes sedunia. Obrolan teman dikira membicarakan kejelekan diri, lirikan sahabat dikira ada kurang hati, sapaan kawan dianggap basa-basi, ampun deh jadi sensitive banget. Kalau menjadi atasan, bawaannya bertensi tinggi, anak buah salah/kurang sedikit saja ibarat meruntuhkan segalanya. Menjadi bawahan pun tak kalah sewotnya, atasan menjadi makhluk paling menakutkan yang perlu diwaspadai segala gerak-geriknya.

Seperti saya pada hari itu, sebelumnya sudah bersiap menyingsingkan jari jemari untuk menyusun makalah ilmiah yang menjadi rutinitas pekerjaan saya, ee…ternyata paginya ada insiden tak mengenakkan hati dalam upacara satu jam sebelum kerja, hanya gara-gara soal menu masakan, huh…

Maka kalau anda terkesan pada sebuah ceramah, telisiklah satu jam sebelum dia berbicara. Kalau anda terpukau dengan sebuah pertunjukan, caritahulah satu jam sebelum pentas itu berlangsung. Atau kalau anda mendapati hal luar biasa dalam sebuah prestasi, telitilah satu jam sebelum atau bahkan lebih jauh lagi.

Tapi itu semua adalah suatu keumuman, sementara di luar sana selalu saja menyisakan ketidakumuman…

One Response to “Satu jam sebelumnya…”

  1. Nina said

    Thanks for share..:)

    Mungkin saya salah satu bagian dari ke tidak umuman yang sudah menjadi umum..’mepet’ :D

    almost late..tapi tetap disyukuri..just almost not late :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.