Hari-hari ini semakin menyiratkan keinginan manusia untuk menjadi luar biasa. Kata “luar biasa”, atau lebih tepatnya teriakan luar biasa menjadi lebih kerap kita dengar. Bahkan dengan sedikit modifikasi menjadi “ruar biasa” atau “luar binasa”. Kalau mau sedikit diplesetkan menjadi “biasa di luar”.
Satu jabatan belumlah cukup, kalau perlu rangkap jabatan. Satu profesi tidaklah memenuhi, jika perlu lintas profesi yang tentusaja rangkap. Satu jatah tidaklah puas, perlu banyak jatah. Jika dalam hal rangkap-merangkap jatah-menjatah itu ditempuh dalam kerangka yang adil, professional dan sesuai kemampuan tidaklah menjadi soal. Yang menjadi soal adalah tatkala tergasaknya hak-hak orang lain secara wajar. Lebih tidak lucu lagi jika kemampuan multitasking itu hanyalah ilusi belaka, semua tidak pernah tertuntaskan dengan baik malah cenderung terbengkalai. Kelihatannya super sibuk kesana kemari, tapi apa sebenarnya yg dilakukannya.
Betapa merasa perlunya kita menjadi luar biasa hingga hal-hal yang dianggap biasa cenderung dipandang miring. Apa kerennya seorang pejabat publik ketahuan menjemur pakaian kotor anak istrinya, apalagi jika punya anak bayi. Betapa rasa mengenaskan seorang berpendidikan super tinggi hingga doktor – professor – spesialis kedapatan memasak makanan sehari-hari dirumahnya. Dan betapa merasa tidak populernya seorang publik figure menjahit sendiri pakaiannya yg sobek serta mengepel lantai rumahnya. Bahkan kalau perlu bersiasat menyamarkan diri tatkala menemani istri belanja di pasar atau sekedar menikmati warung di pinggir jalan. Yang rada pinter berdalih dengan minimnya lapangan pekerjaan, biarlah orang lain mengerjakan perkara sepele remeh temeh tsb, demi membantu mereka, begitulah benak orang-orang luar biasa.
