BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Archive for June, 2010

Nikmatnya jadi manusia biasa

Posted by bramantya on June 28, 2010

Hari-hari ini semakin menyiratkan keinginan manusia untuk menjadi luar biasa. Kata “luar biasa”, atau lebih tepatnya teriakan luar biasa menjadi lebih kerap kita dengar. Bahkan dengan sedikit modifikasi menjadi “ruar biasa” atau “luar binasa”. Kalau mau sedikit diplesetkan menjadi “biasa di luar”.

Satu jabatan belumlah cukup, kalau perlu rangkap jabatan. Satu profesi tidaklah memenuhi, jika perlu lintas profesi yang tentusaja rangkap. Satu jatah tidaklah puas, perlu banyak jatah. Jika dalam hal rangkap-merangkap jatah-menjatah itu ditempuh dalam kerangka yang adil, professional dan sesuai kemampuan tidaklah menjadi soal. Yang menjadi soal adalah tatkala tergasaknya hak-hak orang lain secara wajar. Lebih tidak lucu lagi jika kemampuan multitasking itu hanyalah ilusi belaka, semua tidak pernah tertuntaskan dengan baik malah cenderung terbengkalai. Kelihatannya super sibuk kesana kemari, tapi apa sebenarnya yg dilakukannya.

Betapa merasa perlunya kita menjadi luar biasa hingga hal-hal yang dianggap biasa cenderung dipandang miring. Apa kerennya seorang pejabat publik ketahuan menjemur pakaian kotor anak istrinya, apalagi jika punya anak bayi. Betapa rasa mengenaskan seorang berpendidikan super tinggi hingga doktor – professor – spesialis kedapatan memasak makanan sehari-hari dirumahnya. Dan betapa merasa tidak populernya seorang publik figure menjahit sendiri pakaiannya yg sobek serta mengepel lantai rumahnya. Bahkan kalau perlu bersiasat menyamarkan diri tatkala menemani istri belanja di pasar atau sekedar menikmati warung di pinggir jalan. Yang rada pinter berdalih dengan minimnya lapangan pekerjaan, biarlah orang lain mengerjakan perkara sepele remeh temeh tsb, demi membantu mereka, begitulah benak orang-orang luar biasa.

Read the rest of this entry »

Posted in RENUNGAN | 4 Comments »

Satu jam sebelumnya…

Posted by bramantya on June 11, 2010

Seorang atlit yang hendak berlaga memerlukan peregangan otot sebelumnya, seorang sastrawan perlu merenung sejenak sebelum menuangkan karya sastranya, guru butuh persiapan mengajar sebelumnya, pegadang perlu mempersiapkan barang dagangannya sebelum pembeli berdatangan, murid perlu persiapan ketika menghadapi ujian, dan pekerja perlu menyiapkan perkerjaannya.

Bisa anda bayangkan jika semua itu tanpa persiapan. Atlit bisa cidera berbulan-bulan gara-gara cidera otot kurang pemanasan, karya sastra jadi hambar tiada rasa, pelajaran menjadi monster bagi murid, pelanggan dan pembeli dagangan pindah ke lain toko, ujian serasa dihimpit bumi seisinya, dan pekerjaan berubah menjadi umpatan, penambah rasa sakit di kepala dan juga di hati.

Ah, yang ringan-ringan sajalah. Saya perlu minum yang hangat-hangat, kadang teh kadang kopi, tidak jarang coklat dengan sedikit gula sambil mengunyah roti seadanya. Aktifitas itu dilakukan sambil kriyip-kriyip mengejap-ejapkan mata membiasakan diri dengan pencahayaan sembari mengingat-ingat dan merancang rangkaian aktifitas saya selama hari itu. “Mengumpulkan nyawa” kata sebagian orang. Tak jarang sampai 30 menit baru kemudian melanjutkan dengan bersiapan aktifitas sesungguhnya. Saya berasa tidak on-fire jika tidak melewati ritual menyeruput minuman hangat dan sedikit mengunyah makanan ringan itu.

Read the rest of this entry »

Posted in intermezzo | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.