Suka Duka Singgah Di Negeri Asia Non-Muslim
Pengen keluar negeri? Pasti donk…
Siapa yang tidak pengen ke luar negeri? Melihat dunia luar, merasakan pengalaman seru ataupun sekedar jalan-jalan having fun. Tapi tunggu dulu, bayangan luar negeri yang serba maju dan serba teratur itu tidaklah seindah yang kita duga. Kita bisa saja cuek bebek fleksibel ngikut aturan setempat yang terkadang bertentangan dengan agama kita. Namun sebagai muslim yang (berusaha) baik, apakah kita rela begitu saja diatur-atur dengan aturan yang bertentangan dengan Syariat Robbul `Alamin?

cover-elfata-februari-2010
Berikut ini adalah pengalaman yang penulis rasakan sewaktu singgah di beberapa Negara yang notabene mayoritas penduduknya bukan Islam (negeri non-muslim). Saat ini cukup tiga Negara saja yah…
Negeri pertama yang akan kita ceritakan adalah Singapura. Dengan julukan Singa Asia, negeri yang satu ini ibarat pusat kemajuan di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Siapa sangka, negeri kecil, sekecil Pulau Bali nan miskin sumber daya alam ini bisa menyulap negaranya menjadi maju dengan mengandalkan sumber daya manusia. Di sinilah kita harus sadar betapa pentingnya membangun sebuah sumber daya manusia yang tangguh. Makanya, siapkan dirimu sobat muslim muda sejak sekarang, jika kita ingin Islam berjaya.
Menginjakkan kaki di bandara internasional Changi, nuansa high-tech sudah bermula. Memasuki bagian imigrasi, dampak islam-phobia mulai terasa, orang-orang Islam kayaknya diperiksa lebih ketat dan lama deh. Penulis yang nama depannya “Muhammad” juga tak luput dari tatapan penuh selidik –walau mereka selalu senyum di bibir. Setelah ditanya berbagai hal mulai dari tujuan kedatangan, berapa lama, bersama siapa, akan tinggal dimana, dan seterusnya (yah, standard lah…) selesailah urusan imigrasi. Tapi kawan seperjalanan penulis kok nyangkut di bagian imigrasi, lama banget penulis menunggu. Selidik punya selidik, ternyata kawan tersebut mendapat perlakuan istimewa alias harus diperiksa super ketat gara-gara passportnya berasal dari Solo. Kota Solo telah di-blacklist oleh imigrasi Singapura karena diduga sebagai sarang teroris, wuih ngerinya, padahal majalah kesayangan kita ini berasal dari Solo, nah..loe. Tampang kawan penulis itu tidak sangar-sangar amat, tiada jenggot, namanyapun juga nama jawa yang bernuansa “O”. Yah begitulah dampak buruk akibat cara-cara (segelintir saudara kita) memperjuangkan Islam tidak sesuai tuntunan Nabi dan para salafush shalih. Read the rest of this entry »


