Ketika Kakak Bertanya Kemana Adiknya…
Posted by bramantya on March 20, 2010
Sepekan lebih dia yang belum sempat terdengar tangisnya pergi meninggalkan kami. Luapan emosipun terkadang masih sering menggelora, meski riaknya makin terkendali, kemudian perlahan mengendap di dalam hati.
“Ayah, dedek bayinya mana?” (Salwa @5th)
“Buk, adek bayi yang diperut kok sudah nggak ada?” (Salman @3th)
Itulah sepenggal pertanyaan yang sesekali keluar dari mulut mungil kedua anak kami (Salwa dan Salman). Dan dengan spontan kami merangkai jawabnya:
“Kemaren pas ibu di rumah sakit, adik bayinya sudah ‘keluar’ (kata ‘keluar’ kami pakai sebagai pengganti kata ‘meninggal’, karena demikianlah keadaannya dimana ruh/nyawa itu keluar dari jazadnya), trus sama malaikat dibawa ke Sorga. Jadi adik bayinya tidak pulang ke rumah, adik bayinya bobok di Sorga, maen sama teman-temannya”
Demikianlah rangkaian jawaban yang kami berikan kepada kedua anak kami yang masih seusia balita. Bukan tanpa alasan kami merangkai jawaban seperti itu, karena secara sekilas kami pernah menerima ilmu tentang hal tsb. Ilmu yang kami maksudkan adalah keyakinan seorang Muslim terkait keadaan bayi (anak kecil yg belum baligh) meninggal dunia, yang tentunya berdasar AlQuran, Hadits shahih serta keterangan para ulama pendahulu yg shalih. Walau ingatan kami pendek dan tidak dapat mengingat detil (sampai ke nash/text dalilnya), tapi intinya masih terpendam dalam memori.

dia yang sempat kugendong dan kutimang barang sekejap
Pada diri kami ada sejuta perasaan tatkala rangkaian jawaban itu mengemuka, ada sejuta emosi menyertai ketika “sang kakak bertanya kemana adiknya” dan ada sejuta lintasan pemikiran setelah adegan tanya-jawab itu berlalu. Ada hikmah dan pelajaran besar didapat dari peristiwa meninggalnya anak ketiga kami, tak kuasa kami menguraikannya walau dicecar oleh berbagai tuntutan dari kanan-kiri, depan-belakang, atas dan bawah. Pun tulisan ini hanyalah sekelumit sharing (berbagi) yang bisa kami lakukan.
Dia telah menjadi bagian dari memori kami dan keluarga besar kami serta orang-orang yang sempat berinteraksi dengannya. Dan memori itu akan kami simpan, dan akan senantiasa ada -insya Allah-. Letaknya ada di salah satu sudut ruang hati kami, tempat yang khusus spesial teruntuk dia, yang akan mengisi jiwa kami dengan jutaan perasaan, sesekali ia mengemuka disela hirupan nafas kami yang dalam disaat sang kakak bertanya kemana adiknya.
“Adik bayinya sudah di Sorga ya. Lagi maen sama temen-temennya.”
Begitulah akhirnya pemahaman yang tertanam di benak kedua anak kami (Salwa dan Salman) pun demikian yang kami (orang tua) yakini. Ya Allah, Engkau pisahkan kami dengan anak ketiga kami dengan penuh hikmah dan ujian, maka kumpulkanlah kami kembali kelak dalam penuh hikmah dan kebaikan. Sungguh kami risau dengan tipisnya iman dan sedikitnya amal kami, kabulkanlah. Amin Ya Rabb…
* * *
Beberapa sinyalemen AlQuran terkait hal ini, untuk penafsiran detilnya silakan merujuk kepada buku-buku tafsir.
Artinya : “(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya. (QS. Ar Ra’du : 23)
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. Ath Thuur : 21)
Kemudian beberapa cuplikan Sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam. Di antaranya yang “muttafaq ‘alaih” (riwayat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim) berikut ini:
Diceritakan, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memperoleh hadist-hadist Tuan (dengan arti nasehat atau petuah Tuan -red), maka berilah kami (kaum perempuan -red) hari di mana Tuan memberikan pengajaran kepada kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Tuan.”
Rasulullah menjawab, “Berkumpullah pada hari ini dan ini”. Maka kaum perempuan itu berkumpul dan Rasulullah hadir memberikan pengajaran apa yang diajarkan Allah kepadanya.
Kata Rasul: “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka.” Seorang perempuan bertanya, “Dan dua orang anak?” Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”
Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.
Dalam konteks yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullah berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian)
“Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu?“.
Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini)
“(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.” Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.“
Dan sudah menjadi kesepakatan para Ulama’ bahwasanya jika anak-anak kaum muslimin meninggal dunia maka kelak mereka termasuk ahlul jannah. Mereka meninggal ketika mereka belum terkena beban syari’at, sehingga baik ucapan maupun perbuatan, mereka tidak dikenai sanksi (Shohih Muslim bi syarhi An Nawawi: 16/170)
* * *

Bajunya pun telah kami siapkan
Kemudian sebagai penutup kami nukilkan ringkasan dari kitab Ahkamul Maulud fi Sunnatil Muthahharah, edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci oleh Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur’ah dan Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabbah Abu Abdirrahman.
PERKARA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA KETIKA ANAKNYA MENINGGAL
Wajib bagi keluarga yang mengalami musibah meninggalkan anak untuk memperhatikan dua perkara.
(1) Sabar dan (2) Ridha dengan Takdir, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Kami sungguh akan menguji kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yakni orang-orang yang bila ditimpa oleh musibah mereka berkata : ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah yang berhak mendapatkan salawat dari Tuhan mereka dan rahmat dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” [Al-Baqarah : 155-157]
Dan berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan (dalam riwayat lain menangisi anaknya yang meninggal) Maka beliau berkata kepada wanita itu : “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah” Maka wanita itu berkata : “Engkau tidak merasakan apa yang kurasakan, karena engkau tidak mengalami musibah seperti musibahku”.
Anas berkata, “Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang menegurnya adalah Nabi”. Lalu dikatakan kepadanya. “Yang menegurmu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka seperti kematian mengambilnya (wanita itu terkejut), segera ia mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia tidak mendapatkan penjaga pintu di sisinya. Wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah tadi aku tidak mengenalimu”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sabar itu adalah pada pukulan pertama ” [1]
Bersabar atas meninggalnya anak yang dimiliki merupakan pahala yang besar. Dan keterangan tentang hal ini ada dalam banyak hadits, kami sebutkan di antaranya :
Pertama.
“Artinya : Tidaklah meninggal tiga anak dari salah seorang muslim lalu ia disentuh neraka kecuali sekedar pelaksanaan sumpah” [2]
Kedua.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Tidaklah ada dua orang muslim (dua orang tua ayah dan ibu) yang meninggal tiga anaknya yang belum mencapai usia baligh kecuali Allah masukkan mereka (anak-anak tersebut) dan kedua orang tua mereka ke dalam syurga dengan keutamaan rahmat-Nya.
Nabi berkata:
“Anak-anak itu berada di salah satu pintu dari pintu-pintu syurga, lalu dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam syurga’. Mereka berkata, ‘Kami tidak akan masuk hingga datang kedua orang tua kami’, Maka dikatakan kepada mereka, ‘Masukklah kalian ke syurga beserta kedua orang tua kalian dengan keutamaan rahmat Allah” [3]
Ketiga.
“Artinya : Wanita mana saja yang meninggal tiga anaknya maka anak-anak itu akan menjadi hijab baginya dari neraka” Berkata seorang wanita : ‘Bagaimana bila dua anak yang meninggal ? Nabi menjawab : “Dua juga” [4]
Keempat.
“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak ridla untuk memberi selain surga bagi hamba-Nya mukmin jika meninggal dua kesayangan dari penduduk bumi lalu ia bersabar dan mengharap pahalanya” [5]
———————————————
Foote Note.
[1] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3/115-116), Muslim (3/40-41) dan Al-baihaqi (4/65) dan ini konteksnya Al-Baihaqi. Kami katakan : tambahan yang kami cantumkan adalah dari shahih Muslim (637)
[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi (4/67) dari Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu. Berkata Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/451 : Yang Nabi maksudkan dalam sabdanya tersebut adalah : kecuali sekedar Allah melaksanakan sumpah-Nya yaitu firman-Nya Azza wa Jalla :”Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali mendatangi neraka tersebut”. Maka jika ia telah melewatinya berarti sumpah telah tertunaikan.
[3] Dikeluarkan oleh An-Nasa’i (1/265) dan Al-Baihaqi (4/68) dan selain keduanya dengan sanad yang shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim.
[4] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3/94). Muslim, Al-Baihaqi (4/67) dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘ahu.
[5] Dikeluarkan oleh An-Nasa’i (1/264) dari Abdullah bin Amr dengan sanad yang Hasan.
[Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci, hal. 140-144 Pustaka Al-Haura]
* * *
Demikian sekelumit sharing dari kami. Wallahu a’lam…
Yokohama 20 Maret 2010


Iyan said
thanks atas postingannya mas, kemarin Ahad kami baru mengalami persis yang mas alami.
setelah baca postingan ini istri saya mudah2an semakin kuat menghadapi ujian dari Alloh
salam