Di Yamanashi Buah Hati Berkulminasi
Posted by bramantya on March 14, 2010
Berasal dari tanah
Dan akan kembali ke tanah
Istriku, ayah (sebutan kebiasanmu untukku, adopsi bahasa anak-anak) sudah pulang dari tanah pemakaman tempat jazad buah hati kita yang ketiga dikebumikan. Sore dan malam ini terasa makin dingin, disana salju masih menyelimuti daerah sekitar pemakaman. Bila melihat salju, ayah teringat penggalan doa iftitah diawal shalat kita (Ya Allah bersihkanlah dosa/kesalahan kami dengan air dan Salju dan embun), semoga demikian adanya.

liang lahat

papan nama areal pemakaman muslim. telah ada sekitar 50th yang lalu

pemandangan sekitar. mentari mulai terbenam seiring prosesi pemakaman
Propinsi Yamanashi, tepatnya di sebuah kuil Monju (文殊院) yang mempunyai areal pemakaman khusus muslim, terletak sekitar dua setengah jam perjalanan dengan mobil dari Tokyo menjadi tempat terakhir jazad anak kita yang ketiga disemayamkan. Sebuah areal pemakaman di kaki bukit dengan pemandangan yang sangat bagus. Semoga dirimu dan anak-anak sempat berziarah kesana suatu saat.
Hmmmhh……
Dengan kedua tangan ini, ayah mengelus-elus perutmu saat dia masih aktif bergerak.
Dengan kedua tangan ini, ayah juga mengelus-elus dengan penuh perasaan saat dia tiada menunjukkan pergerakan diperutmu.
Dengan kedua tangan ini, ayah menyeka air matamu (dan airmata sendiri) saat mendapati kepastian meninggalnya.
Dengan kedua tangan ini, ayah menguatkanmu disaat engkau berjuang berjibaku melahirkannya.
Dengan kedua tangan ini, ayah mengelus pipinya yang masih merah, lembut, dan mulai membiru.
Dengan kedua tangan ini pula, ayah memandikannya.
Dengan kedua tangan ini pula, ayah mengkafaninya.
Dengan kedua tangan ini pula, ayah mengangkat takbir memimpin shalat jenazahnya.
Dengan kedua tangan ini pula, ayah meletakkan jazadnya ke liang lahat.
Dengan kedua tangan ini pula, ayah menimbun jazadnya dengan tanah hingga merapikan bagian terakhirnya.
Lalu dengan kedua tangan ini, ayah mengetikkan memori itu disini.
Lalu dengan kedua tangan ini, ayah kembali menyeka airmata yang menitik…
* * *
Waktu itu, musim panas 2009 di Yokohama, kita sekeluarga (ayah, dirimu dan kedua anak) bersama papa dan mama berkesempatan menikmati rihlah ke sekitar tempat ini. Dirimu tiba-tiba tidak enak badan. Sementara haid kebiasaan wanita tak kunjung datang, dengan sejuta perasaan kita menduga hamil. Test pack kehamilan standard lalu membuktikannya, kemudian hasil USG dokter, dirimu tengah mengandung anak kita yang ketiga, walhamdulillah.

USG pertama, sekitar bulan kedua kehamilan
Waktu itu, usia kehamilanmu tengah berjalan bulan ketujuh, dan kitapun memeriksakan kehamilan seperti biasa. Betapa terkejutnya kita mendapati informasi dari dokter bahwa bayi kita mengalami kelainan di ususnya, subhanallahu… Lalu kitapun dirujuk ke rumah sakit yang lebih spesifik. Sebuah RS yang sangat jauh jaraknya dari rumah kita dengan ukuran kehamilanmu yang diatas rata-rata (kelebihan air ketuban) dimana berjarak tempuh total satu setengah jam perjalanan dengan train dan taksi. Dan di RS yang spesifik itu kita mendapati detil informasi bahwa bayi kita mengalami suatu anomali, qodarullah… berupa “duodenal atresia” (ketidaksempurnaan usus duabelasjari) dengan indikasi “polyhydramnios” (kelebihan air ketuban). Tiada penyebab khusus kata dokter, itulah mengapa mereka menyebutnya peristiwa anomali, satu diantara sekian ribu kehamilan, sedang kita menterjemahkannya sebagai takdir, kehendak ilahi, qodarullah.
Waktu itu, sepekan setelah kunjungan pertama di RS spesifik, kita melakukan kunjungan kedua dan dirimu diharuskan menginap minimal selama tiga hari untuk melakukan observasi secara keseluruhan terhadap kondisi bayi dan ibu. Sistem vital, sistem otak, system syaraf, system tulang, dan lain sebagainya… Akhirnya pada hari ketiga hasil observasi ibu dan bayi menunjukkan baik-baik saja, semua dalam kondisi sehat, kecuali ya itu tadi, duodenal atresia dengan solusi operasi pasca kelahiran si bayi. Lalu tim dokterpun memberi penjelasan segala aspek tindakan medis yang mungkin dilakukan termasuk resiko, ada banyak resiko namun satu hal yang ayah ingat bahwa 98% kasus tersebut selamat dan hanya 2% yang tidak selamat. Kitapun pulang ke rumah dengan sedikit perasaan lega, sembari menyisakan rasa was-was tentang operasi bagi bayi.

USG 4D bulan kesembilan, saat dinyatakan kondisi lainnya sehat dan normal
Waktu itu, secara aneh (diluar kebiasaan) salju turun disaat memasuki musim semi, apalagi ini daerah Yokohama yang sangat jarang turun salju. Udara sekitar menjadi dingin, lalu ayahpun teringat keberadaan “zamharir” (siksaan dingin di neraka), na’udzubillahi mindzalika… Secara temperatur kita sudah pernah mengalaminya di bulan lalu, bahkan lebih dingin dan kitapun sudah terbiasa dengan suhu itu. Namun, keanehan lain kita rasakan, si bayi di kandungan tidak bergerak saat menjelang tidur malam kita. Perasaan kita menjadi kalut, namun kita menutupinya dengan asumsi bahwa dia sedang tidur, dengan perencanaan jika besok pagi shubuh tidak juga bergerak segera kita bawa ke RS. Biasanya kita panggil-panggil si bayi, dia merespon dengan aktif, atau kita elus dan sedikit tepuk, dia merespon dengan lembut, tapi tidak untuk kali ini.
Waktu itu, dengan penuh rasa was-was kita berangkat ke rumah sakit, supaya cepat, kitapun naik taksi dengan ongkos 5 kali dari biasanya. Sampi di RS segera dokter melakukan observasi. Ternyata detak jantung bayi sudah berhenti berdetak… kemudian dokter kembali mengecek bagian-bagian lainnya dan berkesimpulan bahwa bayi, putri ketiga kita sudah tiada, meninggal dunia, innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Waktu itu, ternyata dia telah pergi mendahului kita. Bulan keempat Sang Pemilik Kehidupan berkenan memberikannya kehidupan, namun di bulan kesembilan Sang Pemilik Kematian telah berkehendak mencabut kembali ruh/nyawa itu. Lima bulan lamanya kita semua telah berinteraksi dengannya, kini dia, sang buah hati kita telah berada di tempat terbaik baginya, suatu tempat yang paling indah, suatu tempat yang penuh kebahagiaan dan keberkahan (sebagaimana arti dari rencana namanya bila terlahir selamat), suatu tempat di Sorga yang khusus disediakan bagi bayi/anak yang belum baligh, masih suci. Disana dia bermain bersama kawan-kawannya. Semoga dia di Sorga yang nantinya menjemput kita disana, amin ya rabbal ‘alamin T_T
* * *
teruntuk istriku, yg kini masih terbaring di RS memulihkan kondisi.
ayah malam ini menemani tidur kedua anak kita yang kelelahan di rumah.
semoga kita semua mendapat balasan terbaik dari semua ini.
Yokohama, 12 Maret 2010.

momslittleworld said
Ajal tak bisa dimajukan atau dimundurkan, semua yang sudah digaariskannya akan terjadi…innalillahi wa inna ilahi rojiuun, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan dan ketabahan dalam mengadapinya…amiin
setta ss said
innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uuun. tidak pernah ada yang salah dengan ketentuan-Nya. yang terbaik untuk si kecil di alamnya sekarang dan pak Bram sekeluarga. aamiiin.
Hadi said
Untuk Mas Bram dan keluarga, semoga ketabahan dan keikhlasan semakin menguatkan keimanan pada Yang Maha Kuasa.
Semoga istri segera pulih dan anak-anak tetap ceria.
Tetap semangat meraih asa.
iin said
Inna lillahi wa inna ilahi roji’iun.
Turut berduka yang sedalam-dalamnya ya Pak.
Semoga Allah SWT memberikan ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan. Kelak di hari akhir, insya Allah dipertemukan kembali dengan si buah hati. Semoga Allah SWT mengizinkan.. Amiin..
Salam untuk ibu, semoga segera pulih kembali dan ikhlas menerima semua cobaan Allah ini. Amiin..
Indro Pranoto said
Innalillahi wa inna lilaihi raji’un.
Rabb Sang Maha Penggenggam segala urusan telah memanggil putri kalian dan ditempatkan di tempat terbaik-NYA, InsyaAllah. Kami yakin dan berdoa semoga Allah SWT telah menyiapkan balasan terbaik bagi pengorbanan orangtua almarhumah.Amiin.
Indro~Nanis~Alhakim
arief idwal said
innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun
Erwin Harahap said
Allah maha pemberi,
Insya Allah pengganti yang lebih baik sedang menanti belaian kedua tangan akhi
fery said
innaa lillaahi wa inna ilaihi roji’un. Turut berduka Pak
Abu Ayyub said
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Kami keluarga besar WIY turut berduka dengan meninggalnya buah hati Pak Bramantya, semoga kesabaran dan ketabahan senantiasa Allah limpahkan untuk Pak Bramantya sekeluarga, inilah pernak-pernik kehidupan dunia yang kita alami bersama, semuanya selalu berpasang-pasangan, setelah ada kebahagiyaan pasti ada kesedihan. kita hanya bisa berserah diri dan bertawakal setelah kita berusaha, semua ketentuan kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa.Semoga semua ini selalu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, sehingga kita selalu bisa bertambah dekat dengan yang maha kuasa. Wallahu yuwafiquna Jami’an lima yuhibbuhu wayardhoh.
Abu Ayyub.
sudigdo said
Inna lillahi wa inna lillahi roji’un. Saya sekel turut berduka cita yg sedalam dalamnya. Semoga Mas Bram sekel selalu tabah dan sabar. Rahasia Allah tak seorangpun yang tahu.KetentuanNya pasti yang terbaik. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dan kesehatan Isteri segera pulih dan kesedihan mas Bram tidak berlarut dan segera beraktifitas seperti biasa. Amin.
Diah Sutopo said
Inna lillahi wa inna lillahi roji`un. kami sekeluarga mengucapkan turut bela sungkawa. semoga keluarga yang ditinggalkan di beri kesabaran dalam menghadapi ujian Nya serta mendapat ganti yang lebih baik amin. serta mba Dora segera pulih kembali.
Diah Sutopo Kobe
umi a said
Innalillahi wa inna illaihi roji’un… semoga brama dan keluarga dibeikan ketabahan lahir dan batin.. aminnn
ummu hafizh said
innalillahi wainnailaihiroji`uun…
Saya ibu dari 2 anak yang masih kecil-kecil. Saya hanya bisa menitikkan air mata membaca tulisan bapak. saya dapat merasakan perasaan istri bapak. Semoga Allah menjaga bapak dan keluarga, menganugrahi kesehatan, dan kebahagiaan atas kesabaran bapak dan istri. Allohumma amiin.
dari Tsukuba, Ibaraki.
mamanya 3adnan said
saya dapat merasakan kesedihan yg mendalam dari kedua orang tua,walau mungkin tidak sebesar Ayah dan Ibunya.Tak terasa airmata mengalir ketika saya membaca tulisan ini.
innalillahi wainnailaihiroji`uun…
Semoga bidadari kecil itu bahagia di taman-NYA,untuk Ibu Dora semoga cepat pulih kembali ya….
budi setiawan said
innalillahi wa inna illaihi rojiun, turut berduka cita Bram, semoga Allah memberi tempat yang terindah bagi putrimu. Waktu itu aku sempat baca distatus fb “ya alloh, kuatkanlah” aku kira waktu itu sudah lahiran,tapi ternyata Alloh berkendak lain dan sangat mencintai putrimu, sehingga memanggilnya begitu cepat.
Wirawan said
Nderek bela sungkawa bram..
Semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan..
Elan said
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Semoga Allah memberi kesabaran kepada Pak Brama dan keluarga yang ditinggalkan, dan semoga mendapat ganti yang lebih baek dari Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa..
Elan
Ketika Kakak Bertanya Kemana Adiknya… « BRAMANTYA’s center said
[...] Di Yamanashi Buah Hati Berkulminasi [...]
bramantya said
Assalamu’alaikum warohmatullah…
Dengan ini kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam hal kepengurusan jenazah putri ketiga kami, serta membantu keluarga kami hingga sampai akhir. Tidak bisa kami sebut satu persatu, yang jelas pihak KBRI Tokyo, PPI Jepang, KMII dan rekan semuanya.
Semua bantuan baik berupa doa, materiil dan non-materiil sangatlah membantu kami. Semoga Sang Pemilik Balasan memberikan balasan yang lebih baik kepada semua pihak tersebut. Jazakumullahu khairan katsira…
Dan kami mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan (banyak hal pastinya). Jika ada perkara-perkara yang perlu diurus dan diselesaikan, mohon jangan sungkan untuk menghubungi kami atau kepada Sdr.Fithra Faisal Hastiadi (ketua PPI Kanto) yg sejak awal kami libatkan.
Senin sore (3/15), istri sudah diperbolehkan pulang dari RS oleh dokter, walaupun keadaan masih lemah, walhamdulillah. Semoga semuanya menjadi lebih baik dikemudian hari, insya Allah.
Bulan ketujuh kehamilan : deteksi pertama kelainan usus “duodenal atresia” dan “polyhydramnios” kelebihan air ketuban
Bulan kesembilan (37 pekan), 10-3-2010: bayi meninggal dunia dengan penyebab utama “umbilical cord ulceration” (efek lanjutan dari duodenal atresia).
12-3-2010 | 04: 07 JST : bayi berhasil dilahirkan dengan cara normal
12-3-2010 | 12:00 JST : bayi baru boleh dikeluarkan dari RS
12-3-2010 | 13:30 JST : memandikan jenazah di KBRI Tokyo
12-3-2010 | 14:00 JST : menshalatkan jenazah di KBRI Tokyo (setelah sebelumnya banyak pihak yg menunggu shalat jenazah di SRIT, kemudian dilakukan shalat ghaib di SRIT)
12-3-2010 | 14:30 JST : berangkat ke pekuburan di Yamanashi
12-3-2010 | 16:45 JST : penyelenggaraan prosesi penguburan di Monju-in Yamanashi
12-3-2010 | 18:00 JST : rombongan bertolak kembali dari Yamanashi ke Tokyo
Sekian
Wassalamu’alaikum warohmatullah…
–
Bramantya dan keluarga.
Alkanyari said
innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun, lama tak mengunjungi blog anta akh.., krn kesibukan (beneran n yg dibuat2/males), sampai2 lama tak up-date blog sdr.
Smoga Allah Ta’ala memberi balasan yg terbaik untuk kita, terutama utk antum, keluarga & putri antum. Berbahagialah akan syafa’at putri antum kpd ortunya di hari akhirat kelak insyaAllah. Amiin.
raggne said
Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un
Semoga Allah swt menganugerahi kebaikan yang lebih baik kepada Sahabatku, seluruh keluarga, dan mereka yang menyayanginya. Amin.
Taufan Enggar
http://raggne.wordpress.com