BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

“ing ngarso sung tuladha” (kliping berita Media Indonesia & Majalah Gatra)

Posted by bramantya on March 3, 2010

ing ngarso sung tuladha

ing madya mangun karsa

tut wuri handayani

Diatas adalah slogan yang kita ketahui berasal dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat). Jika anda masih belum berhasil mengingat beliau yang satu ini, silakan menengok lembaran uang Rupiah 20ribu! Gimana? Sudah nyambung? (hehehe…). Beliau memiliki karya monumental yang membuat Indonesia sangat menghargainya, yaitu pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Bicara soal lembaran uang, apa sih visualisasi yang tergambar pada pecahan tertinggi di uang Indonesia? (Soekarno-Hatta betul?). Beda dengan Jepang yg menempatkan visualisasi Tokoh Pendidikan dalam lembaran pecahan uang terbesarnya (10,000 yen), yaitu Yukichi Fukuzawa. Silakan merenungkan sedikit…

Kembali ke slogan yang menjadi judul artikel ini “ing ngarso sung tuladha” (di depan memberi keteladanan). Dan karena berasal dari bahasa Jawa, sekalianlah saya artikan intinya: “ing madya mangun karsa” (=di tengah membangun semangat), “tut wuri handayani” (=di belakang mendukung). Ada rasa bahasa yang hilang sebenarnya disana, tapi minimal itulah artinya. Anyway, itulah yang ingin saya angkat kali ini “memberi keteladanan”. Sebagai pribadi yang berusaha untuk baik, maka saya ingin memainkan ketiga posisi tsb secara baik, di depan-tengah-belakang. Ada saatnya kita di depan, maka berikanlah keteladanan yang baik (optimal). Saat di tengah, berusahalah membaur, cair, dengan tujuan menumbuhkan semangat kebaikan, nyalakan semangat orang-orang di tengah-tengah anda. Dan ketika di belakang, berusahalah mendukung dan mengayomi. Jangan sampai ketika di depan, kita malah bersikap seperti orang belakang, kacau-lucu-dan gak pas banget, begitu sebaliknya dan kombinasinya. Ketiga rangkaian filosofi itu sangat luas untuk dijabarkan. Silakan menggali lebih dalam lagi…

Sekarang saatnya to the point, saya pengin share info sekaligus narsis, agar jiwa-jiwa yang menyimpan semangat dan kecemburuan itu segera bergerak. Saya yakin jumlah mereka sangat banyak dan kualitasnya jauh lebih baik di atas saya. Yaitu dengan dua buah pemberitaan di Media Nasional tanah air. Pertama di Media Indonesia 12 Feb. 2010, kedua di Majalah Gatra 24 Feb. 2010 (saya sebut sesuai urutan publikasinya). Media Indonesia menempatkannya dalam 40 sosok terpilih, Majalah Gatra menyelipkannya (2 hal penuh) sebagai Ikon. Selamat menyimak…

====================================================

Mengulik Ultrasonik Pendeteksi Fluida Cerdik

Media Indonesia | Jumat, 12 Februari 2010 | Hal.18

PENGANTAR: Tahun ini tepat 40 tahun Media Indonesia hadir. Untuk merayakannya, kami menampilkan 40 sosok terpilih. Berikut ini ialah sosok ke-19, peneliti asal Yogyakarta yang meraih penghargaan dari salah satu universitas prestisius di Jepang.

Tampilan di Media Indonesia (versi online), maaf photo-nya saya hitamkan, hehehe

SALAH satu ruang laboratorium di Universitas Keio, Tokyo, Jepang, telah menjadi sarang nyaman bagi Muhammad Agung Bramantya.

Setiap hari, pengajar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu biasa memanfaatkan 6-7 jam sehari untuk meneliti. Lelaki yang biasa disapa Bram itu tengah fokus pada penelitiannya, mengembangkan metode ultrasonik untuk meneliti fluida (cairan).

Fluida yang dimonitor Bram tergolong fluida pintar. Misalnya, MagnetoRheological atau biasa disebut MR fluid. “Inti dari teknologi fluida pintar ini ialah peredam aktif. Maksudnya, peredam itu secara aktif melakukan efek peredaman sesuai guncangan yang diterima,” jelas Bram di chat room, (28/1).

Lantaran itu, jenis fluida pintar banyak digunakan dalam sistem peredam. Misalnya dipasang dalam sistem peredam gempa yang ditanamkan pada gedung agar tahan guncangan, ataupun sistem suspensi pada kendaraan. Produsen mobil mewah Audi, misalnya, telah menggunakan MR fluid untuk suspensi pada seri TT RS ataupun Audi R-8.

“Memang fluida pintar sangat cocok untuk guncangan-guncangan yang tidak teratur. Misalnya ketika mobil melewati jalan yang bergelombang, tiupan angin di gedung tinggi atau jembatan,” jelas lelaki 29 tahun itu.

Nah, untuk memonitor fluida tersebut, Bram memanfaatkan gelombang ultrasonik. Metode ini tergolong rumit, namun hasilnya lebih presisi ketimbang metode optik yang selama ini umum diaplikasikan. “Dan nanti, akan lebih praktis,” tambahnya.

Lantaran itu ia diganjar penghargaan Young Engineer Award di Jepang tahun lalu. Sebelumnya, Bram dianugerahi penghargaan Fujiwara dari Universitas Keio. Dari empat penerima penghargaan tersebut, Bram menjadi satu-satunya orang asing, tiga lainnya peneliti Jepang.

Sebagai gambaran, Universitas Keio termasuk salah satu yang prestisius di Jepang. Saking prestisiusnya, di Tokyo berkembang istilah Keio Boys untuk mengacu pada kelompok mahasiswa yang pintar, kaya, dan gaul. Tentu saja tidak semua mahasiswa Universitas Keio sepakat.

Pemantik

Sejak kuliah, Bram tergolong cemerlang. Dia merupakan lulusan tercepat di UGM. Meskipun begitu Bram mengaku bukan kutu buku. Dia masih sempat melakukan aktivitas keagamaan dan sosial. “Saya bukan sosok kutu buku dan maniak riset, kok. Saya aktif di takmir masjid dan ormas Islam, Wahdah Islamiyah,” tulisnya.

Bram juga aktif di forum alumni SMA 1 Yogyakarta, almamaternya. Salah satu misi forum ini ialah memberikan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu. Bram paham betul beasiswa menjadi jalan terang bagi mereka yang bersemangat menambah ilmu.

Dia memang tergolong ‘murid beasiswa’. Studinya di Jepang berkat guyuran dana JICA. Pun studi pascasarjana yang ia jalani di Universitas Malaya, Malaysia, juga didanai JICA. Di Malaysia, Bram sempat tergabung dalam tim desain mobil bertenaga surya (solar car).

Bram juga ngeblog, meski tidak rutin menulis setiap hari. Blog pribadinya, www.bramantya.wordpress. com tidak melulu berisi tulisan serius. Dia sesekali menulis mengenai kehidupan sehari-hari di Jepang, perenungannya, sampai hobi masak memasak yang ia kerjakan bersama keluarga. Suami Dora Viala Fudholi itu termasuk rajin mendokumentasikan makanan sedap hasil resep andalan keluarga.

Di blog itu, dia juga mengisahkan penggalan perjalanan ke Dresden, Jerman, saat menghadiri seminar internasional ERMR (Electrorheological Fluids and Magnetorheological), Agustus 2008. Bram mengaku peristiwa itu menjadi momen penting perjalanan keilmuannya.

Di sana ia memenangi Best Poster Prize setelah menyisihkan sekitar 110 ilmuwan dari lima benua yang mempresentasikan karya mereka. Teman temannya lantas menggurau, Bram disebut telah menaklukkan the golden J triangle, Jawa-Jepang-Jerman. “Hehehehe, ada-ada saja,” tulisnya.

Bram juga menambahkan, momen di Dresden-lah yang memantik rentetan prestasi berikutnya. Kemenangannya saat itu telah menarik perhatian ilmuwan lain sehingga Universitas Keio menempatkan Bram di antara empat mahasiswa Keio lainnya sebagai peraih Fujiwara. Akibatnya, penelitian Bram mudah mendapatkan dana.

Kolaborasi

Meneliti di Jepang, lanjut Bram, dimanjakan fasilitas dan dibiasakan kerja sama tim. Di sana, penelitian sudah biasa dikerjakan secara berkelompok. “Justru momen penting dalam proses penelitian saya terjadi ketika ada sinergi ide dan keahlian dari anggota riset,” kata Bram.

Menurutnya, ketika riset menemui jalan buntu, para senpai (alumni atau senior) bisa dihubungi untuk berbagi saran. “Misalnya saat mendesain test-cell khusus ultrasonik untuk meneliti fl uida pintar. Parameter yang harus diperhatikan sangat kompleks. Awalnya saya memiliki konsep desain sendiri tapi hasilnya enggak bagus setelah uji coba berulang kali,” ceritanya.

Jalan riset yang mulai buntu itu lantas terbuka kembali setelah Bram rembugan dengan anggota riset lainnya selama satu bulan. “Ternyata hasilnya bisa optimal,” kisah Bram.

Riset itu makin efi sien ketika sejumlah senpai turun tangan. Pengalaman itu membawa Bram pada pemahaman bahwa semangat bekerja sama merupakan hal yang paling ditekankan di Jepang. “Ada dua hal lain yang terasa betul sangat ditekankan di sini. Yaitu disiplin dan kerja keras,” tegasnya.

Bram lalu mencontohkan budaya sejumlah perusahaan Jepang. “Coba saja perhatikan mereka. Terminologi yang muncul misalnya kaizen (perbaikan terus-menerus sekecil apa pun)dan JIT (just in time),” lanjutnya.

Lantaran itu Bram makin disiplin. Sifat kerja kerasnya juga makin terpupuk. Semua itu menjadi modal Bram untuk kembali ke Yogyakarta tahun depan. Penelitian mengenai pengembangan metode ultrasonik untuk meneliti fluida pintar itu pun akan ia boyong ke Tanah Air. “Tentu saja ada beberapa penyesuaian, beradaptasi dengan situasi dan kondisi di Tanah Air, terutama di UGM. Saya rasa keberadaan saya di Lab Dinamika Fluida UGM cukup bisa dijadikan modal awal,” tekad Bram.

(M-2)

==============================

Obsesi Periset Smart Fluid

Majalah Gatra | 24 Februari 2010 | Hal.32-33

Muhammad Agung Bramantya menjadi orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM. Buah ketekunan sejumlah riset bidang smart fluid. Untuk jangka pendek, PLTN bisa menjadi solusi alternatif guna mengatasi krisis listrik.

tampilan di Majalah Gatra, lagi-lagi photo-nya tidak penting, maaf...

Dunia riset di laboratorium memang jauh dari hiruk-pikuk kemilau glamor. Meski sepi, dunia riset bukan berarti tidak dapat memberi kepuasan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Muhammad Agung Bramantya, kandidat doktor di Universitas Keio, Jepang. Berkat ketekunan dan temuannya dalam sejumlah riset, pria kelahiran Yogyakarta, 22 Maret 1981, ini dianugerahi Fujiwara Award.

“Saya senang karena (menjadi) orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara,” kata Bram, begitu ia biasa disapa. Fujiwara Award diambil dari nama Ginjiro Fujiwara yang hidup pada 1869-1960. Ia pendiri Institut Teknologi Fujiwara, cikal bakal Fakultas Sains Teknologi Universitas Keio. Anugerah yang diterima Bram pada 30 Maret 2009 itu adalah penghargaan bagi peneliti yang aktif dan bergiat di lintas bidang, baik sains maupun sosial budaya.

Bram, yang belajar di Jepang sejak Maret 2008, tidak tahu secara pasti mengapa anugerah itu jatuh ke tangannya. Yang dia tahu, dirinya banyak terlibat dalam presentasi hasil riset di forum konferensi ilmiah, baik di Jepang maupun di dunia internasional. Untuk bidang sosial, Bram bergabung dalam forum South-East Asian Engineering Development Network (Seed Net). Forum ini berisi para peneliti dari ASEAN dan Jepang.

“Selain saling dukung secara ilmiah-akademis, juga menjadi ajang untuk mengenalkan budaya dan informasi dari tiap negara,” katanya. Menurut Bram, penilaian dari sisi parameter akademik jelas terukur, sedangkan untuk parameter sosial-budaya tentu subjektif. Untuk aspek akademis, Bram bercerita bahwa dirinya pernah maju dalam seminar dunia ke- 11 tentang Electrorheological Fluids and Magnetorheological Suspensions (ERMR) Organizing Committee pada September 2008 di Jerman.

Dalam seminar itu, Bram adalah satu-satunya wakil Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di sana, ia menyabet Best Poster Prize, menyisihkan 100-an poster peneliti dunia di bidang tersebut. “Itu prestasi puncak yang mungkin menginspirasi pemberian Fujiwara Award,” ujar peneliti yang selalu mengaku sebagai orang Indonesia, meski dalam diskusi menyatakan diri sebagai wakil Jepang. Ada pengalaman lucu ketika ia mendapat sampanye. “Bingung mau diapakan, akhirnya saya buang ke toilet,” katanya.

Kesetiaan Bram pada riset ternyata membuahkan penghargaan. Tanpa pernah mengimpikannya, pada 19 November lalu ia menerima Young Engineer Award. Anugerah dari Japan Society of Applied Electromagnet and Mechanics (JSAEM) ini diberikan pada puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 di Universitas Tokyo. “Penghargaan kali ini karena ada temuan spesifikasi di bidang itu,” ujar Bram.

Unsur kebaruan risetnya ada pada penggunaan metode ultrasonik un­tuk menganalisis struktur dalaman pada sebuah smart fluid, yang berupa magnetorheological fluid. Sebelumnya, para periset biasa memakai metode simulasi numerik, metode optical microscope, atau metode spektrografi analisis sektrum cahaya. Semua metode ini memakai preparat. “Sedangkan saya memakai metode gelombang ultrasonik,” katanya. Dengan metode ini, secara prinsip tidak ada perlakuan khusus terhadap fluida yang akan diteliti.

Aplikasi riset smart fluid kini merambah berbagai bidang. Di dunia otomotif dipakai untuk memonitor sistem suspensi peredam atau pemantau efek suspensinya. Penerapan suspensi dengan smart fluid telah dilakukan pada mobil Audi, Ferrari, dan BMW. NASA juga mengembangkannya untuk injeksi bahan bakar fluida. Sedangkan MIT lebih ke arah robotik.

***

Dunia riset yang kini ditekuni Bram tidak bisa lepas dari hobinya melakukan riset sejak mahasiswa. Salah satu risetnya ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, adalah mendesain mobil tenaga surya. Topiknya adalah “Aerodynamics Performance for Body Development of a Solar Car”. Ketika ia lulus dari teknik mesin UGM, skripsinya berjudul “Redesign Conceptual Aircraft: Airbus A 330”. Selain menjadi mahasiswa terbaik, Bram juga menjadi  mahasiswa yang lulus tercepat di angkatannya.

Begitu lulus, Bram sempat bekerja di Unocal. Namun, tak sampai setahun, ia merasa tidak sreg bekerja di tengah laut dengan sistem dua minggu kerja-dua minggu libur. “Bukan jenis pekerjaannya, melainkan sistemnya. Saya juga melihat jalur engineer di sana begitu-begitu saja. Jadi kuli, walau bayarannya besar,” katanya. Sebenarnya ia berencana terjun ke industri dulu selama 10-15 tahun, baru kemudian balik ke kampus untuk mengajar dan meneliti.

Namun Bram sudah gatal terjun ke riset. Pada 2004, ia pun memutuskan melanjutkan S-2 teknik mesin di Pascasarjana UGM. Ia tuntaskan studinya ini dalam tiga semester, dengan IPK 3,86. Lalu ia meneruskan kuliah di University of Malaya, menekuni teknik desain dan manufaktur. Selain belajar, ia juga aktif memberi tutorial resmi S-1 dan S-2 serta terlibat dalam berbagai pameran akademik dan presentasi poster.

Tesisnya, “Development of a Software for Designing and Manufacturing of an Impeller”, sekaligus menghasilkan software desain impeller pump layak paten lokal. “Tapi saya tidak mau. Enakan Malaysia, dong,” kata Bram. Suatu saat, jika pulang ke Indonesia, ia mencoba mematenkannya. Selain itu, juga bisa dipakai sebagai “senjata” jika akan bermitra dengan Malaysia.

Kini, di Jepang, Bram fokus di bidang yang didalaminya sejak 2007, yakni smart fluid, baik yang cair maupun gas. Proses studinya tidak berupa aktivitas kuliah atau tatap muka. “Semuanya berbasis penelitian,” ia menambahkan.

Kini tesis S-3 yang disiapkannya adalah soal magnetic and magnetorheological fluids. Risetnya merupakan bagian dari beasiswa JICA. Kini dilakukan di Jepang karena instrumentasi dan bahan materialnya terbilang mahal.

“Untuk gambaran, saya mendapat Rp 100 juta per tahun,” kata ayah dua anak berusia lima dan tiga tahun ini. Uang itu untuk bahan operasional. Selain itu, tambah Bram, masih ada dana dari profesor di laboratorium dan peralatan lainnya milik universitas senilai milyaran rupiah. “Saya taksir Rp 3 milyar-Rp 5 milyar,” kata Bram. Mahalnya biaya terletak pada investasi pembangunan laboratorium utuh, yang jika lengkap bisa mencapai Rp 1 trilyun.

***

Bram bersyukur, UGM dan pemerintah memberi dukungan penuh. “Kalau bukan dosen UGM, saya mungkin sulit mengakses fasilitas di sini. Pihak Jepang juga melihat status dosen dan PNS saya,” ungkap Bram. Ia percaya, sejumlah risetnya potensial untuk dikembangkan dan diterapkan. Riset S-1 bisa untuk bidang aerodinamika pesawat. Penelitian S-2 tentang flooding sangat dibutuhkan di reaktor nuklir.

Soal nuklir, Bram yakin, PLTN mampu menyelesaikan krisis listrik jangka pendek. “Jika nanti infrastruktur energi ramah lingkungan tercapai, barulah PLTN ditinggalkan sejauhjauhnya,” kata Bram.

Bila nanti kembali ke UGM, Bram ingin mengintensifkan riset-riset ke arah paten dan membangun jaringan interdislipiner ilmu. “Insya Allah, bisa lahir banyak temuan yang berguna untuk rakyat,” ujar Bram.

===================================

Nah itulah dua artikel yang ingin saya share. Semoga anda anggap ini sebagai narsis belaka, jikapun anda bisa menarik benang merah kepada “ing ngarso sung tuladha” saya sangat tersanjung, anda sangat baik sekali. Harapannya semoga anda “iri” dan segera menunjukkan kerja-kerja yang lebih baik daripada itu…

Selamat berkarya…!

-alhamdulillahi bihi tatimmush shalihat-

7 Responses to ““ing ngarso sung tuladha” (kliping berita Media Indonesia & Majalah Gatra)”

  1. Johan said

    keren bram,

    ikut bangga dulu pernah sak kelas…..huehehehe

    • bramantya said

      makasih Jo, kalau gitu (*dg sampel satu ini) semua temen sekelas akan bangga semua…huehehehe
      lalu muncul karya-karya lebih baik lagi.
      Dirimu ngurusi gas to? mbok yo ditahan gas-nya supaya tidak keluar-keluar negeri :D
      sukses yo…

  2. hendrix said

    wah…
    jadi semangat nih pengen meneliti..
    tapi nasib masih kuli pabrik

    Thanks Pak .. atas kompornya :)
    MANTABS

    • bramantya said

      iya Mas Hendri,
      kalau sampai tak terasa panas, berarti ada sesuatu yg “salah” ;)
      salam berkaca-kaca..

  3. sudigdo said

    Congratulation mas Bram.
    semoga begitu selesai studinya cepat balik home town dan apply hasil risetnya untuk bumi pertiwi pada umumnya dan almamater kita khususnya.
    saya jadi pengin studi lagi tp kayaknya kondisi sdh tdk memungkinkan. Paling tidak sebagai bahan untuk motivasi anak saya.

  4. [...] ini pernah dimuat oleh majalah Gatra, edisi 24 Februari 2010, hal. 32-33, dengan judul Obsesi Periset Smart Fluid. Ia adalah tentang sosok seorang periset muda Muslim Indonesia, Muhammad Agung Bramantya, yang [...]

  5. Raka Cagak said

    pola wong sugih???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.