tak gendong kemana-mana
Posted by bramantya on October 19, 2009
Entah kenapa, istilah “tak gendong kemana-mana” menjadi poluler. Mungkin terkait dengan momentum sang-empunya meninggal dunia disaat diri dan karyanya naik daun. Atau memang begitulah ”selera pasar” pada saat itu pas cocok dengan istilah itu. Yang pasti istilah itu menari-nari di kepalaku beberapa saat yang lalu. Lalu teringatlah diriku akan isi tas ransel yang selalu saya gendong bolak-balik apartemen – kampus. Apakah itu?
Selain pernak-pernik alat tulis standard, belakangan ini tas ransel saya berisi dua buku yang tebal, baik tebal dari sisi fisiknya maupun tebal dari sisi materinya. Begimane tidak tebal, lha wong isinya sesuatu yang fantastis bagi saya, yaitu:
1) An introduction to nonlinear oscillations, Ronald E. Mickens, Cambrige University Press, 1981
2) Introduction to perturbation techniques, Ali Hasan Nayfeh, John Wiley & Sons, 1981
Walaupun kedua buku itu berlabel “introduction” tetap saja saya tidak paham sepenuhnya. Pun ketika dibaca bolak-balik. Nonlinear system adalah barang relatif baru bagi saya, meski ranah itu masuk dalam cakupan mechanical engineering (teknik mesin). Begitulah proses belajar yang harus saya lalui disini, demi mendapat rekomendasi “lulus” dari dua orang professor diluar spesifikasi saya, sebelum selesai dari kawah candradimuka S3 ini, insya Allah.
Hal lain yang menarik dari kedua buku yang tak gendong ke rumah dan ke kampus itu adalah tahun terbitnya. 1981, tepat pada tahun kelahiran saya. Tidak akan saya otak-atik-ganthuk, toh juga tidak akan menambah manfaat. Boro-boro menambah paham isi buku, malah bikin bisikan tidak jelas. Berarti buku itu sudah seusia diri ini di dunia.
Buku lain, lebih tepatnya print-print-an artikel dari website webersis[dot]com karya Ersis W. Abbas, juga beberapa hari ini tak gendong kemana-mana di dalam rumah sebagai bacaan selingan, ada empat buku telah selesai dibaca hasil kumpulan download artikel berjudul:
1) Menulis sangat mudah
2) Menulis mari menulis
3) Menulis mudah: dari babu sampai pak dosen
4) Menulis mudah: menulis pikiran
Provokasi penulis buku sedikit banyak menular. Hasilnya saya tambah pengin nulis buku
. Sudah cukup ekspresi pribadinya. Lega..karena tarian di otak sudah tercurah di tulisan ini. Sebagian orang meluapkan beban pikiran dengan bahasa verbal (mayoritas) dan sedikit dengan bahasa tulisan. Bahasa verbal mulai dari bisik-bisik curhat “glenikan” sampai teriak-teriak super heboh, habis itu plong…kata-kata tertiup angin yang berhembus “ewess ewess”, hilang tanpa bekas hanya catatan malaikat yg tersisa yg kita sendiripun seringnya lupa. Kalau bahasa tulisan, ada barang bukti yang bisa dibaca sendiri dan orang lain (kalau mau) ee…mana tau bermanfaat. Pun berguna buat introspeksi diri. Sampeyan pilih mana, verbal atau tulisan?
Saatnya berbagi.
Beberapa orang menanyakan resep riset sukses. Ho..ho..ho rupanya terprovokasi penghargaan yg saya dapat di Jerman tahun lalu, juga Fujiwara-award-nya di Jepang, dan deretan list publikasi yang terlihat keren bagi sebagian orang itu. Resepnya kembali ke “tak gendong kemana-mana”. Ya…ruh riset selalu dibawa kemana-mana.
Ingat ruh-nya lho…esensi dari riset kita yang berisi hal-hal mendasar (bukan teknis-ekuasi-rumusi bagian berpusing ria) itulah yang harus selalu nempel di otak kemana-mana kita berada. Dari situlah muncul “pantikan” ide problem-solving, pintu pembuka penyelesaian dan pengembangan riset di saat tak terduga. Bisa jadi saat itu anda lagi merenung di kamar mandi menunggu suksesnya hajat, atau saat mengunyah lezatnya makanan menghirup sedapnya minuman, atau bahkan saat bercengkerama bersama keluarga tercinta, bercanda ria bersama kawan seirama. Nah, pantikan ide itulah yang kemudian anda teruskan di kampus atau lab sembari berpusing notasi, berjibun referensi, serangkaian eksperimentasi dan hangatnya diskusi. Sekali lagi, yang anda gendong kemana-mana bukan hal-hal berat dari riset atau study anda terkait notasi-rumus-hapalan-code-analisasi dan tetek-bengek njelehi-nya, tidak asyik tau…!
Dengan menggendong kemana-mana ruh riset atau study anda, maka ianya akan terus mengalir di setiap helaian nafas anda. Perkara-perkara yang tadinya rumit-ruwet-kompleks sekilas tak terselesaikan ketika anda hadapi dengan garang plus semangat 45 di kampus atau lab, lambat laun akan terurai dengan sendirinya disaat anda bawa rileks dan santai dalam dimensi lain. Permasalahan riset dan study itu akan melembut disaat nafsu mengabaikannya. Setidaknya itulah yang saya alami, percayalah. Bukan solusi berlama-lama di kampus atau lab, jika pikiran macet. Siapa sih yang bisa ON terus pikirannya hingga 5 atau 6 jam secara kontinyu? Hehehehe…
Ada yang lebih penting
Artikel ini diawali dengan curhat pribadi, kemudian sedikit berbagi, kini diakhiri dengan sesuatu yang lebih penting dari semua itu. Yaitu agama…ya…hal-hal yang terkait Allah dan Rasul-Nya, serta aplikasi dari para shahabat yang mulia. Gendonglah kemana-mana perkara agama Islam anda. Jangan hanya disaat pelajaran agama atau di masjid atau dihadapan orang-orang yang anda anggap shalih saja perkara agama ini anda gendong. Tapi gendonglah Islam itu disetiap anda berada. Pesan Nabi: “bertakwalah dimana saja kalian berada”. Konsep mulia Ihsan adalah: “engkau beraktivitas seakan-akan Allah melihatmu, jika engkau tak mampu (merasakan) penglihatan-Nya, maka sesungguhnya Dia-Allah Maha Melihat”. Pasti…pasti…dan pasti hidup anda akan lebih indah. Buktikanlah…!
Yokohama, 20 Oktober 2009
M.A. Bramantya (semoga Allah menjaga keikhlasannya)

