BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Archive for October, 2009

Lima tahun sudah

Posted by bramantya on October 30, 2009

5tahun

made in ibuuk...

Sudah lama saya tidak menulis perihal anak-anak. Tak terasa, tahun telah berlalu sekian banyak sejak tulisan tentang anak-anak itu saya buat dahulu kala. Hingga pada akhirnya, sebuah dialog antara kakak beradik itu melambungkan pikiran saya. Sebuah cuplikan fragmen biasa-biasa saja dalam keluarga kami tiba-tiba berputar-putar dikepala. Terus berputar melambungkan kesadaran saya sebagai seorang ayah. Iya…status sebagai seorang ayah dari seorang anak, sebuah status yang biasa-biasa saja jauh dari kesan “wah” dan “prestisius”. Profesi seorang Bapak adalah profesi yang juga biasa-biasa saja, jauh dari rasa decak kagum dan tepukan penghargaan.

Read the rest of this entry »

Posted in Family | 2 Comments »

Masjid Turki di Negeri Sakura

Posted by bramantya on October 28, 2009

Memposting ulang artikel tulisan saya di berbagai tempat, kali ini saya unduhkan dari majalah elfata edisi oktober 2008. Lumayan jadul sih, umur artikel sudah setahun yang lalu. Tapi gak papa, mana tahu ada yang terlewat membacanya, mana tau makin dibaca makin gimana gitu. Selamat membaca!

http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&task=view&id=265&Itemid=91

Masjid Turki di Negeri Sakura

TokyoMosque

Tokyo Camii Mosque (tampak luar)

Hari jum’at itu, alhamdulillah, tugas-tugas kampus telah selesai. Mumpung hari Jum’at, saya mau jalan-jalan ke Tokyo mengunjungi Baitullah yang sudah lama tidak saya kunjungi. Jepang berbeda dengan Indonesia, di sini susah cari masjid. Adanya masjid cuma di kota-kota besar saja seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, Kyoto, dan sebagainya. Read the rest of this entry »

Posted in my Diary | 6 Comments »

Wajah Televisi Hari Ini

Posted by bramantya on October 20, 2009

artikel ini adalah re-posting dari website belajarislam[dot]com

televisi

GEMES. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “kebelakang”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.

Berikut realitanya:

Infotainment” memberitakan perceraian sang-idola. “Reality Show” mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. “Talk Show” lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. “Masihkah Kamu Mencintaiku” menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas layanan istri. “Take Me/Him Out Indonesia” menjadi ajang cari jodoh bikin heboh. Dalam setiap episode “Take Me Out“, ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang mencari jodoh. Untuk “Take Him Out“, jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. Public Relation dan Promotion Fremantle Media di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses Take Me/Him Out kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. Infotainment dan reality show model “Termehek- mehek” sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu. Read the rest of this entry »

Posted in RENUNGAN | 4 Comments »

tak gendong kemana-mana

Posted by bramantya on October 19, 2009

mind-2520puzzles.gif

Entah kenapa, istilah “tak gendong kemana-mana” menjadi poluler. Mungkin terkait dengan momentum sang-empunya meninggal dunia disaat diri dan karyanya naik daun. Atau memang begitulah ”selera pasar” pada saat itu pas cocok dengan istilah itu. Yang pasti istilah itu menari-nari di kepalaku beberapa saat yang lalu. Lalu teringatlah diriku akan isi tas ransel yang selalu saya gendong bolak-balik apartemen – kampus. Apakah itu?

Selain pernak-pernik alat tulis standard, belakangan ini tas ransel saya berisi dua buku yang tebal, baik tebal dari sisi fisiknya maupun tebal dari sisi materinya. Begimane tidak tebal, lha wong isinya sesuatu yang fantastis bagi saya, yaitu: Read the rest of this entry »

Posted in Kisah Fluida | 2 Comments »

Angin Topan nomor 18

Posted by bramantya on October 8, 2009

07cnd.japan.inline.650

Hari ini, kami mengalami suatu pengalaman yang baru, yaitu diterjang angin topan. Jepang adalah salah satu Negara yang rutin disapa oleh gejala alam semisal gempa bumi, tsunami dan angin topan. Sehingga Negara dan rakyatnya harus siap sedia selalu dengan berbagai caranya. Mungkin hal inilah yang membuat mereka tahan banting dan survive di dunia yang keras, bahkan menjadi lecutan tersendiri untuk selalu maju dan terus layak dimata dunia.

Read the rest of this entry »

Posted in my Diary | Leave a Comment »

EXILIM Pro EX-F1 cihuuy…

Posted by bramantya on October 7, 2009

ex-f1

Tahun ini grup riset kami (saya sebagai leader) merambah area baru, yaitu mempelajari shock-effect pada functional magnetic fluid (perkenalan kepada fluida ini saya urai di artikel sebelumnya). Ide nya berasal dari seberapa besar efek redam dari fluida pintar ini terhadap impact/shock force (beban kejut). Aplikasi futuristiknya di arena militer sebagai baju anti peluru yang nyaman, hehehe…kok bisa? Begini critanya.

Sudah diketahui bahwa functional magnetic fluid mempunyai efek peredam. Lha kalo efek peredalam ini diperbesar, bisa menahan proyektil peluru sekalipun (mungkinkah?, saya harap begitu). Bayangan mudahnya, coba anda bayangkan segelas air kemudian anda celupkan sebutir kelereng, maka perlahan (atau cepat ?) kelereng itu akan turun ke bawah. Lalu alihkan bayangan anda, kini ganti segelas air dengan segelas functional magnetic fluid (misal, magnetorheological fuid – fluida magnet-reologi –), lalu kelereng diganti dengan kelereng dari besi. Maka berdasarkan eksperimen, kelereng besi itu akan terhenti ditengah-tengah fluida magnet-reologi ketika dikenai medan magnet. Dan jika medan magnet diperbesar, fluida magnet-reologi berubah menjadi padatan (solid), yang dimungkinkan laju pesat pucuk oyektil peluru-pun mampu tertahan di dalamnya. Selipkan saja cairan pintar itu dibaju sembari menambah aksesoris pembangkit medan magnet, jadilah baju tahan peluru. Huebat bukan?

Itulah ide muluk-muluknya, lalu untuk mewujudkannya diperlukan serangkaian experimen sebagai kajian empirik, berhelai lembar penurunan rumus sampai rambut “keriting dan rontok” sebagai kajian analitis dan sekian deret coding yang kadang bikin “muntah” jika pengen melengkapi dengan kajian numerik. Ih…ngeri…! Ya iyalah, itulah harga teknologi dan pengetahuan yang terkadang harus dibayar oleh penemu dan penelitinya. Tapi yang melewati dengan tahap itu “baik-baik saja” juga banyak, bahkan lebih banyak :) .

Read the rest of this entry »

Posted in Kisah Fluida | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.