Ramadhan Sakura di Belajarislam.com (#2, Habis)
Posted by bramantya on September 17, 2009
Lanjutan dari posting sebelumnya, meneruskan turunan dari artikel Ramadhan di www.belajarislam.com . Berikut adalah tiga artikel dengan judul sbb:
(5) Waktu Puasa dan Displin
(6) Enaknya Berbuka Puasa (bersama masyarakat Indonesia di Keio University)
(7) Bola Lampu Kampusku Baru Semua (renungan puasa dan preventive maintenace)
Secara gaya bahasa, hampir semua artikel bersifat ke-aku-an (gue banged) yg kata sebagian orang merupakan level terendah dalam dunia artikel, level kedua bersifat ke-kami-an, dan level tertinggi adalah bersifat ke-kita-an (universal). Dalam level universal manfaat yg diambil sangat besar, banyak dan tercerna oleh semua orang. Itu kata sebagian orang sih…mungkin anda tidak setuju.
Ada juga yg berpendapat sebaliknya, justru gaya bahasa ke-aku-an dan berisifat ringan-enak-renyah dibaca inilah yang disukai, terlebih jika menyisipkan pesan-pesan universal (nilai Islam) dalam alur ceritanya, pesan sisipan menyentil lembut tanpa berasa menggurui, pun tidak bosan sebagaimana artikel universal berat pada umumnya.
ah…terserahlah…mungkin masih ada segudang opini lainnya menyoal tulisan dan gaya bahasa. Ga papa..memang baru sampai disini taraf tulisan saya (lho kok jadi sensi gini ya? hehehe). Yang penting jika ada masukan terkait materi dan muatan syar’i dalam artikel, sangat saya nantikan…jangan pelit atau sungkan memberi masukan lah…oke?! Semoga bermanfaat.
http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/698-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-5
Waktu Puasa dan Disiplin
Di bulan Ramadhan ini, saat sahur apa yang anda lakukan ketika mendengar adzan shubuh? STOP, segera BERHENTI (menyelesaikan seadanya) sahur bukan? Bahkan sudah ancang-ancang berhenti sejak waktu imsak (popular di Indonesia, namun perlu dikaji ulang pelaksanaannya) boleh nggak molor barang DUA atau TIGA menit? Tentu tidak boleh. Jangankan dua atau tiga menit, semenit saja anda akan merasa was-was jika melewati waktu shubuh sementara sahur belum selesai.
Siapa/apa yang anda takuti jika molor dalam hal puasa? Tentu Sang Pembuat Syariat Puasa, Allah Azza wa Jalla, bukan selain-Nya.
Anda dapat menangkap point dialogis diatas terhadap judul artikel ini? Kalau belum, berarti kemampuan berfikir anda perlu ditingkatkan,hehehe… Ya betul. Sejatinya PUASA melatih kita untuk berDISIPLIN.
Jepang terkenal dengan kedisiplinannya. Saya sangat salut dengan system transportasi di Jepang, terutama kereta api. Di saat peak-time (jam berangkat dan pulang kerja/sekolah), jadwal antar kereta api hanya berdurasi 3 menit, bahkan kurang. Bayangkan jika satu kereta api molor 1 menit, akan mengganggu keseluruhan system. Dan banyak kerugian lainnya berderet antri dibelakangnya. Padahal system kereta api disini sangat buanyak dan ruwet, Stasiun Shinjuku saja memiliki 7 lantai di bawah tanah, belum atas tanahnya. Sehingga kalau ada keterlambatan, bisa dipastikan hanya dua penyebabnya: gempa bumi atau ada orang bunuh diri di lintasan. Shinkansen (kereta api super cepat) memiliki catatan zero-accident sejak dioperasikan pertama kali (1964) sampai sekarang. Nah…satu contoh system kasat mata diatas tentunya didukung oleh sumber daya manusia yang tentunya lebih disiplin, anti-molor alias anti-ngaret.
Catatan selanjutnya soal disiplin adalah adanya waktu standard seluruh Jepang, dan wajib dipakai oleh seluruh system penting di Jepang. Kalo soal waktu standard ini, hitungannya sudah bukan menit lagi, tapi detik, bahkan mili-detik, harus tepat sama persis –seragam.
Bandingkan dengan kita. Tidak dalam rangka men-general-isasi, gebyah uyah, bahwa semua kita tukang molor, jamnya ngaret semua, tidak. Tapi betapa seringnya hal-hal ketidakdisiplinan kita jumpai disekitar kita, bahkan sudah menjadi kebiasaan. Akankah kita diam, nrimo legowo tanpo roso, dalam hal ini?
Manusia sukses, masyarakat unggul, negara maju selalu bercirikan minimal DISIPLIN, lalu yang lainnya. Mereka meraih apa-apa yang ingin mereka raih. Dimana nilai-nilai tersebut semuanya ada dalam refleksi ajaran ISLAM, desain Sang Rabbul’Alamin dalam mendidik ciptaan-Nya. Sementara (sebagian besar) kita, umat Islam, ya..saya dan anda, gak usah jauh-jauh tunjuk sana-sini, saya dan anda saja, (maaf) terlalu pe-de (percaya diri) dengan keislamannya, terbuai dengan kegemilangan para pendahulu yang shalih, lalu berhenti sampai disitu (bangga dan terbuai tok). Tidak salah dengan kebanggaan tsb (yang hal bangga terhadap Islam saja kini luntur tergerus zaman), tapi apa ya cuma berhenti sampai disitu? Silahken dijawab, direnungken, lalu dipraktekken.
Jadi, masihkah anda mau molor dan tidak disiplin barang 2 atau 3 menit?
M.A. Bramantya
-pernah shock karena terlambat semenit.
—————————————————
http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/700-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-6
Enaknya Berbuka Puasa
-bersama masyarakat Indonesia di Keio University
Nasi sudah…minuman kolak pisang-ketela sudah…tempe mendoan sudah…es batu sudah…apa lagi ya? O iya, sambal terasi, penting itu…secara makanan Jepang tidak ada yang pedas, maka menu sambal menjadi primadona ketika acara kumpul-kumpul warga Indonesia. Ya, hari itu 14 Ramadhan 1430 kami warga Indonesia di Keio University (resminya Keio Indonesian Student Society, KISS) mengadakan acara berbuka puasa bersama. Tempatnya di Hiyoshi International House, Lounge B, letaknya sangat dekat dengan rumah kami, cuma beda gedung saja (kami tinggal di gedung D).
Sudah menjadi kebiasaan disini jika ada acara kumpul-silaturahim, maka urusan konsumsi diserahkan pada masing-masing peserta. Caranya tiap peserta diharap membawa makanan minuman sendiri-sendiri, kemudian nanti dikumpulkan dan dimakan bersama. Yang “single” (baik karena belum menikah atau sudah menikah tetapi keluarga ditinggal di tanah air) biasanya membawa minuman, buah atau makanan ringan. Sedang yang sudah berkeluarga biasanya membawa makanan beratnya. Cara ini cukup efektif walau suatu saat sempat kekurangan, malah seringnya berlebih. Menurut informasi, tetangga sebelah gedung masak sate nih, alhamdulillah.
Ternyata, syariat Islam dalam berbuka puasa itu enak ya?! Kita umat Islam dianjurkan untuk menyegerakannya, bahkan sebagai tanda baiknya umat. Tidak usah menunggu gelapnya malam apalagi munculnya bintang, cukuplah terbenamnya bulatan matahari sebagai tanda waktu berbuka puasa.
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan meminum air putih.” (HR. Abu Dawud)
Mari segera berbuka puasa, kemudian berdoa sesuai tuntunan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan jangan bikin doa rutin selain dari itu, kecuali jika ingin berdoa bebas tanpa merutinkan. Perlu diketahui bersama bahwa doa ketika berbuka adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak akan ditolak. Maka berdoalah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: 1. Pemimpin yang adil, 2. Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, 3. Doa orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah). Lafadz doa berbuka puasa: “Dzahabadh dhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Dawud).
Acara buka puasa dimulai dengan pembukaan oleh Ketua KISS, kemudian pesan-kesan singkat dari senpai (senior) yang sudah lulus S3 semester ini dan akan pulang ke Indonesia. Pesannya: tetap jalin silaturahim, saling tukar informasi di negeri asing ini dan jangan lupa untuk belajar dan mengamalkan Islam lebih detail lagi. Akhirnya acara utamapun tiba, saatnya mencicipi minuman kolak, tempe mendoan, sambal terasi dan sate ayam…bismillah…
Selamat berbuka puasa, semoga ibadah Ramadhan kita diterima Allah ‘Azza wa Jalla…amin
M.A. Bramantya
-sukses bikin kolak, tempe mendoan dan sambal terasi, alhamdulillah.
————————————————–
http://www.belajarislam.com/wawasan/liputan-dakwah/701-ramadhan-di-negeri-sakura-bagian-7
Bola Lampu Kampusku Baru Semua
-renungan puasa dan preventive maintenance*
Hari itu (17 Ramadhan 1430) terasa ada yang beda di kampusku, kampus Yagami, Keio University. Setelah saya perhatikan, ternyata semua lampu neon (silinder panjang) di ruangan berganti baru. Pantas dari tadi kulihat para pekerja maintenance/perawatan hilir mudik membawa kardus panjang. Kegiatan penggantian lampu neon ini dilakukan serempak bersamaan di semua titik lampu di kampus kami. Ya..semuanya tanpa kecuali, baik yang sudah mbleret, redup, maupun yang masih terang benderang. Pokoknya semua diganti baru. Itulah penerapan pereventive maintenance di Jepang, merawat sesuatu dengan mengganti sebagian atau keseluruhan sistem secara berkala tanpa harus menunggu kerusakan terjadi. Metode perawatan seperti ini diakui dan terbukti lebih menghemat biaya daripada corrective maintenance (repair, nunggu rusak baru diganti) secara keseluruhan dan jangka panjang. Silakan dicari detail informasinya jika menginginkan lebih lanjut, bukan disini pembahasannya. Yoosh…berasa suasana baru, semangat baru, dan yang jelas lebih terang dari biasanya.
Sore harinya, ketika saya berjalan pulang ke rumah yang berjarak 10 menit jalan kaki, saya terlintas sebuah sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam:
“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)
“Bagaimana menurut kalian kalau seandainya ada sebuah sungai di depan pintu rumah kalian dan dia mandi di sana sehari lima kali. Apakah masih ada sisa kotoran yang ditinggalkan olehnya?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak ada lagi kotoran yang masih ditingalkan olehnya.” Maka beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat lima waktu, ibadah jum’at dan puasa Ramadhan yang kita jalani ini adalah sebuah kegiatan rutinitas. Berkala kita lakukan selama hidup dan iman ini ada. Jika di-qiyas-analogi-kan diri kita ini (jasmani dan rohani) adalah sebuah system, maka ianya memerlukan perawatan. Dan system perawatan terbaik adalah preventive/pencegahan. Hapusnya dosa adalah perawatan efektif terhadap diri kita. Ditengah deru dan gelombang kemaksiatan di jaman ini, penghapusan kerak-kerak dosa sangatlah diperlukan.
Bukanlah kita tidak menginginkan diri kita (jasmani dan rohani) rusak? Betapa tidak enaknya sakit jasmani apalagi sakit rohani. Apa kita mau jasmani atau rohani kita sudah rusak, kemudian baru kita berusaha mencari solusinya. Maka inilah sebagian kecil hikmah syariat Islam, bahwa ianya akan selalu pas dan klop jika diterapkan oleh setiap insan. Bukankah syariat Islam datang dari Sang Rabbul’alamin, Sang Pencipta, Pemilik dan Pemelihara sekalian makhluk?.
Cobalah tengok sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih. Mereka adalah sosok yang selalu prima kondisi jasmani dan rohani-nya. Dengan syariat Islam-lah mereka memelihara diri hingga menampakkan unjuk kerja yang selalu puncak.
Bulan Ramadhan adalah sarana pemeliharaan yang disediakan Allah Jalla wa ’Ala bagi hambanya. Mari kita memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Siram terus kegersangan ruhani kita dengan berbagai aktivitas ibadah. Istirahatkan lambung dan nafsu duniawi kita. Saatnya kita mawas diri, introspeksi, muhasabah, merawat diri secara total di bulan mulia ini. Apa jaminan kita berjumpa Ramadhan tahun depan? Tidak ada jaminan. Maka mulailah dari sekarang. Semoga esok kita bisa tampil prima, seprima kondisi lampu neon di ruangan saya hari itu. Terang dan cerah menyebarkan aura penuh semangat dan produktivitas.
*preventive maintenance: system perawatan sebelum terjadi kerusakan berdasarkan hasil inspeksi, deteksi dan koreksi secara sistematis.
M. A. Bramantya
-semoga Allah menjaga keikhlasannya.
