BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Continuing City Through Kampong

Posted by bramantya on June 10, 2009

Berikut ini adalah tulisan adik saya yg telah dimuat di blog-nya. Sangat menarik…! terlebih setelah mendapat the First Honourable Mention Urbane Fellowship Program #2 di Bandung, Indonesia. Selamat membaca….

Joglo(gambar ilustrasi: Joglo Modern, salah satu karya Andyan Diwangkari)

* * * * *

Melanjutkan Kota Melalui Kampung :

Kontinuitas Kultural dan Identitas dalam Pembangunan

Oleh Andyan Diwangkari

(First Honourable Mention Urbane Fellowship Program #2)


Kota…,

Kampung…,

Kota dan kampung…

Dua padan kata yang saling bertubrukan, dua hal yang berlainan kutub. Setidaknya itulah yang terbersit dalam benak saya ketika pada akhir tahun 2008 harus kembali menjalankan ritual hidup “nomaden” di Yogyakarta ini. Dari kawasan titik nol kilometer1), yang dianggap sebagai pusat kota Yogyakarta yang lengkap dengan hiruk pikuknya, harus berpindah tempat tinggal ke lingkungan perkampungan di pinggir kota bernama Kampung Kuncen2), tempat dimana saya pernah menghabiskan masa kecil.

Akhh…ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Bayangan akan sulitnya transportasi dari tengah kota, jauh dari fasilitas kota, tidak terjamah akses internet, sepi, tidak ada event pengundang kemeriahan dan serentetan alasan bla-bla-bla yang membuat enggan berumah di lingkungan perkampungan ternyata bukan momok yang harus ditakuti dalam proses meruang dalam kampung. Sebaliknya, kampung mengagetkan saya dalam cara yang unik. Ketika melewatinya, setiap sudut, setiap pola rumah yang berjajar, setiap langkah yang terlewat menuju rumah, setiap penggal jalan dalam Kampung Kuncen ini, mampu mengingatkan dan menceritakan kembali cerita-cerita masa kecil.

Tactility Over Visuality :
Kampung Sebagai Ruang Kompak Yang Humanis

Seperti rekaman memori yang diputar kembali. Sebuah tempat dapat bercerita. Sebuah collective memory atau locus,dalam bahasa Aldo Rossi. Kampung sebagai satuan yang kompak , ternyata dapat “menyentuh” kita tidak hanya secara visual tetapi dapat pula memberi kesempatan kepada kita untuk berkenalan dengan kawasan itu secara menyeluruh, mendengar, mengingat, dan merasakan teksturnya sebagai sebuah ruang arsitektur. Sesuatu yang sangat jarang kita dapatkan pada bangunan-bangunan yang marak dibangun di kota-kota besar akhir-akhir ini, yang acap kali hanya memuaskan sisi visual dan fungsional saja. “The most important factor in the aesthetics of the city is not visuality but tactility.” ( Ken-Ichi-Sasaki)

The city is the people. Inilah hakekat kota sebenarnya. Seni mendesain kota tidak lain adalah bagaimana membuat manusia mau menghuninya, dan merasa bahagia di dalamnya. Richard Florida, seorang peneliti menegaskan, “place plays a fundamental role in our endeavors to be happy”. Kita seharusnya berterima kasih kepada kampung. Kampung mampu meng-embrace berbagai lapisan penghuninya.

Gap antara si kaya dan si miskin nyaris tak terdengar di sini. Baik si kaya maupun si miskin merelakan tanahnya dipotong lalu difungsikan sebagai jalan rukunan yang menghubungkan setiap rumah. Tak jarang si kaya mempersilakan para warga lain untuk memanfaatkan sebagian luas rumahnya sebagai area yang terbuka untuk publik, seperti langgar untuk sholat tarawih ketika Ramadan tiba, atau sekedar tempat bermain anak-anak sekitar. Keberadaan balai warga juga merupakan elemen penting yang dipahami bersama. Balai warga atau apapun namanya menjadi jantung kampung, dimana warga dapat melampiaskan hasrat berdemokrasi mereka, berkreasi, berkesenian, bermasyarakat, atau bahkan hanya mengobrol ringan, menceritakan ayam Pak RT yang hilang. Proses pembangunan fisik dalam kampung pun melibatkan warganya secara demokratis. Suara masyarakat lah yang didengar. Inilah pembangunan yang humanis. Di dalam kampung, arsitektur tidak lagi dilihat sebagai barang mewah, tetapi diinterpretasikan secara bersama sebagai bagian dari proses kehidupan, arsitektur telah menyentuh sudut-sudut warganya dan memberi makna.

It’s getting cold again over here and always when it does I start thinking about how to warm up architecture, how to make it lodge around us, after all people buy clothes and shoes the right size and know when the fit feels good. It’s time we invented the built thing that fits them (Aldo Van Eyck). Dan kampung telah mampu menjawabnya.

Inilah fenomena dalam kampung yang anehnya memancing kegelisahan saya akhir-akhir ini. Ya! Dalam hirupan udara segar pagi di kampung tempat tinggal saat ini, dalam sapaan ramah tetangga yang hendak berangkat ke pasar saat saya mulai membuka pintu rumah, dalam gelak tawa anak-anak kecil yang asyik mengejar layang-layang putus di halaman rumah saya, dalam setiap obrolan ringan kreatif anak-anak muda di bawah pohon di tepian gang, acap terbersit gelisah. Gelisah, membayangkan hal-hal manusiawi tersebut bertahan tidak lama lagi, tergerus arus pembangunan kota yang pesat, didominasi bangunan-bangunan tinggi komersial atas dasar permintaan market, yang angkuh yang kurang memberi makna sebenarnya dalam proses meruang manusia di dalamnya. Gelisah, membayangkan posisi kampung sebagai human settlement yang mandiri dalam kota tergeser oleh hadirnya apartemen-apartemen menjulang yang berkiblat pada pembangunan kota ala Jakarta. Gelisah, membayangkan kota Yogyakarta menjelma menjadi rintisan kota Jakarta yang hiruk pikuk membangun tapi tidak memberikan konstribusi pada esensi kota sebenarnya yaitu manusia. Sebagai bukti adalah tidak adanya rasio yang seimbang antara jumlah bangunan tinggi yang ada dengan jumlah public spaces yang ditawarkan sebagai tempat proses berdemokrasi dan berkreasi warganya. Berbicara tentang kota juga berbicara tentang manusia, mungkin inilah yang acap kali dilupakan oleh pembangunan kota yang setipe dengan Jakarta.

Kampung As Identity and Unique Feature in City

Kota Yogyakarta merupakan cikal bakal kota Mataram Islam pada masanya. Kota ini dibentuk dengan dasar sistem pemusatan yang berkiblat pada pendekatan perancangan Theosentris. Di mana unsur kerajaan dan agama menjadi begitu sentral dalam perkembangan kota. Inilah yang menjadikannya sebagai kota tradisional. Pusat kota terdiri dari elemen utama 1) keraton sebagai pusat pemerintahan, 2) masjid sebagai sentral fungsi peribadatan, 3) pasar sebagai penggerak sektor ekonomi, dan 4) alun-alun sebagai wadah berdemokrasi dan berkesenian rakyatnya. Sebuah perancangan yang kompak, menempatkan dengan benar dan bersahaja tiap-tiap motor penggerak kotanya.

Lalu dimana letak permukiman rakyatnya? Permukiman tumbuh berkembang secara bertahap mengelilingi pusat kotanya. Inilah cikal bakal kampung di kota ini. Setiap kelompok permukiman mempunyai ciri khas tersendiri yang kemudian biasanya menjadi dasar terbentuknya dan penamaan kampungnya pula. Misal, Kampung Kauman, diberi nama demikian karena Kauman berarti Kaum, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa kampung ini adalah kampung para kaum atau ulama yang tinggal berdekatan dengan Masjid Gedhe. Contoh lain lagi, Kampung Gamelan. Gamelan berasal dari kata Gamel yaitu alat musik tradisional Jawa. Nama Gamelan diberikan kepada kampung tersebut dengan dasar bahwa mayoritas penghuninya menggeluti profesi sebagai penabuh gamel.

Perluasan kota hari ini yang eksplosif, proses integrasi secara politis, ekonomis, dan administratif, juga proses heterogenisasi struktur sosial kampung dengan banyaknya jumlah pendatang, sebenarnya berhadapan dengan apa yang Jo Santoso sebut sebagai “kekenyalan teritorial kampung” ditilik dari cakupan ruang kota. Kampung hari ini, tetap merupakan bagian vital dari kota. Kampung hari ini umumnya masih bisa mempertahankan value wilayah mereka. Satuan kampung sekarang menjadi kuarter urban yang heterogen, baik secara demografis maupun ekonomis. Bentuk organisasi sosial dan cara hidup dalam kampung juga disesuaikan dengan perubahan kondisi kota, dimana arus urbanisasi makin marak. Dalam proses penyesuaian ini, norma tradisional dalam kampung ternyata masih bisa bertahan. Dengan demikian, kampung memberikan keunikan warna dan identitas tersendiri bagi kota, baik secara fisik maupun non fisik. Keberadaan kampung yang vital ini sepantasnya diperhitungkan dalam pengembangan urbanitas.

Kampung Oriented Development :
Kontinuitas Kultural dalam Kehidupan Ber-kota

Imagining Yogyakarta, terkait dengan era globalisasi, dihadapkan dengan pertanyaan mendasar, pembangunan macam apakah yang cocok untuk kota ini? Apakah kota ini akan bersolek dengan pembangunan fisik yang extravaganza dalam pemenuhan kebutuhan modernitasnya, dan sudah siapkah Yogyakarta dalam hal ini?

Dalam kehidupan ber-urban, masyarakat kota membutuhkan adanya kontinuitas antara masa kini dan masa lalu. Harus ada semacam benang merah dalam pembangunan kotanya sebagai tempat berorientasi penghuninya, apalagi jika yang diperbincangkan adalah kota Yogyakarta, sebuah kota tradisional yang sarat dengan kekayaan sejarahnya. Dalam bukunya, Jo Santoso (Menyiasati Kota Tanpa Warga) menyebutkan bahwa arsitek kolonial seperti Thomas Karsten dan teman-teman seperjuangannya telah gagal mentransformasi bentuk kota tradisional-kolonial menjadi kota tropis yang modern. Hasil karya mereka, yang mayoritas permukiman kolonial telah digilas oleh bangunan-bangunan angkuh karya developer yang kurang paham akan esensi kota.

Selama pembangunan kota modern hanya diaplikasikan dengan maraknya pembangunan fisik bangunan megah nan mengumbar visualitasnya, tetapi tidak diiringi oleh legalitas yang melindungi ruang kota dari keserakahan bangunan-bangunan tersebut, serta kesadaran yang cukup bahwa pembangunan kota modern tidak hanya berbicara tentang kualitas perkonomian, tetapi juga kualitas human settlement, maka pembangunan tersebut masih gagal mencapai esensi terdasar kota yaitu kualitas hidup warganya. Fenomena inilah yang sedang terjadi pada kota Jakarta, kota yang unsustainable, menurut Ridwan Kamil. Jika Yogyakarta tidak berhati-hati merencanakan pengembangannya dan memilih “bersolek” mempercantik tampilan luar kotanya, maka tidak mustahil jika di kemudian hari Yogyakarta menjelma menjadi Jakarta. Aduh!,amit-amit.

Lalu pembangunan seperti apa yang perlu dikembangkan? Kiranya, modernisasi kota dengan berbasis pada tipologi kampung (sebagai quarter) merupakan alternatif yang layak diperhitungkan dalam pembangunan kota Yogyakarta di saat ini.Ya! Sudah saatnya Yogyakarta memanfaatkan warisan leluhurnya sendiri. Kota Yogyakarta telah dianugerahi bentuk arsitektur kampung dalam kota yang merupakan integrated area mencakup fungsi hunian, tempat bekerja, dan bersosialisasi. Analoginya, kampung seperti superblok yang vernakular, walaupun dalam bentuk jejeran rumah yang sederhana tetapi memiliki fungsi mixed-uses, sebuah area yang mandiri.

Richard Rogers dan Anne Power dalam buku Cities for a Small Country merumuskan langkah awal untuk meningkatkan kualitas blok (=kampung dianalogikan sebagai blok) dalam kota adalah:

1) plan of action based on existing communities and clusters of activity
kualitas dalam kampung dapat ditingkatkan dengan menghidupkan kembali aktivitas warga di dalamnya. Misal memberdayakan warga untuk bersama-sama mendirikan sentra kerajinan gerabah sesuai potensi yang dimiliki untuk menggiatkan sektor ekonomi dalam kampung. Mendengarkan suara warga adalah bagian dari proses pembangunan yang humanis.

2) build intensively on core of neighbourhood vitality
membangun atau meningkatkan kualitas infrastruktur kampung seperti sekolah dilengkapi fasilitas internet, tempat beribadah, ataupun pasar sebagai pusat perdagangan.Tidak harus dalam bentuk bangunan yang modern, tetapi mampu menjawab tuntutan globalisasi.

3) create a secure, cared for environment
lingkungan yang aman, terkontrol, dan jauh dari kriminalitas menciptakan kualitas human settlement yang lebih baik.

Kita perlu berterima kasih kepada Romo Mangun yang telah meninggalkan contoh revitalisasi Kampung Code Gondolayu yang baik. Penataan kawasan tersebut dari yang semula kumuh menjadi kawasan yang tertata apik, lengkap dengan pembangunan bangunan serbaguna sebagai community centre yang berfungsi untuk ruang pertemuan warga, ruang belajar, dan perpustakaan. Selain itu disediakan pula ruang terbuka sebagai community space untuk area bermain anak-anak dan sosialisasi antar penduduk. Pembangunan fisik ini telah terbukti dapat memodernisasi dan meningkatkan kualitas kampung Code Gondolayu menuju lingkungan hunian yang livable.

Setelah kampung dalam kota menjelma menjadi human settlement yang telah diperbaharui dan semakin mantap dalam kemandiriannya, selanjutnya urban desain bergerak menyatukan tiap-tiap kampung dalam kota dengan infrastruktur jalan dan sarana transportasi yang baik. Linkage ini diperlukan karena pada dasarnya kota bukanlah penjumlahan matematis dari satuan permukiman daerah satuan-satuan permukiman, perkembangan kampung per kampung kemudian harus diintegrasikan dalam sebuah konsep pengembangan kota yang menyeluruh, termasuk infrastruktur yang sifatnya lebih meng-kota seperti rumah sakit, perguruan tinggi, alun-alun kota dan sebagainya. Pembangunan kota macam ini memberikan kontribusi dalam pembentukan kota modern tanpa kehilangan karakter kampung sebagai bagian dari identitas kota. Menciptakan kontinuitas kultural dalam kehidupan ber-urban karena hakekatnya “every city is rooted in a regional culture” (Richard Rogers).

Build It With Conserve It :

Antara Yogyakarta dan Dublin

Dalam survey yang diadakan BBC tahun 2003, Dublin tercatat sebagai “the best capital city in Europe to live in”. Di tahun 2007, Dublin dipredikati “the friendliest city in Europe” oleh para worldwide travellers dalam survey yang dilakukan TripAdvisor Company. Mengapa bisa menjadi demikian?

Sama halnya dengan kota Yogyakarta, Dublin bercirikan kota tradisional yang memiliki sejarah berbentuk kota kerajaan. Jika Yogyakarta memiliki tempat-tempat bersejarah seperti Keraton Kasultanan, maka kota Dublin dipenuhi dengan kastil-kastil dan bangunan tua khas Eropa bukti kejayaan kerajaan Irlandia di masanya. Alun-alun kota sebagai wadah kegiatan rakyat, juga dimiliki oleh kedua kota ini. Lalu apalagi? Ternyata kota Dublin juga terbentuk dari quarter-quarter. Sebut saja Temple Bar Area di selatan River Liffey, yang merupakan pusat nightlife dan jujugan para turis mengingatkan kita pada Kampung Prawirotaman di Yogyakarta yang juga merupakan jantung kegiatan para wisatawan asing di kota ini. Fakta lainnya, Dublin adalah pusat pendidikan di Irlandia, sama halnya Yogyakarta yang masih dipredikati Kota Pelajar hingga hari ini. Dengan kata lain, Dublin dan Yogyakarta harus siap membuka pintu bagi pendatang yang mendadak jadi penghuni tetap demi meneruskan pendidikan mereka di kedua kota ini. Ahhh, begitu banyak persamaan antara kedua kota ini.

Dublin hari ini adalah Dublin yang melanjutkan wajahnya. Alih-alih dibangun dengan pesat seperti kota-kota di Eropa yang sedang berlomba membangun dan bersolek, kota Dublin sengaja diberikan ruang untuk tumbuh dengan wajahnya yang menua. Usang tetapi bersejarah. Menyimpan sejuta makna dan memori, memberi kesempatan warganya untuk mengapresiasinya. Ini sejalan dengan visi sang walikota bahwa Dublin tidak akan menjelma menjadi New York yang memiliki Empire State atau Malaysia yang molek dengan Menara Kembar Petronasnya. Dublin tidak akan membangun yang seperti itu.

Dublin hari ini adalah Dublin yang tidak membangun. Bukan tidak mampu, hanya tidak mau. Tetapi, jangan disalah tafsirkan bahwa benar-benar tidak ada pembangunan fisik yang berarti di Dublin. Tetap ada, hanya berhati-hati dalam menjaga proporsinya. Dalam urban authoritynya, Dublin menganggarkan satu wilayah kotanya yaitu Dublin Docklands, sebagai sentra pembangunan modernnya, seperti U2 Tower, Grand Canal Square ( Martha Schwartz), Grand Canal Theatre (Libeskind). Catatan penting di sini adalah proporsi luasan development area Dublin Docklands berbanding luasan seluruh Dublin, dimana area yang dibangun jauh lebih kecil dari luasan Dublin yang tetap dipertahankan keasliannya. Hasilnya? Kota Dublin malah tumbuh menjadi kota yang unik dengan identitasnya dan “dibetahi” manusianya, tidak hanya bagi penghuni asli tetapi juga pendatang yang menuntut pendidikan di Dublin, maupun bagi wisatawan asingnya. Kota modern, livable, tetapi tidak kehilangan root-nya.

This does not mean that we cannot plan, just that we need to do it more carefully.” (Richard Rogers). Inilah yang perlu dipegang oleh kota Yogyakarta. Kita tidak boleh terjebak pada keinginan membangun kota secara extravaganza, tetapi malah mengabaikan kontinuitas kultural dan identitas kota yang dimiliki. Pilihan melanjutkan kota melalui kampung diharapkan dapat menciptakan kehidupan ber-kota yang maju, tetapi humanis dan berkepribadian.

* * * *

Footnotes:

1) daerah pusat kota, sekitar perempatan Kantor Pos Besar, Gondomanan, Yogyakakarta

2) kuncen = juru kunci, disebut demikian karena dahulu profesi yang terkenal di kampung ini adalah juru kunci pemakaman dengan area pemakaman yang luas.

Daftar Pustaka :

• Rogers, Richards & Anne Power (2000) : Cities For a Small Country, University Pres, Cambridge.

• Florida, Richard : Who’s Your City

• Santoso, Jo : Menyiasati Kota Tanpa Warga

• Rossi, Aldo (1986) : The Architecture of The City

• Kusumawijaya, Marco. (2006) : Kota rumah Kita, Borneo Publishing, Jakarta.

• Ken-Ichi-Sasaki : For Whom is City Design : Tactility Versus Visuality

• Kamil, Ridwan : The Unsustainable Jakarta, http://www.ridwankamil.wordpress.com/

• Kamil, Ridwan : Superblok Sebagai Model Kendali Pembangunan Kota, http://www.ridwankamil.wordpress.com/

• Setyawan, Wahyu : Berterimakasih Kepada Kampung, http://www.putumahendra.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Dublin

http://www.dublindocklands.ie

2 Responses to “Continuing City Through Kampong”

  1. bramantya said

    baguusss…
    Ning dijaga kesehatannya ya…!
    Semoga cepet sembuh. “syafakillahu…”

  2. andyan said

    hehehehehe..
    siap mas..siap..

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>