BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Alam Kubur BUKAN Kuburan

Posted by bramantya on December 27, 2008

Nisan (kijing) di kuburan, kenapa?

Tabur bunga di kuburan, kenapa?

Siram air di kuburan, kenapa?

Rumah (cungkup) di kuburan, kenapa?

Yasin-an, Khatam-an, kirim Al Fatihah di kuburan, kenapa?

Dan seabrek ritual semi-agama di kuburan lainnya.

Inti alasan, asal muasal, dari kegiatan diatas muaranya, ujung-ujung nya, adalah “untuk si mayit”. Pertanyaannya adalah: kemanakah ruh orang yg sudah meninggal, di kuburan kah atau di alam kubur?

Dikira nisan adalah pertanda, tetenger, yang melambangkan si mayit

Dikira bunga bisa membawa aroma wangi dan perasaan indah pada si mayit

Dikira air siraman bisa menyejukkan alam bawah tanah si mayit

Dikira rumah dengan segala pernak perniknya (keramik, lampu, hiasan, bahkan AC, dll) memberi kenyamanan bagi si mayit, bahkan sesaji dengan makanan kesukaan atau barang favorit si mayit

Dikira Yasin-an, khatam-an, baca qur’an lebih sampai karena dekatnya jarak dengan si mayit

Alasan yg sedikit lebih kacau bin ngawur, adalah dibawakan ke makna konotasi, perumpamaan dan simboliknya. Nisan perlambang ini dan itu, bunga maknanya begini dan begitu, siraman air hikmahnya…bla..bla..bla.. dan seterusnya. Diterimakah alasan maknawi-super takwil seperti ini?

Paling banter, dibawakan ke alasan BUDAYA, bahwa orang-orang tua, nenek moyang sudah begini amalannya, kita sekedar menghormati nguri-uri kebudayaan mereka, warisan luhur. Maka apa bedanya dengan alasan non-muslim jaman Rasulullah dahulu (sejak Nuh ‘Alaihissalam hingga Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam): kami hanyalah berbuat sesuai kebiasaan/tradisi bapak-moyang kami.

Bahkan ada yg nyeletuk “kita ini lebih khusyuk kalo berdoa di kuburan”. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Kemana fungsi Masjid-baitullah saat ini? Dimana sungguh mulia para pe-makmur-nya. Kemanakah petunjuk Rasulullah untuk menghidupkan/menyemarakkan rumah kita masing-masing dengan ibadah-ibadah? Agar supaya rumah kita TIDAK seperti kuburan.

Padahal ruh orang yang sudah meninggal berpindah ke alam kubur (barzakh). Bukan di kuburan.

Kemanakah perginya ruh para korban yg tidak ditemukan jasadnya dan tidak dikuburkan? (misal kecelakan pesawat hilang, tsunami, gempa bumi, perang). Kemanakah para keluarganya pergi jika ingin bangun nisan, tabur bunga, siram air, dan seabrek ritual semi-agama lainnya? Keciaan deh mereka tidak bisa dikirimi air, bunga, yasin maupun al fatihah karena tidak punya kuburan.

Al hasil, “dalil aqli” maupun “naqli” yang dikemukakan para penghormat kuburan layak untuk kita kritisi dan tinjau ulang, untuk diselaraskan dan diganti dengan tuntunan Islam yg shahih sesuai penjelasan pendahulu kita yg shalih.

Tulisan singkat nan sempit ini hanyalah sekedar mengetuk fitrah dan akal sehat pembaca. Untuk bahasan ilmiyah lagi berhujjah kuat, silakan merujuk kepada buku-buku fiqh dan hadits para Ulama Islam, diantaranya adalah: Ahkamul janaaiz, Muhammad Nashiruddin Al Albaniy. Yang sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya.

Wallahu a’lam

BRAMANTYA

4 Responses to “Alam Kubur BUKAN Kuburan”

  1. Asep Muhajir said

    Saya setuju dengan pendapat Anda. Memang kekeliruan ini sampai saat ini masih sering kita lihat pada masyarakat kita. Pertanyaan Anda yang ini “Kemanakah perginya ruh para korban yg tidak ditemukan jasadnya dan tidak dikuburkan? (misal kecelakan pesawat hilang, tsunami, gempa bumi, perang).” sangat tepat untuk disampaikan pada orang yang meyakini (baca: memahami menurut akalnya) bahwa alam kubur = kuburan.

    • bramantya said

      terimakasih kunjungannya mas asep
      memang terkadang pemahaman alam kubur = kuburan perlu diuraikan dari berbagai sisi, orang jaman kini masih banyak yg “ngeyel-an”, sementara dalil qur’an dan hadits sedemikian terang benderang.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>